Dukungan Ribuan Warga Iran untuk Khamenei Tak Gentar Lawan AS
Joanita Ary February 12, 2026 11:35 PM

WARTAKOTALIVECOM — Ribuan warga Iran memadati jalan-jalan utama Teheran dalam peringatan 47 tahun Revolusi Islam, sebuah momentum tahunan yang kembali menjadi panggung konsolidasi politik dan simbol perlawanan terhadap tekanan eksternal. 

Di tengah suhu politik kawasan yang memanas, massa menyuarakan dukungan terbuka kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan menegaskan sikap tidak gentar terhadap Amerika Serikat maupun Israel.

Sejak pagi hari, lautan manusia mengalir menuju sejumlah titik pusat peringatan di ibu kota.

Mereka membawa bendera nasional, poster bergambar Ayatollah Khamenei, serta spanduk bernada anti-Amerika dan anti-Israel. 

Dalam sejumlah rekaman yang beredar, tampak sebagian peserta membakar gambar tokoh politik Amerika Serikat dan Israel, termasuk mantan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Aksi pembakaran simbol tersebut bukanlah hal baru dalam peringatan Revolusi Islam.

Namun, tahun ini atmosfernya terasa lebih tegas, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Sejumlah peserta aksi menyampaikan bahwa kehadiran mereka merupakan bentuk loyalitas terhadap Republik Islam sekaligus pesan kepada dunia luar bahwa tekanan politik dan sanksi tidak akan menggoyahkan persatuan nasional.

“Kami berdiri di belakang Ayatollah Khamenei. Kami tidak takut pada ancaman siapa pun,” ujar salah seorang peserta aksi, sebagaimana dikutip media setempat.

Pernyataan serupa disampaikan peserta lain yang menyebut bahwa bangsa Iran telah terbiasa menghadapi tekanan sejak revolusi 1979 dan akan terus mempertahankan kedaulatan negara.

Peringatan ini tidak hanya berlangsung di Teheran, tetapi juga digelar serentak di berbagai kota besar dan kecil di seluruh Iran.

Pemerintah memobilisasi partisipasi publik melalui seruan resmi, termasuk ajakan dari Presiden Masoud Pezeshkian yang pada Selasa (10/2/2026) mengimbau masyarakat untuk turun ke jalan sebagai simbol persatuan nasional.

Dalam pidatonya sebelumnya, Pezeshkian menekankan pentingnya solidaritas di tengah tantangan eksternal dan tekanan ekonomi.

Ia menyebut peringatan Revolusi Islam sebagai momen refleksi atas perjalanan panjang Republik Islam yang berdiri setelah runtuhnya monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979.

Revolusi Islam sendiri bermula dari gelombang demonstrasi besar pada 1978 yang dipicu ketidakpuasan terhadap pemerintahan Shah yang dinilai otoriter dan dekat dengan Barat.

Gerakan tersebut kemudian bermuara pada kepulangan Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan dan berdirinya Republik Islam Iran pada 1979, yang mengubah secara fundamental arah politik, sosial, dan hubungan luar negeri negara itu.

Sejak saat itu, peringatan revolusi setiap Februari menjadi ajang konsolidasi ideologis sekaligus demonstrasi dukungan terhadap sistem politik berbasis kepemimpinan ulama.

Di tengah dinamika global yang terus berubah, pesan yang hendak disampaikan tetap serupa: legitimasi pemerintahan bersandar pada dukungan rakyat dan keteguhan menghadapi tekanan asing.

Namun demikian, pengamat menilai bahwa pawai besar seperti ini juga memiliki dimensi politik domestik.

Di satu sisi, ia memperlihatkan soliditas pendukung pemerintah.

Di sisi lain, peringatan tersebut kerap menjadi panggung bagi elite untuk mempertegas narasi kedaulatan dan ketahanan nasional, terutama ketika hubungan dengan Barat kembali memanas.

Di tengah sorotan dunia terhadap perkembangan geopolitik Timur Tengah, peringatan 47 tahun Revolusi Islam Iran menjadi penegasan bahwa warisan 1979 masih hidup dalam ruang publik negara itu.

Bagi para pendukungnya, revolusi bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan identitas politik yang terus dipertahankan bahkan ketika tekanan internasional datang silih berganti.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.