Sumber: AS Diduga Coba Bunuh Pilot Pesawat Tempurnya yang Jatuh di Iran, Pilot Kedua Masih Hilang
Ansari Hasyim April 05, 2026 10:34 AM

 

SERAMBINEWS.COM – Tuduhan mengejutkan muncul dari Iran. Amerika Serikat disebut berupaya membom dan membunuh pilot jet tempurnya sendiri yang jatuh di wilayah Iran, setelah gagal melakukan misi penyelamatan.

“Setelah gagal menyelamatkan pilot jet tempur yang ditembak jatuh dua hari lalu, Amerika berusaha mengebom dan membunuh pilot tersebut di lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyiannya,” ujar sumber tersebut, Minggu (5//5/2026).

Menurutnya, sejumlah jet tempur AS melancarkan serangan udara ke beberapa titik di kota Kohgiluyeh, Provinsi Kohgiluyeh dan Boyer Ahmad, pada malam hari. 

Baca juga: Iran Buru Pilot Jet Tempur F-15 AS yang Ditembak Jatuh, Warga Dijanjikan Hadiah jika Menemukan

Serangan itu diduga dilakukan karena AS meyakini pilot mereka berada di kawasan tersebut.

Tak hanya itu, sumber tersebut juga mengungkap bahwa Washington tengah memburu individu kedua yang disebut sebagai awak pesawat.

“Amerika sangat ingin menemukan orang kedua mereka. Karena itu, mereka mencoba menghabisinya dengan membombardir beberapa lokasi,” tambahnya.

Namun, hingga kini belum ada kejelasan apakah pilot atau awak pesawat tersebut telah berada dalam kendali pasukan Iran.

“Kami belum bisa memastikan hal itu. Tapi yang jelas, Amerika tidak mengatakan yang sebenarnya, bahkan soal pilot pertama yang mereka klaim telah berhasil diselamatkan,” tegas sumber tersebut.

Ia menambahkan, insiden jatuhnya jet tempur ini berpotensi menjadi skandal baru bagi Amerika Serikat di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

2 Pesawat dalam 24 jam

Sementara itu menurut laporan media jet tempur Amerika Serikat kembali jatuh untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari 24 jam.

Pesawat serang A-10 Thunderbolt II milik Angkatan Udara AS dilaporkan jatuh ke perairan dekat Selat Hormuz pada Jumat malam, setelah terkena tembakan dari sistem pertahanan Iran.

Meski mengalami kerusakan parah, pilot tunggal pesawat tersebut berhasil mengendalikan jet hingga memasuki wilayah udara Kuwait sebelum akhirnya melakukan eject. Ia kemudian berhasil diselamatkan dalam operasi cepat tim penyelamat.

Seorang pejabat AS yang dikutip The Washington Post mengonfirmasi bahwa insiden ini merupakan jet tempur kedua yang ditembak jatuh dalam sehari. Sebelumnya, jet F-15E Strike Eagle dilaporkan jatuh di wilayah Iran.

A-10, yang dijuluki “Warthog”, dikenal sebagai salah satu pesawat tertua namun paling ikonik milik AS, khusus dirancang untuk dukungan udara jarak dekat terhadap pasukan darat. Jatuhnya pesawat ini dinilai menjadi pukulan simbolis sekaligus operasional bagi militer AS.

Insiden di sekitar Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—terjadi hampir bersamaan dengan jatuhnya F-15E sebelumnya. Dalam peristiwa F-15E, hanya satu dari dua awak yang berhasil diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian intensif oleh tim penyelamat.

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan eskalasi serius di kawasan, dengan risiko konflik yang semakin meluas dan sulit dikendalikan.

Sementara itu sebuah jet tempur F-15 milik Amerika Serikat diklaim ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, Jumat (3/4/2026). 

Kini, sebuah “perburuan” sengit terhadap sang pilot tengah berlangsung melibatkan militer AS dan pihak Iran sekaligus.

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa kedua pihak sedang menyisir lokasi jatuhnya pesawat di wilayah strategis dekat perbatasan tiga negara: Iran, Irak, dan Kuwait. Hingga kini, nasib pilot masih menjadi misteri.

Militer Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan operasi pencarian besar-besaran. 

Sejumlah helikopter tempur Apache terlihat terbang rendah di langit Irak, disertai pesawat tempur dan drone pengintai yang turut dikerahkan untuk menemukan pilot tersebut secepat mungkin. 

Aktivitas ini viral di media sosial, meski belum ada konfirmasi resmi dari pihak militer AS.

Di sisi lain, Iran juga bergerak cepat. 

Media lokal melaporkan bahwa warga sipil diminta ikut serta dalam pencarian. 

Bahkan, otoritas setempat menjanjikan “hadiah berharga” bagi siapa saja yang berhasil menemukan atau menangkap pilot baik dalam kondisi hidup maupun mati.

“Jika Anda menangkap pilot musuh dan menyerahkannya kepada aparat keamanan, Anda akan menerima imbalan yang berharga,” demikian seruan yang beredar di media lokal Iran.

Situasi ini menciptakan perlombaan waktu antara dua kekuatan besar. 

Sementara AS berupaya menyelamatkan pilotnya, Iran berusaha menemukan lebih dulu sebagai bagian dari tekanan dalam konflik yang terus meningkat.

Dengan kehadiran jet tempur canggih dan drone di udara, kawasan tersebut kini berubah menjadi zona operasi militer intensif.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.