Rentetan Masalah MBG di Sulbar, dari Keracunan hingga Sekolah Terima Nasi Basi
January 30, 2026 02:47 PM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Polemik makan bergizi gratis kian menjadi sorotan publik.

Kasus keruacunan makanan dari program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini makin bertambah di sejumlah daerah.

Tak terkecuali di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Sejak program ini berjalan pada awal tahun 2025 lalu, kasus kerucunan terjadi di sejumlah tempat.

Baca juga: Viral Menu MBG Basi Ditemukan di SDN 060 Mampie Polman, SPPG Tarik Penyaluran

Baca juga: MBG Sebabkan Siswa, Guru, Balita, dan Bumil di Majene Keracunan Positif E. coli dan Staphylococcus

Salah satunya di Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menimpa 27 pelajar SMP dan SD.

Hasil uji lab terhadap sampel makanan dari MBG yang dikonsumsi para siswa, positif berbakteri.

Hasil uji BPOM Mamuju, menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada nasi yang dikonsumsi siswa.

Kadis Kesehatan Mamuju dr. Sita Harit Ibrahim menjelaskan, bakteri tersebut berpotensi menghasilkan racun yang dapat menimbulkan gejala keracunan, terutama bila proses pemasakan nasi tidak sempurna.

Dinkes Mamuju juga menemukan masalah pada pengelolaan dapur MBG yang mensuplay makanan kepada para siswa.

Di Kalukku, Mamuju, 25 siswa menjadi korban, terdiri dari 23 perempuan dan 2 laki-laki, menjadi korban dugaan keracunan menu MBG.

Dugaan keracunan bermula saat para siswa mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sinyonyoi sekitar pukul 11.45 WITA.

Baca juga: Dinkes Sulbar Investigasi Dugaan Keracunan Pangan Makanan MBG di Kalukku Mamuju

Tak lama setelah itu, sejumlah siswa mengalami gejala seperti sakit perut, mual, muntah, dan buang air besar encer.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Tampa Padang melakukan penanganan cepat.

Sebanyak 25 siswa mendapatkan perawatan, 12 diantaranya masih dalam observasi intensif di puskesmas.

KERACUNAN MAKANAN - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat investigasi dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Rabu (23/10/2025)
KERACUNAN MAKANAN - Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat investigasi dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulbar, Rabu (23/10/2025) (HUMAS PEMPROV SULBAR)

Sementara 13 lainnya telah pulih dan diperbolehkan kembali ke pondok pesantren.

Terbaru, sebanyak 61 guru, staf, siswa, balita dan ibu hamil menjadi korban keracunan MBG di Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, dari 61 korban di Majene,  terdiri dari 28 balita, 22 siswa sekolah, 5 ibu hamil/menyusui, serta 6 guru dan staf.

Keracunan MBG – Dua siswi SMPN 1 Tapalang yang diduga keracunan makanan program MBG dirawat di Puskesmas Tapalang, Kabupaten Mamuju, Rabu (24/9/2025). Keduanya mengalami sesak napas dan merupakan bagian dari total 13 korban. (Suandi/Tribun)
Keracunan MBG – Dua siswi SMPN 1 Tapalang yang diduga keracunan makanan program MBG dirawat di Puskesmas Tapalang, Kabupaten Mamuju, Rabu (24/9/2025). Keduanya mengalami sesak napas dan merupakan bagian dari total 13 korban. (Suandi/Tribun) (Suandi/Tribun-Sulbar.com)

Kasus ini bermula saat paket makanan berisi nasi, sayur sop, ayam suwir, dan mi kecap disalurkan ke tujuh desa di wilayah Tubo, Sendana, dan Onang pada Senin (12/1/2026).

Tak lama setelah mengonsumsi makanan tersebut, warga mengeluhkan mual, muntah, hingga diare hebat.

Tim Gerak Cepat (TGC) Dinas Kesehatan Sulbar, Anwar, menjelaskan berdasarkan hasil uji sampel terhadap menu makanan dibagikan, ditemukan dua jenis bakteri utama, yakni Staphylococcus aureus dan Escherichia coli (E. coli).

"Ditemukan angka Staphylococcus aureus pada sampel mi ayam suwir, serta bakteri E. coli pada sampel sup yang melebihi persyaratan. Secara aturan, bakteri E. coli ini seharusnya tidak boleh ada dalam makanan siap saji," jelas Anwar saat ditemui di Dinkes Sulbar, Kompleks Perkantoran Gubernur, Kamis (29/1/2026).

Staphylococcus aureus (Si Bakteri Kontaminasi Tangan)

Bakteri ini sebenarnya sangat umum ditemukan pada kulit atau hidung manusia yang sehat.

Namun, bakteri tersebut menjadi berbahaya jika masuk ke dalam makanan dan berkembang biak.

Biasanya terjadi akibat kontaminasi silang dari tangan pengolah makanan yang tidak bersih, seperti tidak mencuci tangan atau memiliki luka terbuka saat memasak.

