TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Aksi tawuran puluhan remaja terjadi di Jalan Boom Lama, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, pada Rabu (8/4/2026) sore.
Insiden tersebut sempat membuat suasana mencekam karena berlangsung di jalan raya yang masih ramai dilalui kendaraan.
Kelompok remaja terlihat saling serang dan kejar-kejaran menggunakan berbagai benda seperti kayu panjang, ranting pohon, hingga batu bata.
Aksi ini tidak hanya membahayakan para pelaku, tetapi juga pengguna jalan yang melintas di lokasi kejadian.
Sejumlah pengendara sepeda motor dan mobil bahkan terpaksa memperlambat laju kendaraan, bahkan berhenti, karena jalan dipenuhi remaja yang terlibat bentrokan.
Baca juga: Fakta Baru Begal Sadis di Halmahera Semarang, Ternyata Cuma Gegara Pelaku Kehabisan Miras Congyang
Kericuhan bermula saat sekelompok remaja berkumpul di pinggir jalan menjelang sore hari.
Beberapa di antaranya telah menyiapkan sarung yang dililit menyerupai cambuk sebagai alat untuk saling menyerang.
Situasi semakin memanas ketika mereka mulai saling mengejek dan berlarian di sepanjang jalan.
Meski sempat diperingatkan oleh warga sekitar agar membubarkan diri, para remaja justru mengabaikannya hingga akhirnya bentrokan tak terhindarkan.
Tawuran berlangsung semakin brutal ketika para pelaku mulai saling menyerang menggunakan sarung yang telah dimodifikasi serta kayu panjang.
Bahkan, beberapa remaja terlihat menutup wajah dengan kain untuk menghindari serangan.
Kejar-kejaran terjadi di tengah jalan aktif, disertai teriakan dan suara benturan yang menambah kepanikan di sekitar lokasi.
Warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, sebagian tampak khawatir, sementara lainnya merekam kejadian tersebut.
Seorang warga setempat, Puji (35), mengungkapkan bahwa aksi tawuran seperti ini kerap terjadi, terutama saat musim layangan.
“Ya biasa kalau musim layangan memang sukanya tawuran begitu.
Kalau sore, masih anak-anak, bawa kayu panjang-panjang,” kata dia ketika ditemui Tribunjateng.com.
Ia menyebut jumlah pelaku lebih dari 20 orang, dengan usia mulai dari anak SD hingga SMP.
Pemicu utama tawuran tersebut adalah perebutan layangan putus yang jatuh di suatu wilayah.
“Misal ada layangan putus, pada ngejar, terus rebutan.
Kadang juga saling nantang,” tambah Puji.
Puji mengaku merasa resah karena lokasi tawuran berada tepat di depan rumah dan tempatnya berjualan.
“Saya takut, anak saya masih kecil-kecil. Kayunya panjang banget, sampai diputar-putar,” ungkap dia.
Karena aksi tidak kunjung reda hingga menjelang waktu Magrib, ia akhirnya berinisiatif membubarkan para remaja dengan menyiram air.
“Tadi mulai sekitar jam 4, selesai itu azan Magrib.
Tak siram pakai air baru pada kabur,” katanya.
Menanggapi kejadian tersebut, Kapolsek Semarang Utara, Heri Sumiarso, menyatakan pihak kepolisian telah menerima laporan warga dan langsung melakukan penanganan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Anggota sudah saya suruh lidik ke TKP,” tegas dia. (rez)