Kesaksian Warga Jambi tak Bisa Pulang setelah Jadi Korban Job Scam di Kamboja
Mareza Sutan AJ February 15, 2026 09:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Andri Budi Sanjaya, korban penipuan berkedok lowongan kerja (job scam) di Kamboja, berhasil kabur dari perusahaan tempat mereka bekerja. Namun, ia tak bisa pulang.

Memang, Andri mengungkapkan bahwa dirinya telah dihubungi pihak KBRI terkait proses pemulangannya ke Indonesia.

Sebelumnya, Andri melaporkan kehilangan paspor ketika melarikan diri dari perusahaan tempat ia bekerja di Kamboja.

Ia menyebut paspornya hilang saat kabur dari perusahaan scam tersebut.

“Gak tahunya perusahaan saya memberikan paspor ke tukang masak perusahaan kami,” katanya, saat dihubungi Tribun melalui aplikasi perpesanan, Minggu (15/2/2026).

“Paspor saya itu dianggap tidak ada sama KBRI. Saya bikin laporan baru, nama saya belum muncul dalam list keberangkatan,” lanjutnya.

Dalam komunikasi tersebut, Andri menyampaikan bahwa sebagian besar korban berasal dari wilayah Medan, Sumatera Utara.

“Korban berasal dari mayoritas 80 persen orang Medan,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kondisi para WNI korban scam tergolong memprihatinkan.

Mereka tidak memiliki biaya untuk kembali ke Indonesia dan masih tertahan di Kamboja.

Andri menambahkan, hingga kini ia baru mengetahui adanya dua orang asal Jambi yang berada di Kamboja.

Namun, ia belum menemukan keberadaan warga Jambi bernama Audy Lyliana Putri di penampungan imigrasi KBRI tempat dirinya berada.

Menurut pengakuannya, masih terdapat WNI yang berada di luar penampungan, baik di hotel maupun yang kembali bekerja di perusahaan scam.

“Atas nama Audy tidak berada di penampungan, yang ada di penampungan Andri Budi Sanjaya (saya) dan Syahdi,” terangnya.

Rekaman Video di Penampungan

Andri sempat mengirimkan rekaman video suasana di lokasi penampungan.

Dalam video tersebut terlihat para WNI berbaris, sementara seorang perempuan memegang pengeras suara dan sebuah buku.

Beberapa pria tampak tidak mengenakan kaus dan hanya memakai celana pendek. Video itu ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Andri menyebut perempuan dalam video itu bernama Armaha Yarapini br Sinaga, kelahiran Binjai, dengan KTP Jakarta Timur.

Armaha diketahui bekerja sebagai juru masak di perusahaan scam yang sama dengan Andri.

“Asli orang Binjai, namun aktivitas sebelum ke Kamboja bekerja di Medan,” pungkasnya.

Dalam rekaman tersebut, Armaha menyatakan bahwa mereka adalah warga negara Indonesia yang sedang berada di penampungan di Kamboja.

"Kami meminta kepada seluruh perwakilan, dari Kementerian, Presiden, baik itu siapapun kalian, tolong bantu kami," katanya dalam video yang beredar.

Ia juga menyebut beberapa kepala daerah dalam video tersebut dan memohon pertolongan agar mereka dapat segera dipulangkan.

"Kami mohon, segera berikan kami bantuan agar kami segera pulang secepatnya ke Indonesia. Apalagi sekarang mau mendekati bulan suci Ramadan.

"Kami rindu suasana di Indonesia. Kami hanya minta, tolong diproses cepat, sgar kami bisa bekerja kembali di Indonesia. Bisa menafkahi anak-bini kami, kami harap segera keluar," kata dia.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila kalian tidak berkenan, tapi inilah kata hati kami. Betul. Kami ingin pulang. Kami rindu tanah air kami," kata dia lagi.

Kesaksian Kerabat Korban

Tribun Jambi berkesempatan mewawancarai Ibu Fauzan, kerabat sekaligus rekan dekat Andri Budi Sanjaya, warga Tanjung Pinang, Kota Jambi.

Ia menceritakan kronologi keberangkatan hingga kondisi korban saat ini.

Menurut Ibu Fauzan, Andri berangkat ke Kamboja setelah memperoleh informasi lowongan kerja dari media sosial Facebook.

