Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Maluku Pamer Produk UMKM Bernilai Tinggi di Lapas Ambon
Ode Alfin Risanto April 10, 2026 07:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Siapa sangka, dari balik tembok lembaga permasyarakatan lahir beragam produk bernilai ekonomi tinggi. 

Dalam momentum Hari Bakti Permasyarakatan ke-62, karya warga binaan Se-Maluku justru tampil mencuri perhatian publik lewat bazar UMKM yang digelar di Lapas Kelas IIA Ambon pada Jumat (10/4/2026).

Sebanyak 25 stand UMKM memamerkan hasil karya terbaik warga binaan dari seluruh UPT Permasyarakatan se-Maluku. 

Baca juga: Bazar UMKM Lapas Ambon Ajang Sosialisasi, Imigrasi Bagikan Info M-Paspor, Ini Syarat dan Cara Buat

Baca juga: Ditreskrimsus Polda Maluku Selidiki Temuan Dana Hibah Pemda Malteng

Pengunjung disuguhkan beragam produk, mulai dari olahan makanan hingga komoditas khas daerah, seperti minyak kayu putih Pulau Buru, ikan garam Banda, hingga tenun Tanimbar yang sarat nilai budaya. 

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga permasyarakatan bukan sekedar tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan produktif yang mampu melahirkan pelaku usaha baru. 

Bazar dibuka oleh Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, melalui Plt. Sekretaris Kota Ambon, Robby Sapulette. 

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Peringatan Hari Bakti Permasyarakatan harus dimaknai lebih dari sekedar seremoni. 

Ini sebagai pengingat, bahwa tujuan utama pemasyarakatan ialah membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik dan siap kembali ke masyarakat.

Walikota Ambon menilai, produk-produk yang dipamerkan menjadi representasi keberhasilan pembinaan keterampilan dan kewirausahaan. 

Lebih dari itu, kegiatan ini juga dinilai memberikan efek berganda bagi perekonomian lokal. Bahwa Kehadiran UMKM dari luar Lapas yang turut dilibatkan membuka peluang kolaborasi antara warga binaan dan pelaku usaha di Kota Ambon. 

Pemerintah Kota Ambon pun menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi daerah, termasuk membuka akses bagi produk warga binaan agar dapat bersaing di pasar yang lebih luas. 

Di sisi lain, Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menyebut bazar ini sebagai bentuk transparansi kepada publik bahwa warga binaan tetap mampu berkarya dan berkontribusi. 

“Kami ingin masyarakat melihat bahwa mereka tidak kehilangan potensi. Justru di sini mereka dibina untuk menjadi mandiri dan produktif,” katanya. 

Menurutnya, keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pidana diharapkan menjadi bekal penting saat kembali ke masyarakat, bahkan berpotensi melahirkan UMKM baru di masa depan. 

Senada dengan itu, Kepala Lapas Kelas IIA Ambon, Hendra Budiman, memastikan pihaknya siap memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kota Ambon atau Pemerintah Provinsi Maluku. 

Dengan harapan produk warga binaan tidak hanya berhenti di pameran, tetapi bisa masuk dalam jaringan pemasaran UMKM daerah melalui kerja sama berkelanjutan. 

“Sebagaimana yang menjadi dorongan Pemerintah Kota Ambon, kami ingin ada kolaborasi nyata. Produk warga binaan bisa dipasarkan lebih luas dan memberikan dampak ekonomi langsung,” ujarnya. 

Tentu melalui kegiatan ini, dapat menegaskan pada publik bahwa dari balik jeruji, warga binaan tetap mampu berkarya, bangkit, dan kembali dengan kontribusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.