TRIBUNMANADO.CO.ID - Viral di medsos, sepasang suami istri, Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.
Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.
Informasi yang dihimpun Tribunmanado.com, sang istri meninggal dikarenakan penyakit kanker usus stadium akhir yang ia derita.
Sementara sang suami meninggal saat tengah menunggu jenazah istrinya di rumah sakit.
Ungkapan turut berbelasungkawa berdatangan di dunia maya dan nyata.
Senin (30/3/2026), Wagub Minut Kevin William Lotulung melayat ke rumah duka.
Umumnya kagum dengan kesetiaan cinta sejati kedua pasutri tersebut serta membesarkan nama Tuhan atas peristiwa langka tersebut.
Banyak pula yang penasaran, bagaimana keduanya menghidupi cinta kasih sehidup semati di tengah dunia yang tidak ideal ini.
Anak semata wayang keduanya Valentine Grieda Sahuburua membeber, ayah dan ibunya sesungguhnya punya sifat yang bertolak belakang.
"Ibu lebih aktif, sedang ayah agak pendiam dan sangat penyabar," kata dia.
Menurut dia, ayah dan ibunya punya filosofi hidup yang sangat menghargai pasangan.
Keduanya saling menerima dan melengkapi.
"Ibu saya mengatakan, kalau cinta itu tak cukup, tak bisa berfokus pada cinta, tapi fokuslah pada pasangan hidup, dengan begitu
kita bisa menerima segenap kelebihan dan kekurangan mereka," katanya.
Baca juga: Breaking News: WFH ASN Pemprov Sulut Berlaku 2 Hari Sepekan, Gubernur YSK: Pelayanan Harus Maksimal
Janji sehidup semati benar-benar terjadi di Minahasa Utara. Sepasang suami istri, Penatua Leonard Matheis Sahuburua (57) dan Diaken Ninerva Andilolo (52), berpulang dalam waktu yang sangat berdekatan, hanya berselang dua jam.
Ninerva Andilolo, yang akrab disapa Eva dan dikenal sebagai Pelsus Kolom 4 Jemaat GMIM Eben Haezer Watutumou, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 00.01 WITA.
Selang dua jam kemudian, sang suami tercinta, Leonard Sahuburua atau Leo, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Aset Gereja dan UPD Kolom, menyusul berpulang pada Minggu (29/3/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.
Leo sebelumnya adalah Penatua di kolom 4. Ia menjabat selama dua periode.
Duka mendalam menyelimuti rumah keluarga di Perumahan Maumbi Indah, Watutumou. Sejak kabar kepergian keduanya tersebar, warga terus berdatangan untuk melayat dan mengenang jejak pelayanan pasangan tersebut.
Peristiwa langka ini pun dimaknai dengan iman oleh warga. Banyak yang meyakini bahwa keduanya kini telah bersama di sisi Yesus Kristus.
Suasana duka terasa kian mendalam. Langit yang sebelumnya cerah tampak mendung, seolah turut berbelasungkawa.
Saat disambangi pada Senin (30/3/2026) pagi, rumah duka dipenuhi karangan bunga. Dua jenazah disemayamkan berdampingan di ruang tamu, masing-masing dalam peti.
Leo tampak mengenakan jas hitam, sementara Eva mengenakan gaun putih. Keduanya terlihat tenang, seolah damai dalam pelukan keabadian.
Kaur Kesra Desa Watutumou, Agusta Allow, mengungkapkan bahwa Leo meninggal dunia di saat penantian waktu dua jam untuk memastikan kematian sang istri secara medis.
“Tiba-tiba ia merasa sesak napas dan dibawa ke UGD. Ia wafat saat pendeta sedang menyelesaikan doa untuk istrinya di ruang jenazah,” ujarnya.
Menurutnya, cinta kasih keduanya begitu nyata hingga detik-detik terakhir. Bahkan dalam kondisi kritis, Eva sempat meminta agar suaminya tidur bersamanya.
“Dokter mengizinkan. Keduanya pun tidur. Suaminya tertidur lelap, bahkan mendengkur, dan Eva bisa beristirahat dengan tenang,” katanya.
Kebersamaan itu, lanjutnya, memang selalu terlihat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat beribadah.
“Keduanya selalu bersama-sama ke gereja,” tambahnya.
Putri mereka, Valentine Grieda Sahuburua, juga mengenang ketelatenan sang ayah dalam merawat ibunya selama sakit.
“Ayah terus menjaga ibu dengan sabar, tanpa pernah mengeluh,” ungkapnya.
Ia juga mengingat momen-momen kecil penuh kasih di rumah sakit, termasuk saat ayahnya yang kelelahan tetap ingin menemani sang ibu.
“Papa bahkan masih meminta izin kepada mama untuk beristirahat,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Lingkungan setempat, Alan Sasue, menyebut pasangan tersebut dikenal sebagai pribadi yang baik dan pembawa damai.
“Mereka selalu mengalah dan tidak pernah mencari masalah dengan orang lain,” ujarnya.
Rencananya, kedua jenazah akan dimakamkan pada Selasa (31/3/2026) di Watutumou, dalam satu liang kubur.
(TribunManado.co.id/Art)
_
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini