Penjual Gorengan di Waingapu Sumba Timur Harap Harga Minyak Tanah Tidak Naik
Oby Lewanmeru March 30, 2026 10:41 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Seorang penjual gorengan di Kota Waingapu, Sumba Timur, NTT berharap harga minyak tanah tidak mengalami kenaikan.

Mama Putri (46) adalah seorang pelaku usaha mikro di Jalan D.I. Panjaitan. Ia bersama suaminya menjual berbagai jenis gorengan di jalan itu sejak tahun 2018.

Di sana, mereka menjual pisang goreng, molen, tahu dan tempe goreng sejak pukul 11.00 sampai 18.00 Wita.

“Kami berharap harga minyak tanah tidak naik agar ekonomi kami bisa ringan sedikit,” katanya kepada Pos Kupang, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Atasi Penyakit Surra pada Ternak Pemkab Sumba Timur Lakukan Pengadaan Obat

Kadang ia juga menggunakan LPG. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia lebih sering menggunakan minyak tanah.

Ia membeli minyak tanah eceran dengan harga tinggi dari agen resmi karena keterbatasan akses.

Selama ini, kata dia, ia membeli minyak sebanyak tiga jeriken masing-masing 5 liter dengan harga satuan Rp25.000-Rp30.000. Jika membeli langsung di agen resmi, harganya hanya Rp20.000.

Ia khawatir, jika harga minyak naik, ongkos operasional usaha dan kebutuhan rumah tangga akan semakin besar dibandingkan pendapatannya.

“Kalau beli eceran kadang dapat yang Rp25.000 kadang Rp30.000 per jeriken,” ungkapnya.

Harga Minyak Tanah Stabil

Sementara itu, Eka Rawambaku (28), seorang penjaga di sebuah agen minyak tanah di Kota Waingapu, menyampaikan, hingga hari ini pasokan minyak tanah masih stabil dan tidak mengalami kenaikan harga.

Pihaknya, masih menerima pengisian sebanyak lima drum dalam seminggu. Satu drum berisi 200 liter minyak tanah.

“Pengsian di 5 drum itu seminggu sekali, harinya tergantung mereka,” kata Eka, Senin (30/3).

Dari agen, kata dia, minyak tanah dijual seharga Rp20.000 per jeriken 5 liter. Pembelinya adalah mereka yang sudah terdaftar melalui identitas resmi, umumnya warga di sekitar agen tersebut.

Mereka kebanyakan merupakan pelaku usaha mikro dan kecil di Kota Waingapu.

Ia mengungkapkan, jika harga minyak tanah naik, ia menduga para konsumen akan kembali memakai kayu api.

Ia mengatakan, banyak pengguna minyak tanah berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.

“Kalau harga minyak naik, kayaknya mereka akan cari kayu api lagi. Terutama yang mereka yang buka warung. Kelompok usaha itu banyak yang pakai minyak tanah dibanding gas LPG,” ujarnya. (dim)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.