TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Teror jelang hari raya Idulfitri 1447 Hijriah menimpa seorang pegiat media sosial sekaligus kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Palti Hutabarat.
Beberapa hari jelang Idulfitri, Palti Hutabarat mendapat kiriman berupa bangkai kepala anjing.
Teror ini menambah panjang daftar teror yang terjadi di tanah air belakangan ini.
Baru-baru ini kasus teror air keras menimpa Andrie Yunus, aktivis HAM dari KontraS.
Kasus teror air keras ini adalah serangan serius terhadap kebebasan sipil dan HAM di Indonesia.
Meski aparat telah mengungkap sejumlah pelaku, publik menuntut transparansi penuh dan hukuman tegas agar kasus ini tidak berulang.
Baca juga: Pelaku Teror Air Keras Terungkap, Hanief Adrian: Bukti Ketegasan Negara dalam Penegakan Hukum & HAM
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Palti Hutabarat menerima intimidasi berupa paket aneh.
Terakhir, pria yang juga pegiat media sosial itu mendapatkan ”paket” berupa bangkai kepala anjing.
Bangkai kepala anjing itu dilemparkan orang tak dikenal ke rumah orang tua Palti Hutabarat.
Peristiwa itu terjadi di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Bareskrim Polri Proses Kasus Teror Kepala Babi dan Bangkai Tikus di Tempo, Cek TKP dan Rekaman CCTV
Wiradarma Harefa dari Badan Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat (BBHAR) PDIP membenarkan kejadian tak wajar tersebut.
"Menurut kesaksian Saudara Palti, sekitar pukul 10-12 malam lebih, ada benda yang dilemparkan ke depan rumahnya. Pada pagi harinya jam 7 dicek ternyata bangkai kepala anjing," ujar Wiradarma, Kamis (19/3/2026) malam.
Wiradarma menyampaikan, teror bangkai kepala anjing ini merupakan rentetan dari pengiriman dua paket cash on delivery (COD) sebelumnya.
Pada Rabu (11/3/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, satpam kompleks perumahan mengabarkan kepada keluarga Palti bahwa ada dua orang laki-laki bersepeda motor yang bertanya mengenai penghuni rumahnya.
"Apa rumah nomor xx tidak ada penghuninya? Saya telepon dan panggil-panggil, orangnya tidak keluar," kata Wiradarma menirukan orang tak dikenal (OTK) itu.
"Ada, tapi orangnya sering keluar," jawab satpam kepada OTK disampaikan Wiradarma.
Selanjutnya pada Jumat (13/3/2026) sore, paket COD pertama datang.
Berhubung keluarga Palti tidak pernah memesan, mereka menolak paket tersebut.
Terlebih, setelah mengonfirmasi ke Palti langsung, kader PDIP itu juga tidak pernah mengirim paket ke rumah orangtuanya.
Baca juga: Teror Paket Kepala Babi Lagi! Kali Ini Korbannya Konten Kreator di Bogor
Keesokan harinya, Sabtu (14/3/2026), datang paket COD kedua.
Hanya saja, yang menimbulkan kecurigaan adalah paket tersebut dikirim dengan nama almarhum ayah Palti dari alamat lama di Jakarta.
"Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa mengirimkan paket? Seperti paket sebelumnya, paket tidak dibuka dan langsung dikembalikan," jelas Wiradarma.
Pada hari-hari berikutnya, keluarga Palti tidak menerima paket misterius lagi.
Wiradarma menduga sudah tidak ada lagi teror lanjutan terhadap mereka.
Namun pada Rabu (18/3/2026), rumah orangtua Palti tiba-tiba dilempar bangkai kepala anjing.
Pada saat yang sama, menurut Wiradarma, Palti juga menerima kiriman sejumlah meme intimidatif melalui WhatsApp.
Atas dasar itu, Wiradarma mendesak kepada aparat untuk segera menangkap pelaku yang mengirim bangkai kepala anjing kepada Palti Hutabarat.
Baca juga: Dapat Paket Misterius Termasuk Kepala Babi, Konten Kreator di Bogor Banjir Dukungan: Stay Safe Bang
"Kami mengutuk aksi teror ini, tindakan biadab dan pengecut apalagi dengan kepala anjing. Juga terjadi di bulan suci Ramadhan. Kami mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengungkap kasus ini dan menangkap pelakunya," kata Wiradarma.
"Juga pada kasus-kasus intimidasi dan teror sebelumnya misalnya pada Risman Lase yang mobilnya dilempar bom molotov di Sibolga, Sumatera Utara, juga penyiraman air keras pada Andrie Yunus KontraS, pada DJ Donny, Virdian, Sherly, Tiyo Ardianto, Bocor Alus Tempo dan kasus-kasus lain yang belum diungkap," tegasnya.
Kasus teror air keras terbaru menimpa aktivis HAM dari KontraS, Andrie Yunus, pada 12 Maret 2026 di Jakarta.
Ia mengalami luka serius pada mata dan wajah, dan kini dirawat intensif di RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo.
Polisi dan TNI telah mengungkap sejumlah terduga pelaku, menunjukkan adanya koordinasi dalam penyerangan ini.
Kronologi Kejadian:
12 Maret 2026: Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS, disiram air keras oleh orang tak dikenal.
Lokasi: Jakarta, saat ia sedang beraktivitas di luar.
Dampak langsung: Luka bakar serius di wajah dan tubuh, serta kerusakan pada mata yang menyebabkan penurunan tajam fungsi penglihatan.
Kondisi Korban:
Rumah sakit: RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
Cedera utama: Kerusakan kornea, penurunan fungsi penglihatan, luka bakar pada kulit.
Risiko jangka panjang: Nekrosis jaringan, cacat permanen, kemungkinan kehilangan penglihatan sebagian.
Pengungkapan Pelaku:
18 Maret 2026: Polda Metro Jaya mengumumkan dua terduga pelaku berinisial BHC dan MAK.
Puspom TNI: Mengumumkan empat terduga pelaku lain berinisial NDP, SL, BHW, dan ES.
Koordinasi aparat: Kasus ini ditangani bersama oleh Polri dan TNI, atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.
(tribun network/thf/TribunLampung.com/Kompas.com/Tribunnews.com)