Ketua BEM UGM Makin Vokal Kritik Pemerintah, Ibunya Malah Kembali Diteror, Tiyo: Negeri Ini Sakit!
Listusista Anggeng Rasmi February 28, 2026 11:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Gelombang teror seakan terus membayangi kehidupan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, bahkan hingga menyentuh keluarganya.

Ancaman yang datang silih berganti itu tak hanya menyasar dirinya sebagai aktivis mahasiswa, tetapi juga ibunya di rumah.

Meski demikian, tekanan yang berulang justru membuat Tiyo terlihat semakin tegar.

Ia menilai risiko tersebut sebagai konsekuensi logis dari sikap kritis terhadap kekuasaan.

Di hadapan Pemimpin Redaksi Tribun Jateng, Ibnu Taufik Juwariyanto, Tiyo memaparkan kronologi teror dengan raut wajah yang tenang.

Ia menceritakan secara runtut intimidasi yang dialaminya secara pribadi, yang diterima ibunya, hingga yang menimpa rekan-rekannya di kampus.

Sikapnya menunjukkan seolah teror itu bukan lagi sesuatu yang mengejutkan.

Tiyo bahkan tampak tidak terlalu menggubris berbagai ancaman tersebut.

Rentetan intimidasi itu mulai berdatangan setelah ia secara terbuka dan lantang mengkritik pemerintahan di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.

Sejak saat itu, tekanan demi tekanan disebut terus menghampiri.

Teror terbaru kembali menyasar sang ibu, menambah daftar panjang intimidasi yang sudah terjadi sebelumnya.

Peristiwa ini pun bukan kali pertama, sebab ibunya telah beberapa kali menerima teror serupa.

Baca juga: Ketua BEM UGM Tiyo Adrianto Diteror Usai Kritik MBG, Menteri HAM Yakin Bukan Pemerintah: Tak Mungkin

SOSOK TIYO ARDIANTO - Kolase foto Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM), Tiyo Ardianto. Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto kembali diteror, kali ini dituding LGBT hingga muncul konten Awas LGBT di UGM disertai foto wajahnya. ((Ist)/HO/IST/Instagram @kpum.ugm/Instagram/tiyoardianto_)

3 Teror yang Didapat Ibu Tiyo

“Ada tiga teror terbaru yang diterima ibu semalam,” kata Tiyo memulai perbincangan dengan Ibnu Taufik Juwariyanto di teras Omah Dongeng Marwah di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Kamis (26/2/2026) sore.

 Teror pertama yang masuk ke ponsel ibunya Tiyo dari nomor yang tidak dikenal mengatakan kalau ada ormas di Yogyakarta yang hendak melaporkan Tiyo ke Polda DI Yogyakarta karena Tiyo dituduh menggelapkan dana Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).

Teror kedua yang masuk ke posel ibunya mengatakan kalau terdapat dosen Universitas Gadjah Mada yang kecewa atas perilaku Tiyo yang diduga menggelapkan dana KIPK.

Bagi Tiyo, tudingan tersebut tidak dianggap. Sejak awal teror yang datang menerimanya salah satunya menggoreng tuduhan tidak berdasar tersebut.

“Kemudian teror yang ketiga yang diterima ibu mengatakan kalau pihak kepolisian siap mengusut tuntas kasus Tiyo,” kata Ketua BEM Universitas Gadjah Mada tersebut.

Ibu Tiyo semula takut atas berbagai teror yang diterimanya. Ibunya khawatir akan nasib anak laki-lakinya yang kritiknya bersuara lantang terhadap kekuasaan.

Namun, secara perlahan-lahan Tiyo menjelaskan kepada ibunya.

Bahwa semua kabar miring yang diterima ibunya merupakan teror untuk melemahkan Tiyo dan membungkam kritiknya.

Belakangan, kata Tiyo, ibunya bisa memahami penjelasan dari anak laki-lakinya.

“Sekarang ibu sudah aman. Saya beri penjelasan sebelumnya,” kata Tiyo.

KETUA BEM DITEROR - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto.
KETUA BEM DITEROR - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. (Instagram/@tiyoardianto_)

Baca juga: Wakil Kepala BGN Disorot, Diduga Balas Unggahan Instagram Tiyo Ardianto dengan Emoji Kontroversial

Teror rupanya tidak hanya menimpa Tiyo dan keluarganya. Kurang lebih 30 sampai 40 orang pengurus BEM UGM juga mendapatkan teror serupa sebelumnya. Namun mereka paham bahwa semua itu merupakan dampak dari sikap politik BEM UGM yang memilih berseberangan dengan pemerintah.

Semua itu dilakukan bukan karena untuk mendistorsi program pemerintah di bawah kendali Prabowo Subianto di antaranya program MBG merupakan singkatan dari Makan Bergizi Gratis yang oleh Tiyo kemudian disebut sebagai Maling Berkedok Gizi.

Soal sebutan yang terakhir tersebut Tiyo sudah menjelaskan di banyak tempat. Misalnya karena ketidakberpihakan rezim terhadap pendidikan malah memilih menjalankan MBG yang pada praktiknya jauh panggang dari api.

Dari seluruh rangkaian kritik yang dia lontarkan bukan karena dia benci kepada negeri ini. Semua itu dilakukan karena dia ingin negeri ini berjalan ke arah yang lebih baik.

Kritik demi kritik yang selama ini dilontarkan oleh Tiyo maupun aktivis dan akademisi atas pelaksanaan MBG dianalogikan sebagai obat.

Oleh sebab itu dia menyayangkan kalau sampai rezim menutup telinga atas seluruh kritik yang disampaikan berbasis data dan fakta di lapangan.

“Ini republik yang sakit. Negeri ini sakit dan orang memberi kritik ke republik ibarat dokter yang memberi obat. Termasuk para aktivis, akademisi yang mengkritisi MBG karena ingin memberi obat bagi republik ini,” kata Tiyo. (Goz)

(TribunNewsmaker.com/ TribunBanyumas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.