72 Siswa Keracunan MBG Jadi Sorotan, Ahli Epidemiologi Ungkap Dugaan Bakteri Tahan Panas 
Salomo Tarigan April 06, 2026 10:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Ahli epidemiologi menanggapi kasus keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa usai mengonsumsi menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mereka mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG dalam waktu yang hampir bersamaan di lingkungan sekolah.

Menu meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, scramble egg tofu, sayuran campur, dan buah stroberi.

Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari pola sebaran (distribusi), frekuensi, dan faktor penyebab (determinan) penyakit atau masalah kesehatan pada populasi tertentu.

Epidemiologi terkait ini bertujuan menentukan tingkat dan luas penyakit, mengidentifikasi penyebab, mempelajari riwayat alamiah penyakit, dan mengevaluasi langkah pencegahan.

Ahli epidemiologi sekaligus pakar kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, menilai kejadian ini sangat kuat mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.

“Dengan adanya 72 siswa keracunan MBG atau spageti ini, ini sangat kuat yang mengarah pada KLB keracunan pangan,” ujarnya pada Tribunnews, Minggu (5/4/2026). 


Pola Kasus Mengarah ke Sumber Tunggal 

Dalam perspektif epidemiologi, pola kejadian ini dinilai jelas menunjukkan satu sumber penyebab.

“Korban dalam waktu singkat, sumber makanannya sama, lokasinya juga terbatas di sekolah. Jadi ini jelas, point of source-nya itu jelas,” jelasnya.

Artinya, ada satu titik kegagalan dalam rantai keamanan pangan yang menyebabkan banyak siswa terdampak secara bersamaan.

Dugaan Bakteri Tahan Panas 

Dicky menyebut, penyebab paling rasional dalam kasus ini berkaitan dengan kontaminasi bakteri penghasil toksin.

“Dugaan penyebab paling rasionalnya, tentu secara klasik ini berkaitan dengan potensi bakteri penghasil toksin dari staphylococcal food poisoning,” katanya.

Bakteri ini dapat berasal dari tangan penjamah makanan yang tidak higienis.

Yang lebih mengkhawatirkan, toksin yang dihasilkan bersifat tahan panas.

“Meski dipanaskan berulang, tetap dia berbahaya,” tegasnya.

Selain itu, kemungkinan lain adalah kontaminasi bakteri dari jenis lain yang sering ditemukan pada makanan berbasis tepung seperti pasta.

“Atau bisa juga karena bacillus cereus infection, terjadi kalau makanannya dimasak terus didiamin suhu ruang terlalu lama, kemudian dipanaskan ulang,” lanjutnya.

Masalah pengelolaan suhu makanan disebut sebagai salah satu faktor paling krusial dalam kasus keracunan massal.

“Makanan tidak disimpan di suhu lebih dari 60 derajat Celcius atau kurang dari 5 derajat Celcius. Ini adalah faktor yang paling sering dalam outbreak makanan massal,” jelas Dicky.

Kesalahan pada sistem penyimpanan ini memungkinkan bakteri berkembang dan menghasilkan racun berbahaya.

 

Lebih jauh, Dicky menegaskan bahwa kasus seperti ini tidak bisa hanya disalahkan pada satu orang.

“Karena kejadian seperti ini nggak boleh dilihat sebagai kesalahan individu semata,” ujarnya.

Menurutnya, ada kegagalan sistem yang lebih besar dalam pengelolaan keamanan pangan.

Salah satunya adalah tidak optimalnya penerapan sistem pengawasan keamanan pangan.

“Melibatkan kegagalan hazard analysis critical control point,” jelasnya.

Selain itu, kualitas penjamah makanan juga menjadi perhatian.

“Buruknya kualitas food handler, tidak terlatih higien sanitasi dan juga tidak ada screening kesehatan,” tambahnya.


 Tantangan Distribusi Program MBG

Dalam konteks program MBG, skala distribusi yang besar juga dinilai menjadi tantangan serius.

“Produksi massalnya, distribusi yang kebanyak titik, sudah banyak terbukti kelemahan, kegagalan dalam cold chain logistik,” kata Dicky.

Hal ini memperbesar risiko terjadinya kesalahan dalam pengelolaan makanan.


 Dampak Lebih Luas dari Sekadar Sakit

Meski sebagian kasus keracunan makanan dapat sembuh dengan sendirinya, risiko tetap tinggi terutama pada anak-anak.

“Keracunan pangan seperti ini self-limiting, tapi ini tetap berisiko terutama pada anak-anak,” ujarnya.

Tak hanya berdampak pada kesehatan, kejadian ini juga berpotensi merusak kepercayaan publik.

“Ini bicara kepercayaan masyarakat terhadap program MBG yang semakin buruk dan semakin menurun,” jelasnya.


Audit Investigasi Menyeluruh 

Dicky menegaskan bahwa kejadian ini tidak boleh dianggap sepele.

“Harus ada investigasi menyeluruh dan lengkap, termasuk juga audit sistem dan juga perbaikan,” tegasnya.

Tanpa evaluasi serius, risiko kejadian serupa bisa kembali terjadi di masa mendatang.

Kasus ini pun menjadi pengingat penting bahwa keamanan pangan, terutama dalam program berskala besar yang menyasar anak-anak, harus menjadi prioritas utama.

SPPG Disetop Sementara

Usai kejadian tersebut, BGN langsung menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2.

BGN menyebut kondisi dapur, termasuk tata letak dan instalasi pengolahan limbah, belum memenuhi standar.

Dugaan sementara penyebab gangguan kesehatan berkaitan dengan makanan yang tidak dalam kondisi segar.

Jeda waktu antara proses memasak dan konsumsi disebut berpotensi menurunkan kualitas makanan.

Baca juga: Usai Santap Makan Bergizi Gratis Masuk Rumah Sakit, Puluhan Siswa dan Guru Keracunan di Jaktim

Gubernur DKI Kunjungi Korban

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menjenguk siswa yang dirawat di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Duren Sawit pada Sabtu (4/4/2026).

Ia memastikan Pemprov DKI memberikan penanganan cepat dan optimal.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh siswa tertangani dengan baik dan keluarga tidak dibebani persoalan biaya pengobatan,” kata Pramono dalam siaran pers.

Hingga kini, penyebab pasti gangguan kesehatan masih dalam proses investigasi. BGN menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional dapur dan distribusi makanan.

Baca juga: Heboh Mahasiswi Korban Pelecehan Jadi Tersangka, Dituduh Buka Ponsel Kepala Kantor Pos Tanpa Izin

(*/TRIBUN-MEDAN.com)

Sumber: Tribunnews.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.