BANGKAPOS.COM – Inilah yang menjadi alasan rinci Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan ini dijelaskan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo dalam Pengajian Tarjih pada Rabu (28/1/2026).
Dijelaskannya, penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menekankan keseragaman hari dan tanggal di seluruh dunia.
Menurutnya, KHGT dibangun di atas prinsip one day, one date globally—satu hari satu tanggal untuk seluruh bumi.
Rahmadi menjelaskan, prinsip ini hanya mungkin terwujud jika bumi dipandang sebagai satu kesatuan matla’ (ittihadul mathali’) tanpa pembagian zona regional, namun tetap mengikuti garis tanggal internasional.
“Kalau bumi dibagi ke dalam zona-zona penanggalan, maka tidak mungkin terjadi keseragaman hari dan tanggal,” jelasnya.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa Ramadhan 2026, Tinggal Berapa Hari Lagi? Cek Jadwal Penetapan Awal Puasa Berikut
Ia menegaskan, kalender hanya bisa disusun dengan metode hisab (perhitungan astronomi). Sementara rukyah, menurutnya, hanya mampu memastikan satu bulan ke depan dan tidak dapat membangun sistem kalender jangka panjang.
Berdasarkan keputusan Majelis Tarjih, awal bulan baru ditetapkan serentak apabila sebelum pukul 24.00 GMT terdapat wilayah daratan yang memenuhi dua syarat:
Jika syarat utama ini belum terpenuhi, digunakan parameter lanjutan yang bersifat global.
Rahmadi memaparkan, konjungsi bulan (ijtimak) terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 12:01:09 GMT. Namun hingga pukul 24.00 GMT, belum ada wilayah yang memenuhi syarat 8 derajat dan 5 derajat.
Karena itu, digunakan parameter lanjutan:
1. Ijtimak harus terjadi di New Zealand sebelum fajar, karena wilayah ini termasuk yang paling awal menyambut hari baru.
2. Pada saat yang sama, parameter 8° dan 5° harus terpenuhi di daratan benua Amerika.
Di Selandia Baru, konjungsi terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari waktu setempat (UTC+13), sebelum fajar. Syarat pertama terpenuhi.
Sementara di wilayah Bethel, Alaska, hasil perhitungan geosentrik menunjukkan elongasi sudah melampaui 8 derajat dan ketinggian hilal di atas 5 derajat.
“Meski wilayahnya kecil dan penduduknya sedikit, tetap sah karena acuannya adalah daratan, bukan populasi,” tegas Rahmadi.
Rahmadi menegaskan, dalam KHGT, posisi hilal di Indonesia tidak menjadi penentu.
Saat itu, hilal di Indonesia, Makkah, maupun Turki masih di bawah ufuk.
Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026, Tinggal Berapa Hari Lagi? Ini Jadwal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah
Namun karena prinsip kesatuan matla’, terpenuhinya parameter di Alaska otomatis berlaku untuk seluruh bumi.
“Kalau masih memakai wujudul hilal lokal, Indonesia memang akan memulai Ramadhan pada 19 Februari. Tetapi karena kita sudah menggunakan KHGT, maka keterpenuhan parameter di Alaska itu ditransfer secara global,” jelasnya.
Konsep ini disebut mirip dengan “transfer wujud”, namun dalam cakupan global.
Berdasarkan seluruh parameter tersebut, Majelis Tarjih PP Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Rahmadi menutup paparannya dengan doa agar umat Islam diberi umur panjang untuk menyambut dan menjalani Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
(Kompas.com/Farid Assifa/Bangkapos.com)