Tawaran pekerjaan tersebut terdengar menjanjikan karena disebut sebagai pekerjaan di restoran dan penjaga desa.

“Awalnya Andri mendapat informasi lowongan pekerjaan dari media sosial (Facebook). Iming-imingnya adalah bekerja untuk menjaga sebuah desa dan bekerja di restoran.

"Namun sesampainya di sana, ternyata pekerjaannya tidak sesuai. Itu adalah penipuan (scam),” ungkapnya.

Selama bekerja di perusahaan tersebut, Andri hidup di bawah pengawasan ketat. Ia tidak bebas bergerak dan harus memenuhi target yang ditentukan perusahaan.

“Dia diawasi selama 24 jam penuh. Untuk tempat tidur dan makan memang disediakan, namun jika tidak bisa mencapai target perusahaan atau melanggar aturan, dia akan dihukum dan disiksa.

"Di sana penjagaan keamanannya sangat ketat, jadi tidak ada satu pun pekerja yang berani melawan,” jelas Ibu Fauzan.

Keberangkatan Andri ke luar negeri sebenarnya sudah mendapat penolakan dari keluarga dan kerabat dekat. Namun, peringatan tersebut tidak dihiraukannya.

“Saat dia pamit, suami saya, yang merupakan teman akrab Andri, sebenarnya sudah melarang keras.

"Kami sudah mengingatkan bahwa ada larangan dan bahaya bekerja di negara seperti Kamboja, Thailand, atau Vietnam karena kondisinya mengerikan. Tapi Andri tetap ngotot berangkat. Mungkin karena tergiur iming-iming gaji besar,” tuturnya.

Ibu Fauzan menyebut Andri berangkat ke Kamboja pada akhir tahun 2025 lalu dan kasus ini baru berlangsung sekitar satu bulan.

Beruntung, Andri akhirnya dapat terbebas setelah adanya operasi razia besar-besaran yang dilakukan aparat setempat.

“Alhamdulillah, sekitar seminggu yang lalu ada razia besar-besaran di sana. Berkat razia itulah dia bisa bebas dan diamankan. Kalau tidak ada razia itu, mungkin sudah tidak ada harapan hidup untuknya,” ujarnya.

Saat ini, Andri berada di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja.

Meski kondisinya dinyatakan aman, proses pemulangan ke Indonesia terkendala biaya tiket pesawat.

“Kondisinya saat ini sudah aman. Untuk makan ditanggung di KBRI sehari dua kali. Dia sudah bisa pulang, namun kendalanya adalah ongkos tiket pesawat yang harus ditanggung secara mandiri,” kata Ibu Fauzan.

Di Jambi, Andri disebut hidup sebatang kara. Ia hanya memiliki mantan istri dan tidak memiliki keluarga inti yang bisa langsung menanggung biaya kepulangannya.

“Pak Andri di Jambi ini posisinya sebatang kara, dia hanya memiliki mantan istri. Karena suami saya teman dekatnya, kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri,” ungkapnya.

Selain keterbatasan biaya, pengiriman uang pun tidak bisa dilakukan secara langsung ke rekening Andri.

“Keterbatasan kami saat ini adalah masalah finansial untuk membeli tiket pesawat. Pengiriman uang pun tidak bisa langsung ke rekening Andri, harus melalui perantara atau prosedur resmi KBRI,” tambahnya.

Melalui Tribun Jambi, pihak keluarga dan kerabat berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah serta masyarakat.

“Harapan kami saat ini adalah meminta pertolongan kepada Pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Jambi.

"Kami memohon bantuan, baik dari pemerintah maupun pihak swasta dan masyarakat Jambi, untuk membantu biaya kepulangan Pak Andri agar dia bisa kembali ke Jambi dengan selamat,” pungkas Ibu Fauzan.

 

(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto, Rifani Halim)

 

Baca juga: Mengenal Tradisi Mantai Kerbau di Merangin dalam Menyambut Ramadan

Baca juga: Tabel Angsuran KUR BSI untuk Pinjaman hingga Rp500 Juta dengan Tenor 1-4 Tahun

Baca juga: Pria di Batang Hari Ujug-Ujug Kena Pukul sampai Tersungkur Sepulang dari Kebun

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.