TRIBUNJATIM.COM – Candi Jago menjadi salah satu peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Singhasari yang masih dapat disaksikan hingga kini di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Bangunan kuno ini tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga kisah sejarah tentang raja-raja Singhasari serta perkembangan ajaran Hindu-Buddha pada masa itu.
Terletak di Kecamatan Tumpang, sekitar 22 kilometer di sebelah timur Kota Malang, Candi Jago dikenal sebagai salah satu candi penting yang berkaitan dengan Raja Wisnuwardhana.
Meski sebagian bangunannya telah rusak, candi ini tetap menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kerajaan di Jawa Timur pada abad ke-13.
Asal Usul Nama dan Pendirian Candi Jago
Dilansir dari malangkab.go.id, Candi Jago berasal dari kata Jajaghu yang berarti keagungan atau tempat suci.
Bangunan ini didirikan pada masa Kerajaan Singhasari sekitar abad ke-13 dan berada di wilayah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Karena lokasinya berada di Desa Tumpang, masyarakat setempat juga kerap menyebutnya sebagai Candi Tumpang. Sementara itu, warga sekitar menyebut bangunan ini dengan istilah Cungkup.
Pembangunan Candi Jago dilakukan atas perintah Raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, Raja Wisnuwardhana, yang wafat pada tahun 1268 M.
Candi ini kemudian menjadi bangunan penghormatan bagi raja keempat Kerajaan Singhasari tersebut.
Dikutip dari Tribunnewswiki, pembangunan Candi Jago diperkirakan berlangsung antara tahun 1268 hingga 1280 M.
Pembangunan candi ini berkaitan erat dengan wafatnya Raja Wisnuwardhana yang kemudian dipuja dalam bentuk arca perwujudan di kawasan tersebut.
Meski dibangun pada masa Singhasari, candi ini tetap memiliki peran penting pada masa Majapahit.
Bahkan, Raja Hayam Wuruk disebut sering mengunjungi tempat ini pada tahun 1359 M sebagai bagian dari perjalanan kerajaan.
Baca juga: Asal Usul Candi Bajang Ratu, Gapura Megah Peninggalan Kerajaan Majapahit
Struktur Bangunan dan Keunikan Arsitektur Candi
Dikutip dari incar.jatimprov.go.id, Candi Jago memiliki denah berbentuk persegi panjang dengan kaki candi yang terdiri dari tiga teras berundak.
Struktur bangunan ini cukup unik karena badan candi tidak berada di tengah, melainkan berada di bagian belakang teras tertinggi.
Bangunan candinya menghadap ke arah barat dan memiliki dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan.
Tangga tersebut mengarah ke bagian tubuh candi yang seolah bergeser ke belakang pada setiap tingkatnya.
Keunikan lain dari konstruksi Candi Jago adalah bentuknya yang semakin ke atas semakin mundur ke belakang.
Setiap tingkat memiliki teras yang cukup lebar di bagian depan namun lebih sempit di bagian belakang.
Pada tingkat teratas terdapat satu pintu besar yang mengarah ke ruang utama candi. Namun sebagian besar dinding serta bagian atas bangunan sudah mengalami kerusakan sehingga tidak lagi utuh seperti bentuk aslinya.
Keseluruhan bangunan Candi Jago tersusun dari batu andesit. Tinggi bangunan diperkirakan mencapai sekitar 15 meter, meskipun bagian atapnya kini telah hilang sehingga tinggi asli bangunan sulit dipastikan.
Baca juga: Menguak Asal-Usul Candi Singosari, Warisan Berharga Era Kertanegara sebagai Simbol Toleransi
Relief Cerita dan Perpaduan Ajaran Hindu-Buddha
Salah satu keistimewaan Candi Jago terletak pada panel-panel relief yang memenuhi hampir seluruh bagian dinding candi.
Relief tersebut dipahat rapi mulai dari bagian kaki hingga dinding ruangan bagian atas.
Pada tingkat pertama terdapat relief cerita Tantri Kamandaka, yaitu kisah-kisah binatang yang sarat pesan moral.
Relief ini menunjukkan pengaruh cerita sastra klasik yang berkembang pada masa kerajaan.
Sementara itu, tingkat kedua menggambarkan kisah Kunjarakarna, cerita yang berkaitan dengan ajaran Buddha tentang perjalanan spiritual menuju kesempurnaan.
Pada tingkat berikutnya terdapat relief Parthayajna yang menampilkan kisah lima Pandawa dari wiracarita Mahabharata.
Di bagian atas juga terdapat cerita Arjunawiwaha dan Krisnayana yang menggambarkan kisah kepahlawanan tokoh-tokoh Hindu.
Keberadaan berbagai relief tersebut menunjukkan perpaduan ajaran Hindu dan Buddha yang berkembang pada masa Singhasari.
Hal ini sejalan dengan ajaran Siwa-Buddha Tantrayana yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana.
Baca juga: Sejarah Candi Jawi di Prigen Pasuruan, Tempat Pendharmaan Raja Terakhir Kerajaan Singasari
Kondisi Candi Saat Ini
Candi Jago pertama kali ditemukan kembali oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1834. Saat ditemukan, kondisi bangunan candi sudah rusak dan dipenuhi akar pohon beringin besar yang tumbuh di sekitarnya.
Keberadaan pohon-pohon tersebut diduga sengaja ditanam oleh masyarakat pada masa lampau sebagai penanda sekaligus pelindung lokasi candi.
Namun seiring waktu, akar pohon tersebut justru merusak sebagian struktur bangunan.
Upaya pemugaran kemudian dilakukan pada tahun 1890 untuk menyelamatkan bangunan candi dari kerusakan lebih lanjut.
Pemugaran kembali dilakukan pada awal abad ke-20 hingga tahun 1908 sehingga candi memiliki bentuk seperti yang terlihat saat ini.
Meski demikian, bagian atas candi belum dapat direkonstruksi sepenuhnya karena banyak bagian yang hilang dan tidak ditemukan. Hal ini membuat Candi Jago hingga kini masih terlihat seperti reruntuhan di bagian atasnya.
Meskipun kondisinya tidak lagi utuh, Candi Jago tetap menjadi salah satu situs sejarah penting di Malang.
Keberadaannya menjadi bukti perkembangan budaya dan keagamaan pada masa Kerajaan Singhasari serta hubungan sejarahnya dengan Kerajaan Majapahit.