TRIBUNJAKARTA.COM - Melalui buku 'Beragam Seni Kehidupan di Balik Kamp Interniran', generasi muda diajak memahami perjalanan sejarah bangsa secara lebih utuh.
Demikian disampaikan Nunus Supardi saat membuka acara bedah buku terbarunya yang membahas mengenai kondisi kamp interniran dari masa pendudukan Jepang hingga revolusi di Indonesia.
Nunus menyoroti meskipun kamp interniran dihuni oleh orang Belanda di era kependudukan Jepang, peristiwa tersebut tetap merupakan bagian dari sejarah Indonesia.
“Peristiwa ini terjadi di Indonesia, sehingga jejak sejarahnya penting untuk diketahui. Jangan sampai ada anggapan bahwa karena ini peninggalan Belanda, maka tidak relevan bagi kita. Justru ini penting,” ujar Nunus saat bedah buku di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Nunus mengingatkan negara maju tidak pernah meninggalkan sejarahnya.
Menurutnya, negara seperti Belanda bisa berkembang karena menghargai warisan sejarah dari berbagai negara lain.
“Sejarah menjadi panduan agar kita tidak hanya sekadar melangkah. Jika ingin maju, sejarah tidak boleh ditinggalkan,” tambahnya.
Akademisi Universitas Indonesia, Dwi Mulyatari, menilai buku ini memberikan kontribusi besar dalam mengisi kekosongan narasi sejarah terkait kamp interniran.
Ia menjelaskan buku tersebut terdiri dari dua volume dengan pendekatan berbeda.
“Satu volume membahas detail situasi di dalam kamp, sementara yang lain lebih bersifat ensiklopedi.
Selama ini narasi sejarah tentang kamp interniran masih sangat terbatas dan parsial,” ujarnya.
Dwi juga menyoroti tantangan dalam penyusunan buku, terutama terkait sumber sejarah yang sebagian besar berasal dari Belanda.
“Memang sumber Jepang sangat sulit ditemukan di Indonesia, sehingga penggunaan sumber Belanda menjadi pilihan yang tidak terhindarkan,” jelasnya.
Sementara itu, dosen Departemen Sejarah UI, Teuku Reza Fadeli, menilai buku ini berhasil merangkai fragmen sejarah menjadi gambaran yang lebih utuh.
Ia menekankan luasnya cakupan wilayah yang dibahas dalam buku tersebut.
“Buku ini menarik karena membahas kamp interniran dari Sabang sampai Merauke, serta menghadirkan pengalaman personal yang membuat kisahnya lebih hidup,” katanya.
Sejarawan Christopher Reinhart turut menyoroti minimnya historiografi tentang kamp interniran di Indonesia.
Menurutnya, buku ini menjawab pertanyaan besar mengenai nasib orang Belanda setelah menyerahnya Belanda kepada Jepang pada 1942.
“Selama ini kita bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan orang Belanda setelah itu. Buku ini menjelaskan bahwa nasib mereka berubah drastis, bahkan berbalik 180 derajat,” ungkapnya.
Ia menambahkan buku tersebut juga menggambarkan kehidupan sehari-hari di dalam kamp, termasuk berbagai kesulitan dan pengalaman para penghuni.
“Detail kehidupan, kondisi kamp, hingga keluh kesah para interniran tergambar jelas, terutama dalam volume kedua yang mengulas tiap kamp secara rinci,” tuturnya selaku penyunting buku tersebut.