TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG – Pemerintah Kabupaten Magelang meningkatkan status penanganan bencana banjir lahar hujan di Sungai Senowo, lereng Gunung Merapi, dari siaga menjadi tanggap darurat.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) berdasarkan hasil asesmen di lapangan.
“Setelah melihat dataMenurutnya, penetapan status tanggap darurat ini bertujuan untuk mempercepat penanganan bencana, terutama dalam membuka akses pembiayaan dan sumber daya.
dan fakta di lapangan melalui asesmen teman-teman, seperti Dinas PU yang mengasesmen infrastruktur, serta BPBD terkait dampak bencana lain seperti rumah longsor dan terdampak, kami sepakat meningkatkan status menjadi tanggap darurat,” ujarnya, Rabu (4/3/2026).
“Dengan tanggap darurat, harapannya menjadi pintu masuk yang lebih luas, baik untuk akses pembiayaan, sumber daya, maupun dukungan lainnya, sehingga penanganan bisa tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi ini juga menjadi perhatian mengingat masyarakat tengah bersiap menyambut Idulfitri.
“Kami berharap masyarakat terdampak tetap bisa menyambut Idulfitri dengan baik, dan proses pemulihan nantinya bisa berjalan cepat,” katanya.
Status tanggap darurat ini ditetapkan selama tujuh hari ke depan dan akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
“Selama tujuh hari mulai hari ini, nanti akan kita lihat situasi dan kondisi. Jika diperlukan, bisa diperpanjang,” imbuhnya.
Terkait kerugian, Bambang menyebut pihaknya masih melakukan pendataan secara menyeluruh agar tidak ada warga terdampak yang terlewat.
“Kami masih menghitung secara komprehensif. Pendataan melibatkan OPD terkait, kepala desa, hingga masyarakat. Kami ingin data yang benar-benar rigid agar semua terdampak tercatat,” ungkapnya.
Sementara itu, posko pencarian korban banjir lahar masih berada di lokasi atas dan operasi pencarian terus dilakukan.
Sejumlah penambang pasir dilaporkan terseret banjir lahar hujan di aliran Sungai Senowo, lereng Gunung Merapi, saat tengah beraktivitas, Selasa (3/3/2026).
Hingga Rabu (4/3/2026), tiga orang di antaranya telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
"Hujan deras yang terjadi di kawasan puncak Gunung Merapi mengakibatkan empat penambang pasir di desa Krinjing Srumbung Kabupateng Magelang tepatnya di aliran sungai Senowo hanyut diterjang lahar dingin saat melakukan aktivitas penambangan," ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono dalam laporannya.
Dia mengatakan dua korban yang ditemukan pada hari kedua operasi adalah Heru Setyawan (25), warga Krinjing, dan Arif Fuad Hasan (26), warga Ngargosoko, Srumbung, Kabupaten Magelang.
“Hingga siang ini tim SAR gabungan telah menemukan dan mengevakuasi dua korban atas nama Fuad dan Heru dalam keadaan meninggal dunia. Ditemukan tersangkut di antara batu sungai," terang Budiono.
"Korban pertama Fuad ditemukan pukul 6 pagi di jarak 2,1 KM dan korban kedua atas nama Heru, ditemukan dijarak 600 meter dari TKP pukul 07.37 WIB dan selanjutnya dibawa ke RSUD Muntilan,” sambungnya.
Satu korban sebelumnya telah ditemukan pada hari Selasa (3/3/2026) atas nama Iman Setiawan, warga Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang,
Dengan perkembangan tersebut, masih ada dua orang yang dilaporkan hilang dan kini dalam proses pencarian, yakni Maryuni dan Hasyim.
Tim SAR gabungan terus melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai dengan membagi beberapa regu untuk mempercepat pencarian. (tro)