Tahun Ini Dana Desa Turun Drastis, Desa Semayang di Malinau Kejar Target PAD Sebesar 100 Ton Jagung
February 04, 2026 06:45 PM

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU-Pemerintah Desa Semayang di Malinau Kalimantan Utara tetap memprioritaskan pengembangan komoditas jagung sebagai tulang punggung ekonomi warga pada tahun 2026.

Meski kondisi anggaran dana desa  mengalami penurunan drastis atau "terjun bebas", sektor pertanian tetap dipacu untuk memenuhi target produksi.

Kepala Desa Semayang, Aprem menyebutkan  jagung dan padi merupakan produk unggulan yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di desanya.

"Kalau untuk jagung itu di atas 60 persen lapangan pekerjaan di desa kami, sama padi juga. Target kita tahun ini tetap 100 ton," ujar Aprem saat ditemui TribunKaltara.com, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Anggaran Dana Desa 2026, Kades di Malinau Masih Tunggu Juknis dari Peraturan Menteri Keuagan 

Pria yang akrab disapa Aprem ini menjelaskan, sebelumnya capaian produksi jagung di wilayahnya sudah hampir menyentuh angka 100 ton.

Untuk tahun 2026, fokus desa beralih dari sekadar menjual bahan mentah menuju program hilirisasi produk.

"Ke depan upaya kita buat dalam kemasan. Ada tepung jagung, biji jagung pilihan, sampai jagung kecaan (pecah)," katanya.

Aprem mengungkapkan, selama ini petani hanya menjual jagung dalam bentuk pipil atau gilingan kasar untuk pakan.

Guna mendukung rencana tersebut, pihak desa mulai membangun gerai BUMDes yang akan melayani jasa angkutan dan pemasaran hasil tani.

Baca juga: Alokasi Dana Desa 2026 di Tana Tidung Turun Jadi Rp 9,6 Miliar, Pemkab Prioritaskan Program Desa

"BUMDes nanti kerjasama dengan Posyantek. Kita gerak mandiri dulu menjawab masalah di lapangan," beber pria kelahiran 1979 ini.

Mengenai kondisi keuangan desa, Aprem tidak menampik adanya pengaruh besar akibat pemangkasan anggaran dari pusat.

"Untuk dana desa  terjun bebas dari Rp 950 juta jadi Rp 246 juta. Tapi kami tetap semangat, kita maksimalkan swadaya masyarakat dan mitra perusahaan lewat CSR," jelasnya.

Aprem yang juga seorang inovator alat Teknologi Tepat Guna (TTG) ini mengaku kerap membuat alat pertanian secara otodidak untuk membantu warga.

Meski berlatar belakang pendidikan Sarjana Teologi, bakat mekaniknya digunakan untuk menciptakan alat yang meringankan beban kerja petani di sawah dan ladang.

"Inovasi itu berawal dari hobi untuk menjawab masalah petani. Supaya pekerjaan yang berat di lapangan bisa jadi mudah," pungkasnya.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.