Kisah Hadi Rawat 7 Hektar Sawah di Danau Nujau, Jaga 35 Ton Potensi Gabah dari Serbuan Hama Emprit
Ardhina Trisila Sakti March 26, 2026 09:19 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG - Di Danau Nujau, Desa Gantung, Kabupaten Belitung Timur hanya ada hamparan warna kuning yang bergoyang pelan disapu angin siang sejauh mata memandang, Kamis (26/3/2026).

Nampak di tengahnya berdiri orang-orangan sawah yang berdiri tertancap di atas tanah tersebut.

Suara gesekan daun padi yang kering mengisi suasana kala itu. Diikuti interupsi suara angklung yang berbunyi akibat hembusan angin sepoi-sepoi.

Di kejauhan, kepulan debu dari jalanan tanah merah sesekali terlihat saat kendaraan melintas.

Peluh mengalir deras di pelipis para petani yang terlihat di sana, membasahi pakaian yang nampaknya sudah berubah warna. Satu di antaranya ialah Hadi Saputra.

Hadi sekilas berdiri tegak menatap ke arah lahan luas di depannya. Pria ini adalah satu di antara sosok di balik rimbunnya padi yang kini siap memenuhi lumbung-lumbung pangan di Desa Gantung.

Hadi mengaku bahwa sebagian besar lahan yang ia kelola saat ini memang sudah memasuki masa panen. Sambil menunjuk ke arah petakan sawah yang membentang luas, ia menjelaskan pembagian lahan yang ia urus.

"Iya, sebelah sana sudah panen semua sekarang. Kalau di sini dua hektar, tapi sebelah sana ada tiga, dan sebelah sana lagi dua hektar," ujar Hadi.

Jika dijumlahkan, total lahan yang dikelola oleh Hadi mencapai angka yang cukup fantastis untuk ukuran petani mandiri, yakni sekitar 7 hektar. Dengan luas lahan tersebut, potensi hasil bumi yang bisa ia peroleh dalam satu kali masa panen pun tergolong sangat besar.

Hadi memprediksi rata-rata hasil panennya kali ini berada di angka 5 ton per hektar. Jika dikalikan dengan luas lahan 7 hektar, maka ada sekitar 35 ton gabah yang akan segera ia panen.

"Ya kurang lebih rata-ratanya lima ton lah per hektar ini. Kalau tujuh hektar berarti sekitar 35 ton," ucapnya.

Ucapan Alhamdulillah terus ia ucapkan karena proses panen perdana di tahun ini berjalan dengan lancar tanpa hambatan berarti. Baginya, melihat padi yang tumbuh subur adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Hadi merasakan ada peningkatan pada hasil panen periode sekarang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Faktor utama yang membuatnya merasa lebih tenang tahun ini adalah ketersediaan kadar air yang dirasa sangat mencukupi bagi pertumbuhan padi.

"Ada Alhamdulillah ada peningkatan tahun sekarang ini, ada agak mendinglah gitu kan. Karena sudah mencukupi kadar air kalau sekarang kan," ungkapnya.

Selain masalah air, kelancaran distribusi pupuk juga menjadi faktor di balik suksesnya panen. Hadi menceritakan bahwa tahun lalu proses tanam sempat tersendat karena sulitnya mendapatkan asupan nutrisi untuk padinya itu.

"Kalau tahun-tahun kemarin tersendatnya kan dari pupuk. Tapi sekarang Alhamdulillah pupuk sudah lancar gitu, semua ada," ujarnya.

Hadi mengaku hampir tidak menemui hambatan yang membuat kepalanya pusing. Baginya, ketersediaan air dan pupuk yang cukup sudah menjadi bantuan besar untuk memastikan padi varietas Inpari 32 miliknya tumbuh maksimal.

Namun, Hadi mulai memutar otak untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang akan datang. Ia sadar bahwa mengandalkan sistem irigasi biasa tidak akan cukup saat debit air mulai mengecil di hulu.

Hadi menjelaskan bahwa kondisi irigasi terkadang tidak menentu, ada bagian yang posisinya rendah dan ada pula yang tinggi.

"Kalau untuk persiapan yang untuk kemarau ini kan mungkin kita kan menggunakan dari pompa palingan," ucapnya.

Hadi sejujurnya cukup khawatir jika musim kemarau panjang tiba, aliran irigasi tidak mampu menjangkau petakan sawahnya yang luas. Penggunaan mesin pompa jadi satu-satunya jalan keluar untuk menarik air menuju ke area persawahan.

Oleh karena itu, Hadi berharap kedepannya ada bantuan berupa mesin pompa tambahan untuk membantu para petani yang memiliki kendala serupa.

"Minta itulah pompa gitu kan, karena kita kan membantu yang tidak ada, kalau mengandalkan irigasi susah kayaknya kalau kemarau," ungkapnya.

Selain urusan teknis, Hadi juga harus berjibaku melawan gangguan hama yang setiap hari mengintai tanamannya, terutama kawanan burung emprit.

"Kalau burung emprit itulah yang kadang-kadang bikin pening. Jadi sehari-hari kita di tengah sawah, nungguin terus," ujarnya.

Karena itulah Hadi harus menghabiskan waktu berjam-jam berdiri di tengah sawah hanya untuk memastikan burung-burung itu tidak menghabiskan bulir padinya.

Hadi juga memiliki fasilitas penggilingan padi atau pabrik sendiri untuk mengolah hasil panennya. Dari sosoknya ini pula kita bisa belajar bagaimana contoh seorang pejuang pangan yang mandiri.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.