BMKG Ingatkan Dampak Bibit Siklon 98P terhadap Kondisi Cuaca dan Perairan di NTT 
February 04, 2026 02:36 PM

 

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Bibit Siklon Tropis 98S yang telah melemah menjadi pusat tekanan rendah berkontribusi terhadap peningkatan pembentukan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir.

Selain itu keberadaan Bibit Siklon Tropis 98S memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di wilayah Indonesia hingga 05 Februari 2026.

Berdasarkan pantauan BMKG, dampak tidak langsung bibit siklon ini berupa potensi hujan dengan intensitas sedang di Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian barat daya, Kep. Tanimbar.

Potensi angin kencang juga terjadi di Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian barat daya, Kep. Tanimbar.

 

Baca juga: Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 98P pada Cuaca di NTT, Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang

 

 

Selain kondisi cuaca, BMKG juga mengingatkan dampak gelombang tinggi 1.25 – 2.5 meter di Laut Sawu, perairan Kep. Leti – Kep. Sermata, perairan Kep. Babar – Kep. Tanimbar, perairan Kep. Kai – Kep. Aru, Samudra Hindia selatan NTT dan Laut Arafuru.

Sebelumnya, BMKG memprakirakan dalam sepekan ke depan, ada pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia. 

Selain La Nina lemah, aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Bulan Februari. 

Fenomena Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) atau aliran massa udara dingin yang melintasi ekuator juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan. 

 

Baca juga: Viral Narasi Operasi Modifikasi Cuaca Berbahaya di Medsos, Ini Penjelasan BMKG

 

Lebih jauh lagi, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Teluk Carpentaria, yang dapat membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan. 

Kombinasi antara MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di Samudra Hindia barat Jawa hingga selatan NTT, Lampung, Laut Sulu, Laut Arafura, Papua Selatan, yang berkontribusi terhadap peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di wilayah tersebut.

Melihat potensi cuaca yang masih signifikan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan mitigasi diri, keluarga, dan lingkungannya terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi, seperti genangan, banjir, banjir bandang, dan longsor.

Sumber: BMKG

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.