Tiga Syarat AS ke Iran Kalau Teheran Tak Mau Dibombardir: Putus Dukungan Buat Hamas-Hizbullah-Houthi
January 29, 2026 06:35 PM

Tiga Syarat AS ke Iran Kalau Teheran Tak Mau Dibombardir: Putus Dukungan Buat Hamas-Hizbullah-Houthi  

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump secara tajam meningkatkan ancamannya terhadap Iran pada Rabu (25/1/2026).

Trump mengisyaratkan, jika Teheran tidak menyetujui serangkaian syarat yang diajukan oleh pemerintahannya kepada para pemimpin negara itu, ia segera melancarkan serangan "dengan cepat dan keras."

Baca juga: 7 Skenario Jika Amerika Serang Iran, Teheran Bisa Runtuh atau Membalas

Ancaman Trump untuk melakukan serangan langsung kedua terhadap Iran oleh pasukan AS dalam delapan bulan terakhir muncul pada saat kapal induk USS Abraham Lincoln, bersama strike group-nya, termasuk kapal-kapal angkatan laut, pesawat pembom, dan jet tempur, telah mengambil posisi di wilayah tersebut dalam jarak dekat dengan negara itu.

Trump secara eksplisit membandingkan peningkatan kekuatan militer ini dengan pasukan yang ia kumpulkan di dekat Venezuela akhir tahun lalu, tepat sebelum operasi yang menyebabkan penangkapan Nicolas Maduro dan istrinya pada tengah malam di awal Januari.

Tiga Syarat AS ke Iran

Tuntutan pemerintahan AS, seperti yang diuraikan oleh Trump, belum dirinci dalam pernyataan si presiden.

Trump hanya menyebutkan kalau "armada besar" sedang dalam perjalanan ke Iran dan negara itu harus mau meneken kesepakatan. 

Namun, para pejabat AS dan Eropa mengatakan mereka telah menyampaikan tiga tuntutan kepada Iran dalam pembicaraan tersebut:

  • Pertama, penghentian permanen semua pengayaan uranium.
  • Kedua, pembatasan jangkauan dan jumlah rudal balistik Iran
  • Ketiga, penghentian semua dukungan untuk kelompok proksi Teheran di Timur Tengah, termasuk Hamas, Hizbullah, dan Houthi di Yaman.

Tidak ada penyebutan sama sekali syarat tentang perlindungan terhadap para demonstran yang turun ke jalan di Iran pada Desember, yang mengguncang negara itu dan menciptakan krisis terbaru bagi pemerintahnya.

Ini menjadi kontras yang sangat mencolok karena Trump awalnya berdalih melindungi para demonstran Iran saat pertama kali mengancam mau menyerang Iran.

"Terlepas dari janji Trump sebelumnya di media sosial untuk membantu para demonstran Iran, ia hampir tidak menyebutkan mereka dalam beberapa minggu terakhir," ulas tulisan Khaberni, Kamis (26/1/2026).

Iran mengatakan jumlah korban tewas dalam kerusuhan yang dipicu demonstrasi massal itu adalah 3.117, tetapi kelompok hak asasi manusia berpendapat kalau angka ini jauh lebih rendah dari angka sebenarnya, dengan perkiraan berkisar antara 3.400 hingga 6.200.

Trump tampaknya semakin berani setelah keberhasilan awalnya di Venezuela dan jelas menggunakan ancaman "pemenggalan kepala" untuk mengintimidasi kepemimpinan rezim Iran saat ini beserta kekuatan militer Iran dalam Pasukan Garda Revolusi. 

KAPAL INDUK AS - Foto yang dirilis situs resmi Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) memperlihatkan kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) melakukan latihan putaran kecepatan tinggi di Samudra Atlantik selama uji coba laut di Samudra Atlantik, 11 Mei 2017.
KAPAL INDUK AS - Foto yang dirilis situs resmi Angkatan Laut Amerika Serikat (U.S. Navy) memperlihatkan kapal induk kelas Nimitz USS Abraham Lincoln (CVN 72) melakukan latihan putaran kecepatan tinggi di Samudra Atlantik selama uji coba laut di Samudra Atlantik, 11 Mei 2017. (US Navy)

Rezim Iran di Titik Terlemah

Terbukanya jalur komunikasi Iran dengan negara lain baru-baru ini telah mengungkapkan kerapuhan rezim Iran.

Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi harus meminta izin untuk berbicara dengan Steve Wittkopf, utusan khusus Trump, dan pada akhirnya harus memberikan jaminan melalui pihak ketiga bahwa Iran tidak berencana melakukan eksekusi terhadap para demonstran dalam waktu dekat.

Permintaan izin "menghadap" ini mengingat ketidakmampuannya untuk berkomunikasi langsung dengan Amerika Serikat.

Sementara itu, Araqchi mengatakan kepada wartawan di Teheran pada hari Rabu bahwa Iran belum meminta pertemuan dengan Amerika Serikat, menekankan bahwa "diplomasi tidak dapat efektif melalui ancaman militer."

Ia memperingatkan bahwa konfrontasi skala penuh apa pun akan "kacau, brutal, dan akan berlangsung jauh lebih lama daripada jangka waktu fantastis yang dipromosikan oleh Israel."

Di Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan kepada para anggota parlemen kalau peningkatan kekuatan militer terutama bersifat defensif untuk melindungi pasukan AS, tetapi mencatat bahwa pasukan tersebut juga dapat "bergerak secara preemptif."

Laporan menunjukkan bahwa negosiasi belum mengalami kemajuan, dan para pengamat meyakini bahwa tuntutan Trump akan semakin melemahkan kekuatan Iran yang sudah melemah setelah perang 12 hari dengan Israel Juni lalu, yang berakhir dengan serangan udara AS terhadap tiga situs nuklir utama Iran (Natanz, Fordow, dan Isfahan). 

Meskipun Trump mengklaim program nuklir Iran telah "dihapus," Strategi Keamanan Nasional Iran menunjukkan kalau program tersebut hanya "mengalami penurunan yang signifikan."

 

 

(oln/khbrn/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.