Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Maestro didong Gayo, Ceh M Din (72 Tahun), mengirimkan sebuah video yang merekam peristiwa bencana hidrometeorologi dalam balutan syair didong.
Baca juga: Banjir Menghanyutkan Rumah, Merenggut Ingatan Didong Persedia di Kute Reje
Video tersebut dibawakan bersama Ceh Mahlil, dua sosok penting dalam tradisi lisan masyarakat Gayo yang hingga kini tetap setia merawat ingatan kolektif lewat seni didong.
"Semoga karya ini bisa dinikmati sebagai rekaman peristiwa kebencanaan yang terjadi di daerah kita, " Kata M Din kepada TribunGayo.com pada Rabu (28/1/2026).
Ceh Mahlil kini berusia 82 tahun. Ia mulai bedidong sejak usia 10 tahun dan dikenal sebagai tokoh legendaris Grup Didong Winar Bujang, bersama Ceh M Din.
Grup ini berdiri pada tahun 1961 dan berasal dari Kampung Wih Nareh, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.
Selain Ceh Mahlil dan Ceh M Din, Winar Bujang pernah diperkuat oleh sejumlah ceh hebat lainnya, seperti Sulaiman, M Yunus, Bantacut, dan Uria.
Berdirinya grup ini juga tak lepas dari peran Mat Ali Aman Siti, Kepala Kampung Wih Nareh saat itu, yang dikenal sebagai pengarang didong dan pendiri Winar Bujang.
Baca juga: Aji Mude: Ketika Lumpur Menghapus Rumah di Kala Segi, Termasuk Buku Syair Didong
Nama Winar Bujang harum dalam dunia seni pertunjukan Gayo, bukan hanya karena kualitas sastra dan performanya, tetapi juga karena kisah-kisah unik yang menyertainya.
Salah satu cerita yang kerap dikenang adalah keterlibatan preman terminal Takengon sebagai penepok dalam pertunjukan didong jalu.
“Waktu itu Winar tidak punya penepok. Hanya ada ceh. Karena itu saya ajak kawan-kawan dari terminal untuk ikut bergabung. Ternyata mereka sangat antusias,” kenang Ceh Mahlil suatu ketika.
Melalui video terbaru ini, Ceh M Din dan Ceh Mahlil kembali menegaskan bahwa didong adalah perpustakaan hidup.
Di dalamnya tersimpan berbagai peristiwa penting masyarakat Gayo termasuk musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 26 November 2025 lalu yang diabadikan bukan lewat arsip tertulis, melainkan melalui syair, irama, dan ingatan kolektif.
Didong, bagi masyarakat Gayo, bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan cara merawat sejarah, menafsir bencana dan menyampaikan pesan kemanusiaan lintas generasi. (*)
Baca juga: Iwan Bintang dan R2 Rilis Single “Hana Keber”, Syair Didong tentang Luka Alam Gayo