Setelah menelusuri sisi historis Loji Gandrung, perjalanan berlanjut ke sektor kuliner yang menjadi daya tarik utama Kota Solo. Respati Ardi menegaskan bahwa Solo adalah surganya kuliner kambing dengan berbagai mazhab pengolahan, mulai dari tongseng, sate bakar, hingga sate goreng mentega. Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Warung Sate Kambing Mas Mardi, di mana sate goreng mentega dan sambal bawang mentah menjadi menu andalan yang wajib dicoba oleh para wisatawan. Menurut Mas Wali, pengalaman berkunjung ke Solo tidak akan lengkap tanpa mencicipi kelezatan olahan kambing khas kota ini.
Selain kuliner, penguatan sektor pariwisata Solo juga difokuskan pada pilar budaya seperti Pura Mangkunegaran. Di sana, rombongan meninjau area Pracima Tuin yang kini telah direvitalisasi menjadi area fine dining yang memadukan kuliner khas kerajaan dengan suasana taman yang asri. Mas Wali menjelaskan bahwa tempat ini menjadi sarana diplomasi kuliner budaya untuk menyambut tamu-tamu penting sekaligus menjadi destinasi estetik bagi masyarakat umum. Revitalisasi ini merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan warisan budaya tetap adaptif dengan perkembangan zaman.
Menghadapi tahun 2026, Wali Kota Respati Ardi telah menyiapkan peta jalan pariwisata yang lebih komprehensif, termasuk pengembangan Wellness Tourism dan Medical Tourism. Solo yang memiliki 21 rumah sakit akan didorong menjadi destinasi pengobatan yang dilengkapi fasilitas modern seperti imunoterapi hingga kardiologi, sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk rekreasi tetapi juga untuk perawatan kesehatan. Program ini diharapkan dapat terus meningkatkan angka kunjungan yang pada semester pertama 2025 saja sudah mencapai 3,5 juta wisatawan.
Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku budaya, dan industri kreatif, Kota Solo optimis dapat mempertahankan posisinya sebagai tujuan wisata terfavorit. Masyarakat diimbau untuk tidak hanya terpaku pada satu titik wisata, melainkan menjelajahi setiap sudut kota yang kaya akan narasi dan sejarah.