TRIBUN-MEDAN.com - Ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap Iran agar membuka Selat Hormuz untuk jalur pelayaran energi, semakin mendekati tenggat waktu yang ditentukan.
Trump memberikan deadline pada Selasa (7/4/2026) pukul 20.00 waktu Washington DC, atau Rabu (8/4/2026) pukul 07.00 WIB. Dalam ultimatumnya, Trump mengancam akan menghancurkan Iran dalam satu malam.
Jelang tenggat waktu yang ditentukan, militer Israel mengeluarkan peringatan terhadap warga sipil Iran agar tidak bepergian menggunakan kereta api.
Dalam pesan berbahasa Persia, Selasa (7/4/2026), militer Israel (IDF) menyatakan bahwa kehadiran warga di kereta api maupun di sekitar rel dapat membahayakan nyawa mereka.
"Demi keselamatan Anda, kami meminta untuk tidak menggunakan kereta api atau bepergian dengan kereta api di seluruh negeri mulai sekarang hingga pukul 21.00 waktu Iran," tulis militer di akun berbahasa Persia mereka, mengutip NDTV.
"Kehadiran Anda di kereta api dan di dekat rel kereta api membahayakan nyawa Anda."
Sementara itu, Iran telah membatasi akses internet di seluruh wilayahnya selama berminggu-minggu, sehingga menyulitkan masyarakat untuk mengakses peringatan tersebut.
Namun, jaringan satelit berbahasa Persia yang beroperasi dari luar Iran tetap menyiarkan laporan tersebut, sehingga informasi dapat sampai kembali ke Republik Islam.
Iran Minta UNESCO Mengutuk Ancaman Israel
Jalur kereta api trans-Iran sepanjang 1.394 kilometer yang menghubungkan Laut Kaspia di timur laut dengan Teluk Persia di barat daya telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada 2021 karena skalanya serta kompleksitas teknik yang digunakan untuk mengatasi medan yang curam dan berbagai tantangan lainnya, menurut situs resmi UNESCO.
Menteri tersebut menggambarkan ancaman itu sebagai serangan terhadap warisan bersama umat manusia dan mendesak badan PBB segera mengambil sikap tegas guna mencegah aksi militer Israel.
Sementara itu, Israel juga melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Selasa (7/4/2026) pagi.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal ke Israel serta negara-negara Arab Teluk di sekitarnya.
Baca juga: MANTAN Analis CIA Sebut Pernyataan Presiden Trump Palsu dan Menyesatkan, Bocorkan Kegagalan Misi
Terpisah, Arab Saudi mengumumkan penutupan sementara Jembatan King Fahd jelang deadline ultimatum Trump.
Jembatan utama ini menghubungkan wilayah Kerajaan Saudi dengan Kerajaan Bahrain.
"Penutupan karena adanya peringatan keamanan yang mengindikasikan kemungkinan serangan," tulis laporan Khbrn, Selasa (7/4/2026).
"Sehubungan dengan peringatan yang dikeluarkan oleh Platform Peringatan Dini Nasional di Provinsi Timur selama beberapa jam terakhir, lalu lintas kendaraan di Jembatan King Fahd telah ditangguhkan sebagai tindakan pencegahan," demikian pernyataan Otoritas Jembatan King Fahd.
Jembatan yang dibuka pada tahun 1986 ini memiliki panjang sekitar 25 km dan lebar 23 meter.
Jembatan ini dimulai di sebelah selatan kota Al-Khobar di Provinsi Timur Arab Saudi dan berakhir di desa Al-Jasra di Bahrain.
Iran menyatakan, akan melancarkan serangan balasan jika agresi apa pun terjadi ke negaranya.
Negara-negara Arab yang menjadi sekutu AS, termasuk Arab Saudi, menjadi sasaran serangan Iran yang menyatakan itu sebagai respons balasan atas serangan AS dan Israel.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, pada Selasa mengumumkan pencegatan dan penghancuran tujuh rudal balistik yang diluncurkan ke arah Provinsi Timur Kerajaan.
Cegatan itu menghasilkan puing-puing rudal yang berjatuhan di dekat fasilitas energi.
Al-Maliki menyatakan bahwa pertahanan udara Saudi berhasil mencegat rudal-rudal balistik tersebut, dan menambahkan bahwa tim khusus terus menilai kerusakan yang disebabkan oleh puing-puing di dekat fasilitas energi. (*)