KERACUNAN MBG - Korban keracunan MBG yang dirawat di Puskesmas Sendana II, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Selasa (13/1/2026).
KERACUNAN MBG - Korban keracunan MBG yang dirawat di Puskesmas Sendana II, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, Selasa (13/1/2026). (Tribun-Sulbar.com/Dinkes Sulbar)

Bakteri ini memproduksi toksin (racun) saat makanan dibiarkan pada suhu ruangan.

Uniknya, racun tersebut tahan panas, sehingga meskipun makanan dipanaskan kembali, racunnya tetap aktif.

Gejalanya sangat cepat bereaksi. Dalam waktu 30 menit hingga 6 jam setelah makan, penderita biasanya mengalami mual hebat, muntah, dan kram perut.

Escherichia coli (E. coli)

E. coli adalah bakteri yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan.

Sebagian besar jenisnya tidak berbahaya, namun jenis tertentu—seperti yang ditemukan pada kasus Majene—dapat menyebabkan infeksi serius.

Keberadaan E. coli pada makanan merupakan indikator kuat adanya kontaminasi feses atau sanitasi air yang buruk.

Kontaminasi dapat berasal dari air cucian yang tidak bersih, tangan yang tidak dicuci setelah dari toilet, atau lingkungan dapur yang dekat dengan tempat sampah maupun saluran pembuangan.

Bakteri ini menyerang dinding usus dan menghasilkan racun yang memicu peradangan.

Gejala biasanya muncul 1–3 hari setelah konsumsi makanan, ditandai dengan diare (sering kali cair atau berdarah), nyeri perut hebat, dan demam ringan.

SDN 060 Mampie Polman Terima MBG Basi

Viral di media sosial video menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga basi ditemukan di SDN 060 Mampie Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (30/1/2026).

Video itu viral usai sempat di unggah salah satu guru sekolah, pada Kamis (29/1/2026) kemarin.

Dalam video guru sekolah memperlihatkan menu pentolan bakso lembek, diduga basi dan berbau.

Serta perekam video ini menyebutkan, menu MBG tersebut basi dan dikembalikan ke pihak dapur.

Saat ditelusuri, penemuan menu MBG basi ini memang terjadi di SDN 060 Mampie, Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo.

Kepala SDN 060 Mampie, Marhaban menyebut menu MBG itu basi dan tidak sempat dibagikan.

"Informasi awalnya itu ditelpon dari pihak SPPG jika ada ditemukan menu MBG basi di sekolah lain," kata Marhaban kepada wartawan.

Dia mengaku setelah mendapat informasi itu, pihak guru langsung mengecek menu MBG sebelum disalurkan.

BAKSO MBG- Viral di media sosial video menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) diduga basi ditemukan di SDN 060 Mampie Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), Jumat (30/1/2026). (Istemewa)

Karena ditemukan menu bakso yang basi, Marhaban bersama pihak SPPG sepakat mengembalikan ompreng MBG itu.

Sehingga 128 ompreng MBG tidak jadi dibagikan kepada siswa di SDN 060 Mampie pada Kamis (29/1/2026) kemarin.

"Harapannya kita pihak sekolah agar pihak SPPG mengevaluasi menu makanan, agar kejadian serupa tidak lagi terjadi," ungkap Marhaban.

Sementara itu, Kepala SPPG Campurjo II Polman, Muh Fadil menyampaikan kronologi ditemukannya ompreng menu MBG diduga basi.

Fadil menyampaikan awalnya laporan itu diterima dari pihak sekolah SDN 031 Tumpiling adanya menu dalam ompreng diduga berubah bentuk dan aroma.

"Sehingga kita hentikan penyaluran ompreng yang ditemukan berubah aromanya atau diduga basi," ungkap Fadil.

Dia menyampaikan tidak semua ompreng menu MBG berubah rasa dan aroma atau diduga basi di SDN 031 Tumpiling.

Beberapa ompreng yang masih terjamin higenis tetap disalurkan kepada murid di SDN 031 Tumpiling.

Baca juga: Sejumlah Dapur MBG di Polman Diduga Tak Miliki IPAL, DLHK Ngaku Tak Dilibatkan Penerbitan Izin SLHS

Sementara di SDN 060 Mampie, penyaluran menu MBG langsung ditarik dan tidak jadi disalurkan ke penerima manfaat.

"Ternyata di SDN 060 Mampie juga ditemukan adanya menu dalam ompreng sudah berubah aromanya, jadi kita tidak salurkan," ungkapnya.

Fadil menyebut hanya ada beberapa ompreng MBG di SDN 060 Mampie yang sudah berubah aromanya.

Namun karena kesepakatan dengan pihak sekolah, sehingga seluruh ompreng tidak jadi dibagikan kepada penerima manfaat.

Fadil menduga penyebab menu bakso yang basi karena pada saat dikemas dalam ompreng masih cukup panas.

Dia berjanji akan mengevaluasi menu makanan hingga penyajian menu agar kejadian serupa tidak lagi terulang.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.