500 Mahasiswa BEM UI Demo ke Mabes Polri, Tuntut Eks Brimob Pembunuh Siswa di Maluku Dihukum Berat
Budi Sam Law Malau February 27, 2026 05:35 PM

Sedikitnya sekitar 500 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bergerak menuju Markas Besar (Mabes) Polri, Jumat (27/2/2026).

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes atas dugaan kekerasan aparat yang menewaskan seorang pelajar di Maluku.

Mahasiswa menuntut eks anggota Brimob yang terlibat dihukum seberat-beratnya.

Pantauan di Kampus UI, Beji, sekitar pukul 13.00 WIB, massa lintas fakultas telah berkumpul di lapangan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Mereka mengenakan jas almamater kuning dan membawa spanduk tuntutan.

Aksi ini mengusung tajuk #AparatKeparat, sebagai simbol kritik terhadap kinerja institusi Polri yang dinilai belum berbenah.

Sekitar 500 Mahasiswa Turun ke Jalan

Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menyebut sekitar 500 mahasiswa terlibat dalam aksi tersebut.

Mereka juga akan bergabung dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lainnya.

“Agendanya sebenarnya kita berangkat dari keresahan masyarakat dan juga mahasiswa melihat kondisi kepolisian yang rasa-rasanya tidak pernah berbenah terkait bagaimana mereka melayani masyarakat,” ujar Athop, sapaan akrabnya.

Menurutnya, aksi ini bukan sekadar solidaritas mahasiswa, tetapi respons atas tragedi kemanusiaan yang kembali mencoreng institusi penegak hukum.

Tuntut Hukuman Berat untuk Eks Brimob

Salah satu tuntutan utama BEM UI adalah mendesak agar eks anggota Brimob Batalyon C Pelopor Polda Maluku, Bripda Mesias Siahaya, dihukum seberat-beratnya.

Bripda Mesias diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Tual, Maluku, bernama Arianto Tawakal hingga meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026).

“Terbukti dari banyaknya tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh kepolisian,” tegas Athop.

Mahasiswa menilai kasus tersebut menjadi pengingat bahwa reformasi di tubuh Polri belum berjalan optimal.

“Oleh karenanya di sini kita berangkat dari keresahan masyarakat dan mahasiswa untuk menyuarakan bahwa reformasi Polri itu hal yang sudah harus dilakukan sekarang,” pungkasnya.

Seruan Reformasi dan Keadilan

Bagi para mahasiswa, kematian seorang pelajar bukan sekadar angka statistik. Ia adalah simbol rapuhnya perlindungan terhadap warga sipil, terutama generasi muda.

Aksi ini menjadi cerminan kegelisahan publik yang menuntut transparansi, akuntabilitas, serta penegakan hukum tanpa pandang bulu. Mahasiswa berharap proses hukum berjalan terbuka dan memberi rasa keadilan bagi keluarga korban.

Demonstrasi di Mabes Polri diharapkan menjadi momentum refleksi bagi institusi kepolisian untuk memperkuat pengawasan internal dan memastikan tragedi serupa tidak terulang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.