SURYA.CO.ID SURABAYA – Bagi calon jamaah haji perempuan, menunda maupun mengatur jadwal haid menjadi perhatian.
Namun perencanaan penggunaan obat penunda haid terutama saat mempersiapkan perjalanan haji tidak bisa dilakukan sembarangan.
Karena harus disesuaikan dengan kondisi dan siklus menstruasi setiap pasien.
“Jadi memang kalau untuk menunda haid biasanya sering dilakukan pasien yang memang harapannya di Tanah Suci ibadahnya bisa lancar, tidak terganggu menstruasi. Tetapi yang perlu ditanyakan kepada pasien adalah bagaimana siklus haidnya,” ungkap dr, Raditya Ery Pratama, Sp.OG., M.Ked.Klin dari RSIA Kendangsari Surabaya, Minggu (12/4/2026).
Setelah mengenali siklus haidnya, kemudian memberikan pilihan metode medis terkait kebutuhan menunda haid.
Baca juga: Breaking News: Jadwal Lengkap Haji 2026 Embarkasi Surabaya Penerbangan Dimulai 22 April
Dokter menegaskan, pemilihan metode, mulai dari pil hingga suntikan hormon, perlu melalui pemeriksaan dan konsultasi terlebih dahulu guna memastikan keamanan serta meminimalkan risiko efek samping.
“Pilihannya pun macam-macam. Ada yang dengan menggunakan misalnya pil KB kombinasi (progresteron dan estrogen), ada juga progresteron murni, dan suntikan GnRH (Gonadotropin-releasing hormone),” sebut dr. Raditya.
Pil KB kombinasi, lanjut dr. Raditya, umumnya berisi 21 tablet. Yang dapat digunakan untuk menunda haid adalah selain pil berwarna merah.
“Yang bisa digunakan pil aktifnya, sementara yang fasifnya biasanya enggak akan kita gunakan,” sebutnya.
Biasanya penggunaannya bisa dua sampai tiga hari, atau bisa satu sampai dua minggu, tergantung dengan penggunaan.
Baca juga: Tiket Dan Paspor Jemaah Dijamin Aman, Langsung Diterimakan di Asrama Haji
Sementara suntikan GnRH (Gonadotropin-releasing hormone) dapat dilakukan dengan dua kali suntikan dengan selang waktu 28 hari.
“Jadi jauh jauh hari sudah disuntik dulu. Tapi memang kami merekomendasikan yang pil KB untuk kombinasi,” sebutnya.
Dokter Raditya menyebut, sebaiknya konsultasi medis terkait kebutuhan menunda haid untuk perjalanan haji dapat dilakukan 10 bulan sebelum keberangkatan.
“Karena kita harus tahu yang akan dipilih pasien. Misal suntikan harus 1-2 bulan. Tapi pil KB kombinasi hari 1-5 setelah mentruasi,” sebutnya.
Sementara terkait efek samping, ia menjelaskan bahwa, pasien dengan darah tinggi, diabetes, riwayat penyakit jantung, memiliki resiko akan obat-obatan mengandung estrogen.
“Namanya obat pasti ada efek misal nyeri kepala, mual muntah, pusing bisa terjadi tapi tidak semua pasien mengalami,” sebutnya.
Saat kembali ke tanah air, dijelaskan oleh dokter Raditya, pengguna suntik GnRH bisa kembali menstruasi 2-3 bulan namun untuk pengguna pil KB dapat kembali menstruasi diperkirakan 2 hingga 3 hari.
“Kalau terkait pola hidup, pasti punya pengaruh namanya hormonal dan apalagi di sana pasti ada fisik yang mana kondisi capek. Jadi setelah minum obat ada resiko pendarahan. Biasanya dosisnya naik untuk meminimalkan resiko pendarahan,” tutupnya.