Jakarta (ANTARA) - Pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan berharap agar pemerintah memperkuat produksi kedelai lokal guna mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.

"Bukan kita jelekkan di sini. Memang, sekarang kedelai lokal sudah bagus-bagus, tapi kualitas ukurannya masih kecil, masih besar kedelai impor," kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori (57) saat ditemui di rumah produksi di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta Selatan, Kamis.

Dia mengatakan dari segi harga, kedelai lokal terbilang lebih tinggi dari kedelai asal Amerika Serikat.

Apabila hanya mengandalkan kedelai lokal, kata dia, maka dikhawatirkan kebutuhan produksi tidak akan tercukupi.

"Kalau kita mengandalkan kedelai lokal, kita nggak cukup dalam waktu panen sekali untuk kebutuhan enam bulan ke depan," ucap Joko.

Meski demikian, berdasarkan hasil studi bandingnya ke Yogyakarta, dia menilai kualitas kedelai lokal kini semakin membaik.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah agar memperkuat dukungan terhadap petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tempe sehingga lebih berdaya.

"Yang kita harapkan, mudah-mudahan, petani kita, pemerintah kita, menteri kita mengutamakan pengrajin tempe, karena tempe itu bergelut dengan kedelai dari petani Indonesia," ujar Joko.

Sebelumnya, pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan menaikkan harga produknya seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), kemudian naik menjadi Rp70.000 per kg.

Tak hanya kedelai, kenaikan juga dialami pada harga plastik yang semula Rp32.000-Rp33.000 per kg, menjadi Rp50.000 bahkan lebih per kg.

Akibat kenaikan harga tersebut, Joko pun menyiasati dengan mengurangi berat pada produknya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi perang di Timur Tengah, karena Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Masyarakat diimbau agar tidak khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dipastikan aman dan terkendali, sehingga masyarakat diminta untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan.