- Serangan Iran yang berhasil menjatuhkan dua pesawat tempur Amerika Serikat (AS) menjadi peristiwa langka yang mengguncang kekuatan militer global.
Dalam lebih dari 20 tahun terakhir, insiden seperti ini nyaris tak pernah terjadi dalam konflik terbuka.
Dikutip dari NDTV pada Selasa (7/4/2026), Iran diduga menggunakan pendekatan berbeda dalam mendeteksi target udara, yakni tanpa mengandalkan radar konvensional.
Rekaman yang dirilis Garda Revolusi Iran (IRGC) menunjukkan penggunaan sensor optik dan inframerah (IR) untuk melacak jet tempur AS.
Sistem ini bekerja dengan membaca jejak panas yang dihasilkan mesin pesawat serta gesekan badan pesawat di udara.
Dengan teknologi electro-optical/infrared (EO/IR), operator dapat mengunci target tanpa memancarkan sinyal radar.
Sementara itu, senjata yang diduga digunakan Iran adalah rudal Majid (AD-08).
Sistem ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara di ketinggian rendah dan pertama kali diperkenalkan pada 2021.
Rudal Majid mampu menjangkau sasaran dari jarak 700 meter hingga 8 kilometer dengan ketinggian hingga 6 kilometer.
Kemampuan tersebut menjadikan sistem ini efektif sebagai pertahanan titik.
Terutama terhadap pesawat yang terbang rendah, drone, maupun rudal jelajah.
Adapun jet tempur F-15E Strike Eagle milik AS ditembak jatuh di wilayah Iran Tengah pada Jumat (3/4/2026).
Dua awak berada di dalam pesawat tersebut.
Satu berhasil diselamatkan beberapa jam kemudian, sementara satu lainnya sempat hilang dan menjadi fokus pencarian intensif.
Pesawat kedua, A-10 Warthog, juga terkena serangan Iran.
Pilotnya berhasil keluar dan tetap mengendalikan pesawat hingga mencapai wilayah udara Kuwait sebelum akhirnya diselamatkan.