TRIBUNMANADO.CO.ID - Emas perhoads menjadi salah satu komoditas pendorong inflasi di Sulawesi Utara khususnya di Kota Manado pada tahun 2025.
Hal ini ini tak sebagaimana lazimnya di Sulawesi Utara. Belajar dari historis, inflasi Sulawesi Utara selalu dipicu oleh komoditas pangan.
Komoditas itu, terutama 'barito': bawang, rica, tomat, beras, aneka ikan laut dan daging babi.
Tahun 2025 menjadi pengecualian, gejolak harga emas yang terus naik sepanjang tahun memberi kontribusi pada inflasi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara, Joko Supratikto, inflasi Sulut pada tahun 2025 tercatat 1,23 persen year on year (YoY).
Baca juga: Sulut Kirim 20 Kuda Terbaik Ikuti Kejurnas Pacuan Kuda Bantul dan Indonesia Derby Seri 1 Pangandaran
"Angka tersebut berada di bawah rentang sasaran inflasi nasional yang sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Inflasi Sulut tahun 2025 merupakan yang terendah di seluruh provinsi," kata Joko dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) di Ruang Tondano, Gedung BI Sulut, Jalan 17 Agustus, Manado, Rabu (28/1/2026).
Khusus di Manado, emas perhiasan menjadi komoditas pertama pendorong inflasi.
"Hal ini seiring kenaikan harga emas global yang konstan sepanjang tahun lalu," ujar Joko.
Per Rabu 28 Januari, harga emas (logam mulia) telah menyentuh angka Rp 2,9 juta per kilogram.
Selanjutnya, komoditas lain yang menjadi pendorong inflasi di Sulawesi Utara sepanjang tahun lalu ialah biaya kuliah, beras, ikan Malalugis, rokok, tomat, telepon seluler hingga minyak goreng.
"Ada yang menarik juga, daging babi yang selama ini jadi pendorong, justru tahun lalu menahan inflasi. Ini karena adanya pemulihan stok daging babi setelah adanya pandemi ASF," jelasnya.
Terkait itu, Joko memastikan, BI menjadikan pengendalian inflasi sebagai salah satu upaya untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan harga emas yang terus berlangsung, BI tetap fokus pada pengendalian harga komoditas bahan pangan yang selama ini mendorong inflasi.
"Kita akan terus memberi perhatian pada komoditas holtikultura, barito, beras, ikan-ikan dan lainnya. Memang inflasi perlu kita jaga tapi itu juga dibutuhkan untuk memberikan insentif kepada petani dan pelaku usaha lainnya," jelas Joko yang didampingi Deputi Direktur BI Sulut, Renold Asri. (ndo)
-
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini