TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Banyuwangi - Kemacetan panjang menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, dalam beberapa hari terakhir menuai sorotan dari kalangan sopir logistik. Antrean kendaraan yang terjadi sejak Sabtu (28/3/2026) dinilai tidak hanya merugikan pengemudi truk, tetapi juga berdampak luas terhadap masyarakat.
Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, menyebut kemacetan saat arus mudik dan arus balik di lintasan penyeberangan Pelabuhan Ketapang–Pelabuhan Gilimanuk sebagai kondisi yang tidak lazim.
Menurutnya, situasi tersebut membuat aktivitas logistik terhambat dan menimbulkan kerugian bagi berbagai pihak.
“Ini mengakibatkan masyarakat menjadi korban dan banyak dirugikan. Pergerakan logistik semakin terhambat. Pemakaian BBM tidak efisien karena kami harus terus menyalakan mesin kendaraan dalam waktu lama, termasuk saat antre naik ke kapal,” kata Slamet.
Baca juga: Tanpa Solusi Jangka Panjang, Macet Ketapang-Gilimanuk Disebut Jadi Bom Waktu
Warga ikut terdampak
Slamet menilai dampak kemacetan tidak hanya dirasakan para sopir truk, tetapi juga masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur utama menuju pelabuhan.
Warga yang melintas di kawasan tersebut harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan untuk melewati titik kemacetan.
Selain itu, hambatan distribusi logistik juga berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok.
Baca juga: Dalam Tiga Bulan, 10 Ibu Meninggal Saat Melahirkan di Jember
“Warga yang tidak terjebak macet juga tetap menanggung kerugian karena kemacetan berdampak pada harga kebutuhan yang bisa naik akibat logistik terhambat atau rusak,” ujarnya.
Sopir tanggung risiko kerugian
Bagi para sopir truk, kemacetan juga berdampak langsung terhadap pendapatan mereka. Biaya operasional meningkat karena pengeluaran selama perjalanan bertambah.
Uang saku yang seharusnya dapat dinikmati selama perjalanan justru habis untuk kebutuhan tambahan saat terjebak macet.
“Kami juga menanggung risiko jika barang logistik yang kami bawa rusak, hilang, atau terlambat sampai ke tujuan,” kata Slamet.
Usulan penambahan dermaga
ASLI berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kemacetan di lintasan penyeberangan Jawa–Bali.
Salah satu solusi yang mereka usulkan adalah penambahan dermaga di pelabuhan agar kapasitas layanan penyeberangan meningkat.
Baca juga: Potensi Klub Eropa Gaet Pemain Timnas Indonesia, Pilar Persija Kans Targetnya, 1 Nama Beri Isyarat
“Kebutuhan ini sudah mendesak. Kami meminta pemerintah segera hadir memberi solusi, apalagi jalur tol Probowangi juga segera tersambung,” ujarnya.
Tanpa adanya solusi jangka panjang, Slamet menilai beban akibat kemacetan justru akan terus dirasakan oleh masyarakat.
“Sekali lagi kami meminta pemerintah segera mengambil tindakan agar masyarakat tidak terus menjadi korban dan kemacetan tidak terulang yang menyebabkan kerugian,” katanya.