Lebaran di Tenda Pengungsian, Hati Irma Perih Dengar Ratapan Sang Anak, 'Mak Sampai Kita di Sini?'
Juang Naibaho March 24, 2026 10:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Prabowo Subianto menyatakan penanganan banjir di Aceh Tamiang hampir 100 persen selesai dan tidak ada lagi warga yang mengungsi di tenda. 

Pernyataan ini memicu kontroversi karena warga dan relawan di lapangan melaporkan masih banyak pengungsi bertahan di tenda.

Tak pelak, dugaan laporan "Asal Bapak Senang" pun mencuat ke publik.

Faktanya, sejumlah penyintas banjir masih hidup di tenda-tenda pengungsian.

Jeritan pilu para korban banjir itu pun beredar di media sosial (medsos).

Salah satunya disuarakan Waracantika, warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang. 

Ia menegaskan, kondisi di lapangan masih jauh dari klaim Prabowo. Hingga kini masih banyak warga yang bertahan di tenda pengungsian karena belum tersedianya hunian sementara yang layak.

“Kami masih menggunakan tenda pak, hunian sementara belum ada di Desa Sekumur, hanya ada 5 persen saja, itu pun belum ada atap sama sekali,” ujar Waracantika melalui media sosialnya, dikutip Selasa (24/3/2026).

Ia juga meminta pemerintah untuk melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana. Bukan cuma terima laporan.

“Bapak dengarkan keluhan masyarakat ini, bapak lihat sendiri bagaimana menderitanya kami, kedinginan dan kepanasan di sini,” ujarnya.

Irma Menangis Dengar ratapan Sang Anak

Di saat sebagian besar umat muslim merayakan hangatnya Idul Fitri 1447 Hijriah bersama keluarga di rumah, suasana berbeda justru terasa di Kampung Benuaraja, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.

Di tepi jalan raya yang berdebu, sebuah tenda sederhana menjadi saksi bisu lebaran yang jauh dari kata layak.

Di dalam tenda itu, Irmahayani (41) merayakan hari ketiga Idul Fitri bersama suami dan dua anaknya, Nazwa Humaira (8) dan Mikhaila Mauliza (1).

Tidak ada hidangan istimewa, tidak ada tamu, bahkan untuk sekadar merasa nyaman pun sulit.

“Lebaran kali ini ya, rasa semangat itu kayak hilang. Mau dibilang gak semangat pun gak boleh, karena kita umat Islam. Tapi dengan keadaan begini, kami masih di tenda, rasanya kayak nggak layak kali,” kata Irmahayani dengan suara pelan, menahan emosi.

Banjir yang melanda November 2026 lalu memaksa keluarganya kehilangan tempat tinggal.

Sejak itu, mereka bertahan di tenda darurat yang berdiri hanya sekitar satu meter dari badan jalan.

Debu beterbangan setiap kendaraan melintas, siang hari terasa menyengat, malam pun tak pernah benar-benar tenang.

“Biasanya lebaran kita semangat, nunggu tamu, keluarga datang. Sekarang jangankan nunggu, kami sendiri aja nggak mampu tinggal nyaman di tenda ini,” ujarnya.

Kondisi hidup di tenda serba terbatas. Semua aktivitas dilakukan di ruang sempit yang sama. Memasak, mencuci, hingga beristirahat.

Untuk kebutuhan dasar seperti buang air, Irmahayani terpaksa bergantung pada belas kasihan tetangga atau fasilitas umum.

“Kalau gak kebelet, bisa ke rumah orang atau ke masjid. Tapi kalau udah kebelet, ya ‘WC terbang’. Mau gimana lagi, rumah belum pulih, air pun nggak ada,” katanya tanpa menutupi kenyataan pahit itu.

Anak bungsunya pun mulai terdampak kondisi lingkungan.

Debu jalanan membuat kesehatan terganggu, sementara panas siang hari dan bising kendaraan di malam hari membuat mereka sulit beristirahat.

“Kalau siang panas kali, malam pun takut mobil ngebut, takut kena tenda kami,” kata Irmahayani.

Lebaran yang biasanya menjadi momen silaturahmi juga terasa sepi. Tidak ada sanak saudara yang datang berkunjung.

Lebih dari sekadar kehilangan rumah, yang dirasakan Irmahayani adalah hilangnya harapan akan perhatian.

Hingga kini, ia mengaku belum menerima bantuan yang berarti, baik dari pemerintah maupun pihak kampung.

“Sampai sekarang belum ada perhatian. Dana bantuan pun seperak pun belum kami terima,” katanya.

Di tengah kondisi itu, harapan sederhana justru datang dari anaknya. Sebuah pertanyaan polos yang justru terasa paling menyakitkan.

“Anak saya bilang, ‘Mak kita di sini sampai kapan?’ Sedih kali dengarnya,” ujar Irmahayani, matanya berkaca-kaca.

Ia berharap ada kepedulian nyata dari pemerintah agar mereka bisa bangkit kembali, setidaknya untuk membersihkan rumah dan kembali hidup layak seperti sebelum banjir.

“Kami cuma mau diperhatikan. Jangan dipersulit lagi. Kami sudah cukup sulit sejak banjir ini,” tutupnya.

Di saat takbir berkumandang di mana-mana, kemenangan itu terasa jauh bagi Irmahayani.

Lebaran yang seharusnya jadi hari paling membahagiakan, justru berubah jadi pengingat bahwa mereka masih terjebak dalam sulitnya hidup di pengungsian berjuang setiap hari, sambil menunggu bantuan yang tak pernah benar-benar datang. 

Kepala BPBD Akui Masih Ada Penyintas di Tenda Pengungsian

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Aceh Tamiang Iman Suhery tidak memungkiri masih ada penyintas yang tinggal di tenda pengungsian.

”Namun, seharusnya tidak ada lagi penyintas di tenda karena sudah mendapat hunian sementara (huntara), dana tunggu hunian, atau bantuan perbaikan rumah dari pemerintah,” kata Suhery, Minggu (22/3/2026) dikutip dari Kompas.id.

Suhery menyebut, mereka sudah menemui para penyintas yang masih tinggal di tenda pengungsian. 

Mereka meminta agar para penyintas yang sudah mendapatkan bantuan tidak lagi tinggal di tenda.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.