TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Pelestarian bahasa daerah, khususnya Bahasa Melayu Riau, terus menjadi perhatian serius di tengah derasnya arus globalisasi yang membuat generasi muda kian jarang menggunakan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama Revitalisasi Bahasa Daerah (RBD) yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Riau dan kali ini dipusatkan di Kabupaten Indragiri Hilir pada Selasa (7/4/2026), dengan melibatkan puluhan guru SD dan SMP sebagai peserta guna memperkuat peran mereka dalam pembelajaran bahasa daerah di sekolah.
Bupati Indragiri Hilir, H Herman, hadir langsung membuka kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama RBD tersebut. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr Umi Kalsum M Hum, kemudian Kepala Dinas Pendidikan Indragiri Hilir, Abdul Rasyid, serta diikuti puluhan guru dari jenjang SD dan SMP.
"Bahasa daerah kita harus terus dilestarikan. Guru-guru harus bersemangat untuk mempertahankan bahasa daerah dalam pembelajaran kepada siswa di sekolah. Melalui kegiatan ini, kita harapkan bahasa Melayu tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat," kata Bupati dalam sambutannya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Balai Bahasa Provinsi Riau yang telah menjadikan Indragiri Hilir sebagai lokasi pelaksanaan program revitalisasi bahasa daerah. Menurutnya, program ini menjadi langkah strategis dalam menjaga jati diri budaya sekaligus memperkuat identitas generasi muda di daerah.
Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa Bahasa Melayu Riau bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga mengandung nilai adat, sopan santun, serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Jika tidak dijaga, maka bukan hanya bahasa yang hilang, tetapi juga identitas budaya masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menurunnya penggunaan bahasa daerah di kalangan anak-anak. Oleh karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan kembali kecintaan terhadap bahasa ibu melalui proses pembelajaran yang menarik dan kontekstual.
Kegiatan bimbingan teknis ini diikuti sebanyak 58 guru dari tingkat SD dan SMP di Indragiri Hilir. Para peserta mendapatkan pembekalan dari sejumlah narasumber di berbagai bidang, seperti mendongeng, komedi tunggal, pidato, penulisan cerpen, aksara Melayu, puisi, hingga tembang tradisi.
Program Revitalisasi Bahasa Daerah sendiri merupakan program berkelanjutan yang telah memasuki tahun ketiga pada 2026. Rangkaian kegiatannya mencakup penyusunan modul pembelajaran, pelatihan guru utama, pengimbasan di sekolah, hingga Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di tingkat daerah hingga nasional.
Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir menyatakan komitmennya untuk terus mendukung program ini melalui sinergi dengan Dinas Pendidikan dan satuan pendidikan. Bahkan, ke depan akan disiapkan regulasi berupa Peraturan Daerah tentang muatan lokal guna memperkuat implementasi pembelajaran bahasa dan budaya daerah di sekolah.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan dalam menghidupkan kembali penggunaan Bahasa Melayu Riau di lingkungan sekolah dan masyarakat, sehingga bahasa daerah tetap lestari dan relevan bagi generasi mendatang. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)