BANJARMASINPOST.CO.ID - Memasuki malam Jumat, ada yang mengatakan kalau sunah melakukan hubungan badan suami istri yang sah.
Benarkah hal tersebut? Ustadz Adi Hidayat memberikan jawaban seputar bersenggama di malam Jumat.
Apalagi ada guyonan membunuh Yahudi di malam Jumat. Guyonan ini kerap kali terjadi saat menjelang malam Jumat.
Sunnah berhubungan badan di malam Jumat sudah seakan menjadi hal dibenarkan.
Namun guyonan ini apakah benar dan bagaimana sebenarnya masalah waktu berhubungan badan?
Baca juga: Buka Bersama BPost, Bank Mandiri Tegaskan Perkuat Sinergi Bersama Media untuk Perbaikan Ekonomi
Baca juga: Aneka Olahan Berbahan Telur Jadi Menu Sahur Ramadhan 2026, Balado hingga Dadar Sayuran
Dilansir dari nu.or.id, canda atau guyon tersebut sebenarnya tidak masalah dalam agama.
Hanya saja kalau mau tahu kedudukan hukum agama sebenarnya, kita perlu mendapat penjelasan ahli hukum Islam terkait hubungan sunah rasul, malam Jumat, dan hubungan intim suami-istri.
وليس في السنة استحباب الجماع في ليال معينة كالاثنين أو الجمعة، ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة.
Artinya, “Di dalam sunah tidak ada anjuran berhubungan seksual suami-istri di malam-malam tertentu, antara lain malam Senin atau malam Jumat. Tetapi ada segelintir ulama menyatakan anjuran hubungan seksual di malam Jumat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, cetakan kedua, 1985 M/1305, Beirut, Darul Fikr, juz 3 halaman 556).
Keterangan Syekh Wahbah Az-Zuhayli ini menyebutkan bahwa sunah Rasulullah tidak menganjurkan hubungan suami-istri secara khusus di malam Jumat.
Kalau pun ada anjuran, itu datang dari segelintir ulama yang didasarkan pada hadits Rasulullah SAW, "Siapa saja yang mandi di hari Jumat, maka..." Dari sini kemudian sebagian ulama itu menafsirkan kesunahan hubungan badan suami-istri malam Jumat. Tetapi sekali lagi kesunahan itu didasarkan pada tafsiran/interpretasi, bukan ini anjuran Rasulullah secara verbal.
Meski demikian, Syekh Wahbah sendiri tidak menyangkal bahwa hubungan intim suami-istri mengandung pahala. Hanya saja tidak ada kesunahan melakukannya secara prioritas di malam Jumat.
Artinya, hubungan intim itu boleh dilakukan di hari apa saja tanpa mengistimewakan hari atau waktu-waktu tertentu.
Baca juga: Doa Menerima Zakat Fitrah di Ramadhan 2026, UAH Beberkan 8 Golongan Memenuhi Syarat
Masih menurut nu.or.id, penjelasan kedudukan hukum ini menjadi penting agar tidak ada reduksi pada sunah rasul yang begitu luas itu.
Karena banyak anjuran lain yang baiknya dikerjakan di malam Jumat seperti memperbanyak shalawat nabi, membaca surat Yasin, Al-Jumuah, Al-Kahfi, Al-Waqiah, istighfar, dan mendoakan orang-orang beriman yang telah wafat.
Kalaupun sekadar guyon, baiknya istilah-istilah ini cukup terbatas dikalangan orang dewasa saja.
Ustadz Adi Hidayat memberikan penjelasan masalah anggapan yang sudah umum beredar bagi umat muslim.
Ustadz Adi Hidayat mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah sekalipun menentukan secara khusus malam Jumat untuk waktu bersenggama antar suami dan istri.
Katanya, Nabi Muhammad tidak pernah menentukan hari-hari tertentu atau malam-malam tertentu untuk bersetubuh. (banjarmasinpost.co.id)