Setelah mencetak rekor perjalanan terjauh dari Bumi hingga 252 ribu mil atau sekitar 402 ribu km, kru Artemis II yakni Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen, akhirnya pulang ke bumi. Namun, perjalanan ini menyisakan pertanyaan besar: apa yang terjadi pada tubuh mereka setelah terpapar lingkungan ekstrem di balik orbit Bulan?
Manusia telah berevolusi selama jutaan tahun untuk hidup di Bumi. Ketika meninggalkan atmosfer, para astronot harus berhadapan dengan ketiadaan gravitasi dan radiasi tinggi yang menjadi tantangan fisik luar biasa.
Berbeda dengan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang masih sedikit terlindungi oleh magnetosfer Bumi, misi Artemis II membawa kru jauh ke luar angkasa dalam.
Dr Haig Aintablian, Direktur Medis Ruang Angkasa di UCLA, menjelaskan bahwa radiasi adalah tantangan nyata. Tanpa perisai alami Bumi, astronot terpapar radiasi energi tinggi yang dapat memicu beberapa efek seperti kerusakan DNA, gangguan saraf sampai gangguan sistem imun.
Melayang di ruang angkasa mungkin terlihat menyenangkan, namun bagi tubuh, ketiadaan gravitasi adalah sinyal kekacauan. Gravitasi sangat penting untuk mengatur fungsi tubuh manusia.
"Tubuh kita dirancang untuk hidup dalam gravitasi. Tanpa sinyal itu, telinga bagian dalam harus kalibrasi ulang, otot dan tulang digunakan secara berbeda, dan cairan tubuh bergeser ke arah kepala," ujar Dr Aintablian dikutip dari Sky News.
Dampak nyata yang sering dilaporkan meliputi:
- Pengeroposan Tulang: NASA mencatat astronot bisa kehilangan sekitar 1 persen kepadatan tulang setiap bulan di ruang angkasa jika tidak melakukan pencegahan.
- Atrofi Otot: Jaringan otot yang menipis karena jarang digunakan untuk menopang beban tubuh.
- Sakit Kepala dan Gangguan Penglihatan: Studi tahun 2024 menunjukkan 22 dari 24 astronot mengalami sakit kepala hebat akibat pergeseran cairan ke kepala.
- Mabuk Ruang Angkasa: Pusing dan disorientasi saat sistem keseimbangan tubuh mencoba beradaptasi.
baca juga
Bagaimana NASA Melindungi Astronotnya?
NASA tidak membiarkan para astronotnya berjuang sendirian. Selama misi, "dokter pribadi" atau dokter penerbangan memantau kesehatan mereka secara real-time.
Kru Artemis II menggunakan peralatan olahraga khusus untuk menjaga kekuatan otot dan kepadatan tulang. Selain itu, mereka dilengkapi dengan pemantau radiasi serta pelacak tidur dan aktivitas. Setelah mendarat, serangkaian tes biologis, mulai dari sampel darah hingga penilaian kekuatan kardiovaskular, telah menanti untuk membantu proses pemulihan.
Data dari Artemis II ini sangat krusial. Ini adalah data manusia pertama dari luar orbit rendah Bumi dalam dekade terakhir, yang akan menjadi kunci utama sebelum NASA mengirimkan manusia untuk misi lebih lama ke Bulan dan, pada akhirnya, ke Mars.





