TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gubernur Bali, Wayan Koster pastikan TPS3R di Bali yang mengelola sampah organik tak overload akibat TPA Suwung ditutup.
Wayan Koster menyebut tak ada overload terutama di TPS3R di wilayah Kertalangu, Tahura dan Padangsambian.
"Ndak (TPST overload) sudah ada tempatnya, sudah disiapkan tempat, sudah dilakukan oleh Kota Denpasar," jelas Koster usai Kunjungan Kerja Panitia Khusus (Pansus) DPR RI Rancangan UUD Tentang Hukum Perdata Internasional di Gedung Wiswa Sabha, Senin 13 April 2026.
Namun di sisi lain, Ketua Forum Swakelola Sampah Bali, I Wayan Suarta ketika dikonfirmasi, Senin 13 April 2026 menyebut sempat mengalami overload akibat kedatangan sampah organik yang membludak.
Baca juga: Rayakan Anniversary ke-6, Falala Chocolate Bali Tanam Mangrove dan Edukasi Bersama Bendega.id
"Sudah antre-antre sampai ditolak-tolak sampah masyarakat juga ditolak seperti di Sesetan ada juga sampah masyarakat Sesetan bisa dibuang ke TPS3R dan antre seperti antre orang mencari sembako," jelas Suarta.
Sementara hasil cacahan sampah organik belum dapat keluar dari gudang sebab bingung membuang hasil cacahan sampah organik di mana.
Hingga kini pun belum ada kejelasan terkait rekomendasi pembuangan cacahan organik ke Klungkung atau pada tempat bekas galian C yang mangkrak dan masih bermasalah.
"Terus mau dibuang kemana? Makanya tadi pagi juga sudah banyak teman-teman kita ditolak di sana."
"Dengan demikian jasa pengangkut sampah ini ya kalau punya gudang kalaupun disimpan tidak bisa lama-lama, gudangnya sempit apalagi jasa pengangkut sampah tidak punya gudang jadi mereka banyak yang berhenti jadi sampah masyarakat tidak terlayani," imbuhnya.
Baca juga: Viral Warga Banjar Lingga Bumi, Dalung Taruh Sampah di Seputaran Banjar, Ini Penjelasan Kaling
Tak hanya itu, kepala TPS3R Sekar Tanjung di Sanur Kauh, Sila Darma menjelaskan ia kesulitan mengelola sampah organik di tengah keterbatasan kapasitas mesin dan sumber daya manusia.
Sampah organik yang diterima setiap harinya mencapai 5 hingga 8 ton, sedangkan kapasitas mesin cacah yang ada saat ini sangat terbatas.
"Organik yang datang per hari kan ada jadwalnya. Tiap jadwal itu kurang lebih sampai 8 ton,”
“Nah, ini sudah terjadi penumpukan. Sekitar 5 sampai 8 ton itu organik per setiap jadwalnya," jelasnya pada, Senin 13 April 2026.
Baca juga: SUDAH Pengangguran, Nekat Bawa Kabur Vario Curian ke Lombok, Pelarian Finish di Tangan Polsek Dentim
Lebih lanjutnya ia mengatakan, meski progres pengelolaan secara umum berjalan normal, beban kerja meningkat karena mereka juga menampung sampah dari swakelola swasta.
"Kami masih berjalan normal. Bahkan di sini banyak swakelola swasta, sebagian pelanggan mereka kami tampung,”
“Akibatnya kami over capacity di organik. Kalau yang lain bisa kami atasi, tapi organik ini yang jadi masalah karena sekarang tidak boleh dibuang ke TPA," sambungnya.
Di sisi lain, wacana pengiriman hasil cacahan atau material komposter ke Klungkung hingga kini belum menemui kejelasan.
Hal ini membuat pihak TPS3R kesulitan mencari lahan penampung hasil cacahan yang terus menumpuk.
Sebagai solusi darurat, pihak pengelola menawarkan hasil cacahan tersebut kepada warga sebagai material urug lahan.
"Kami cari solusi dengan memberikan cacahan organik ini ke warga yang punya lahan kosong untuk urug,”
“Tapi tidak semua bisa dikeluarkan karena tidak banyak tempat yang mau menerima,”
“Akhirnya tetap ada sisa yang menumpuk karena tidak semua bisa diproses jadi kompos," bebernya. (*)