TRIBUNPEKANBARU.COM, PELALAWAN - Hotspot di Kabupaten Pelalawan kembali meningkat pada Kamis (26/2/2026) setelah satu pekan lebih nihil titik api atau firespot.
Sebanyak 18 titik panas terpabtau satelit BMKG Kota Pekanbaru di Pelalawan yang tersebar di dua kecamatan.
Diantaranya 16 titik di Kecamatan Teluk Meranti dan 2 titik lagi di Kecamatan Pelalawan. Jumlah hotspot kali ini terbanyak sepanjang dua pekan terakhir.
"Ada titik api muncul di Desa Gambut Mutiara Teluk Meranti. Dilaporkan sejak kemarin," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pelalawan, Zulfan M.Si kepada tribunpekanbaru.com, Kamis (26/2/2026).
Ia menyebutkan, telah berkoordinasi dengan perangkat desa setempat dan tim rayon kecamatan Teluk Meranti untuk menangani Karhutla terpantau.
Berdasarkan pantauan dari udara, titik api telah padam dan menyisakan titik asap.
Lahan yang hangus dilalap api merupakan semak belukar yang berbatasan dengan kebun kelapa sawit milik masyarakat.
"Belum ada titik api di tempat lain, selain di Gambut Mutiara. Mudah-mudahan segera tuntas dan tidak meluas," papar Zulfan.
Baca juga: Terdeteksi Sipongi, Hari Ini Dua Titik Api Kembali Muncul di Rohil
Baca juga: Penanganan Karhutla di Rupat Masih Dilakukan Meski Sempat Hujan di Wilayah Bengkalis
Upaya membuat hujan buatan di Provinsi Riau terus dipacu.
Terbaru, Pemerintah Provinsi Riau menerima tambahan 15 ton garam semai untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di sejumlah wilayah rawan kebakaran.
Sebelumnya, bantuan tahap awal sebanyak 8,5 ton garam sudah lebih dulu dikirim oleh BNPB.
Kini, dengan tambahan pasokan tersebut, total ketersediaan garam semai semakin memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Bumi Lancang Kuning.
Kepala BPBD Damkar Riau melalui Kabid Kedaruratan, Jim Gafur, menjelaskan bahwa OMC masih difokuskan di kawasan pesisir yang mengalami penurunan curah hujan berdasarkan informasi BMKG.
Selain itu, wilayah pesisir dinilai rentan karena banyaknya lahan gambut yang mudah terbakar saat kondisi kering.
“OMC masih kita fokuskan di daerah pesisir Riau, terutama yang curah hujannya menurun dan memiliki banyak lahan gambut,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).
Sementara itu, data terbaru menunjukkan sebanyak 11 kabupaten/kota di Riau telah terdampak karhutla sejak awal tahun ini. Total luasan lahan terbakar mencapai 1.041,74 hektare.
Sebelas daerah tersebut meliputi Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, Kota Dumai dan Pekanbaru.
Dari rincian luasannya, Pelalawan menjadi wilayah dengan area terbakar paling besar, yakni 612,30 hektare.
Disusul Bengkalis 201,01 hektare, Indragiri Hilir 64,70 hektare, Siak 63,53 hektare, Dumai 30,52 hektare, Kampar 29,50 hektare, Pekanbaru 14,08 hektare, Kepulauan Meranti 13,40 hektare, Rokan Hilir 10 hektare, Kuansing 1,50 hektare dan Indragiri Hulu 1,20 hektare.
Tak hanya itu, terpantau pula 1.849 hotspot atau titik panas dengan 128 fire spot (titik api) yang sempat terdeteksi.
Meski demikian, tim gabungan di lapangan dilaporkan telah berhasil mengendalikan kebakaran di masing-masing daerah.
Dalam beberapa hari terakhir, hujan juga turun cukup merata di sejumlah wilayah Riau, membantu proses pendinginan lahan.
"Dengan tambahan 15 ton garam semai dan dukungan cuaca yang mulai membaik kami berharap karhutla dapat ditekan lebih cepat sebelum memasuki puncak musim kering," katanya.
(Tribunpekanbaru.com/Johannes Wowor Tanjung)