Catatan Seorang Jurnalis: Benteng Eropa Timnas Indonesia
Indry Panigoro March 26, 2026 09:22 PM

Indonesia punya benteng Eropa. Tapi ini bukan cerita perang.

Tapi sepakbola. 

Timnas sepakbola Indonesia diperkuat deretan bek (pemain belakang) tangguh yang berkiprah di Eropa dalam turnamen FIFA Series di GBK Jakarta pada 27-30 Maret 2025.

Bek-bek ini bukan sekedar main di Eropa, tapi menjadi tumpuan klub yang dibela. 

Di bawah mistar, ada Emil Audero. 

Kiper Cremonese ini jadi kiper dengan saves terbanyak di Seri A Italia dengan 94 saves dari 21 laga. 

Ini berarti Emil jadi raja kiper di Italia. 

Ini prestasi yang wow mengingat Italia adalah negeri penghasil kiper jempolan sepanjang masa. 

Kiper jempolan tak hanya Emil seorang. 

Ada Marthen Paes yang kini jadi kiper utama di klub raksasa Belanda Ajax Amsterdam. 

Center bak di tongkrongi Jay Idzes. 

Pemain Sassuolo ini tak kalah heboh dari Emil. 

Di negeri seribu bek, Jay nangkring di peringkat 3 bek yang melakukan intersepsi.

Duetnya bersama Muharemovic jadi salah satu yang terkonsisten di Seri A. 

Kemudian Kevin Diks.

Bek kanan Monchengladbach ini menjadi simbol kebangkitan klubnya di Bundesliga. 

Ia telah mencetak 5 gol, jumlah yang melimpah bagi seorang bek, sekaligus menahbiskannya sebagai defender paling produktif di Eropa. 

Calvin Verdonk ada di daftar selanjutnya. 

Ia sukses mendarahi klub Lille di liga Prancis dengan permainannya yang tenang dan konsisten. 

Verdonk berkali kali jadi spot light tim, seperti saat ia menebas kaki bintang Marseille Mason Greenwood. 

Sosok penakluk benua biru lainnya adalah Justin Hubner. 

Pemain klub Fortuna Sittard ini kian bersinar di liga Belanda. 

Hubner masuk dalam daftar bek muda dengan sliding terbanyak di seluruh Eropa. 

Lalu Elkan Baggot.

Si anak yang hilang ini kembali dengan otot yang lebih kekar.

Bermain di klub Liga Inggris Ipswich Town, Elkan kian mengokohkan tembok Eropa di timnas Indonesia. 

Arsitek timnas Indonesia John Hardman mungkin tengah ngopi sbil berkerut kening. 

Ia dimanjakan oleh kemewahan sekaligus tersiksa dengan pilihan. 

Mana mau dipasang sebagai penjaga gawang, Audero atau Paes. 

Sebuah dilema yang hanya dimiliki mereka yang terlalu kaya talenta. 

Namun benteng juga menyimpan fragmen kelam. 

Saya ingat kisah Maginot Lini di perang Dunia Kedua. Ini benteng yang dibanggakan Prancis dan disebut sebut tak akan runtuh 
meski diserbu jutaan musuh. 

Tapi kita tahu sendiri, Prancis akhirnya tergilas Nazi Jerman. 

Jenderal Jerman Guderian sengaja membiarkan Maginot Lini, dan menyerbu dari sektor lain yang sama sekali tak diperhitungkan  ahli perang dari Prancis. 

Benteng kita memang kokoh.

Tapi tanpa atap, rumah kita masih bisa basah saat hujan turun. 

Dan kita tahu bersama lini depan kita masih lemah. 

Ole Romeny, Ragnar Oeratmangun dan Mauro Zilstra masih "rudal" biasa yang mudah dicegat "rudal penangkis" musuh atau jatuh sendiri di lautan. 

Rudal timnas belumlah rudal hipersonik, yang begitu meluncur langsung mendaki luar angkasa kemudian menghujam ke bumi dengan sedemikian cepatnya. (Arthur Rompis) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.