POSBELITUNG.CO - Institut Teknologi Sumatera (Itera) melalui Pusat Observatorium Astronomi Itera Lampung (OAIL) memastikan bahwa benda melintas di langit Lampung bukan fenomena alam seperti komet atau meteor.
Kepala OAIL, Dr. Annisa Novia Indra Putri, menjelaskan bahwa benda bercahaya tersebut kemungkinan besar adalah sampah satelit.
"Kalau untuk fenomena langit di Lampung yang sedang heboh saat ini bukan dari komet, tapi kemungkinan besar adalah sampah antariksa dari rocket body, tubuh roket (satelit) dari China," kata Annisa, dilansir dari Kompas.com, Minggu.
Annisa menambahkan bahwa gerakan benda tersebut berbeda dengan karakteristik komet atau hujan meteor yang biasanya memiliki jadwal periodik.
"Kami menganalisis itu bukan dari komet karena dari gerakan ataupun lintasan bahkan dari pecahan yang ada di video tersebut itu bukan ciri-ciri dari komet," katanya.
Ia juga menyoroti kecepatan benda yang terekam.
"Kalau komet kemungkinannya sangat kecil sekali bisa pecah seperti itu dan gerakan di video terlihat agak lambat," imbuhnya.
Viral di media sosial
Benda yang disebut mirip meteor, rudal hingga komet itu dilaporkan terlihat dari sejumlah titik di Lampung.
Pantauan Bangkapos.com, kabar ini di antaranya dibagikan sejumlah akun facebook, X dan Instagram.
"ADA YANG LIHAT JUGA GAK? BARUSAN BANGET! Lagi santai depan rumah, tiba-tiba warga Lampung dikejutkan sama penampakan cahaya misterius di langit sekitar pukul 20.15 WIB malam ini.Bentuknya memanjang dan bergerak cepat, mirip banget sama ekor rudal atau meteor yang melintas di balik awan!Ada yang sempat foto atau videoin?Kira-kira itu apa ya? Satelit jatuh, meteor, atau emang ada latihan militer? Coba yang di daerah Bandar Lampung, Metro, Pringsewu, atau Lamsel absen dulu, kelihatan nggak dari tempat kalian?," tulis akun FB Mochtar Syafaat pada Sabtu (4/4/2026) malam.
"Semoga lampung aman dan damai.. Meteor jatuh di langit langit lampung,, hampir dari penjuru lampung bisa melihatnya," tulis akun Facebook Budi Setiawan.
Postingan serupa juga dibagikan sejumlah akun di media sosial X.
Pun begitu dengan di Instagram.
Dengar Suara Dentuman Keras
Meoansir Tribun Lampung, suara dentuman keras mendahului penampakan benda langit misterius yang melintas di langit di sejumlah wilayah Lampung.
Fenomena tersebut terlihat jelas di langit wilayah Lampung Timur, Kota Metro, hingga Lampung Selatan, Sabtu (4/4/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Kepanikan pun melanda sejumlah warga yang melihat benda langit misterius tersebut.
Bahkan, ada warga yang mengira jika benda langit itu rudal yang nyasar.
Berdasarkan rekaman video dan foto yang beredar di masyarakat, fenomena ini diduga menunjukkan karakteristik kuat dari proses re-entry (masuk kembali) satu objek ke atmosfer Bumi.
Objek ini terlihat pecah menjadi beberapa bagian (fragmentasi) yang bergerak sejajar.
Benda langit itu memancarkan ekor berwarna oranye kemerahan yang menghasilkan pijar api yang panjang. Lalu, objek tampak bergerak lurus dan seketika menghilang.
Wanda, warga Desa Negeri Tua, Kecamatan Marga Tiga, Lampung Timur, menceritakan detik-detik saat dirinya menyaksikan benda tersebut melintas tepat di atas rumah.
"Awalnya kaget karena ada suara dentuman. Setelah saya keluar rumah, saya makin kaget melihat ada benda langit itu."
"Dalam situasi sekarang ini, kami sempat takut itu rudal salah sasaran, tapi semoga bukan," ujar Wanda kepada Tribunlampung.co.id, Sabtu malam.
Menurut Wanda, puluhan tetangganya pun berhamburan keluar rumah untuk mengabadikan momen langka tersebut.
Kepanikan juga sempat melanda warga Hindu di wilayah setempat yang tengah melaksanakan ibadah di pura saat cahaya pijar itu melintas di atas mereka.
Kausar, warga Sukadana, juga melaporkan hal serupa.
Saat sedang dalam perjalanan menuju pasar bersama putrinya, ia melihat sinar api panjang melintasi jembatan dari arah Desa Muara Jaya menuju Sukadana Jaya.
"Kalau kembang api tidak mungkin setinggi itu. Saya lihat di media sosial, wilayah lain juga nampak," tambah Wanda.
Mengapa sampah antariksa bisa jatuh ke Bumi?
Fenomena jatuhnya benda buatan manusia dari luar angkasa bukan pertama kali terjadi di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaludin, menjelaskan bahwa satelit atau sisa roket yang berada di orbit rendah (di bawah 1.000 km) terus mengalami hambatan atmosfer.
Meskipun satelit bergerak menggunakan gaya gravitasi, hambatan udara di atmosfer bawah menyebabkan efek pengereman.
Apa itu sampah antariksa?
Sampah antariksa didefinisikan sebagai bekas roket, pecahan material, atau satelit yang sudah tidak beroperasi.
Saat ini, diperkirakan terdapat lebih dari 20.000 kepingan sampah antariksa berukuran di atas 10 cm yang menyumbat orbit Bumi.
Dalam catatan Kompas.com, meski terlihat indah seperti kembang api saat terbakar di atmosfer, sampah antariksa menyimpan ancaman besar bagi misi ruang angkasa.
Kecepatan objek di orbit Bumi bisa mencapai 25.200 km/jam, atau sepuluh kali kecepatan peluru.
Astronom Universitas Arizona, Vishnu Reddy, menyebutkan bahwa energi tumbukan sangat bergantung pada kecepatan.
Sementera Kerri Cahoy, profesor dari MIT, menambahkan bahwa benda sekecil butiran cat atau fragmen seukuran kacang polong tetap bisa menyebabkan kerusakan fatal.
"Peluru yang kecil bisa menyebabkan banyak kerusakan karena bergerak dengan kecepatan cukup tinggi," tutur Kerri.
Fragmen kecil tersebut mampu meninggalkan penyok besar pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bahkan melumpuhkan sistem penerbangan penting.
Dalam hukum internasional, negara pemilik sampah antariksa bertanggung jawab atas kerugian yang ditimbulkan di negara lain.
Proses ganti rugi biasanya melibatkan jalur diplomatik antarnegara, seperti kasus jatuhnya satelit nuklir Rusia di Kanada beberapa waktu silam.
(Kompas.com/Inten Esti Pratiwi) (Bangkapos.com/Dedy Kurniawan/Tribun Lampung)