BOLASPORT.COM - Pembalap Red Bull KTM, Pedro Acosta, cemas dengan kompetisi MotoGP yang semakin padat akan meningkatkan risiko kecelakaan.
Pedro Acosta menyoroti bagaimana kalender balapan MotoGP semakin intens.
Dengan adanya balapan sprint dan balapan utama, 44 kali balapan sudah sangat menuntut fisik untuk para pembalap.
Jumlah seri yang berdekatan atau beruntun sudah membuat hectic.
Ditambah lagi banyaknya sesi dari latihan hingga balapan dalam kurun waktu kompetisi hanya tiga hari, setiap Jumat sampai Minggu, juga membuat pembalap harus prima sepanjang pekan.
Meningkatnya jadwal kompetisi tentu saja meningkatkan pula risiko kecelakaan.
Belum lagi jika ada kondisi cedera, semakin menyiksa sang pembalap itu sendiri.
Hal seperti ini yang ditakutkan Acosta.
Kalau balapan MotoGP begini terus, ia khawatir umur kariernya juga bisa berakhir lebih cepat.
"Menurut saya yang buruk dari kalender (kompetisi) ini adalah karier para pembalap akan lebih pendek," kata Acosta dikutip Bolasport dari Motorsport.
Acosta sendiri baru berusia 21 tahun.
Sejak debutnya pada 2024, ia baru menjalani dua musim MotoGP.
Meski begitu, pembalap Spanyol ini sudah menyadari dampak kumulatif dari format saat ini.
Selain jumlah hari kompetisi yang singkat tetapi padat, ia juga menyoroti masalah psikis pembalap.
Stres bisa memberi dampak signifikan.
"Tidak mungkin menjalani 22 minggu dengan sesi penting setiap hari di sore hari seperti (latihan Jumat), kualifikasi dan sprint, dan kemudian balapan utama," jelasnya.
"Maksud saya, (tidak ada) waktu di akhir pekan ketika Anda bisa berkata, 'Oke, saya akan keluar ke lintasan (apa adanya), saya akan mengatur kecepatan saya, selangkah demi selangkah, saya hanya akan berkendara'."
"Maksud saya, setiap hari Anda memiliki sesi penting, 22 kali per tahun."
"Ini akan mempersingkat segalanya karena tingkat stres yang dapat kita tanggung akan mencapai batasnya."
Acosta tidak mencela formatnya, tetapi lebih kepada jadwal seri balapan yang terlalu padat.
"Saya pikir balapan sprint adalah ide yang bagus. Saya pikir kualifikasi dan latihan yang lebih singkat juga merupakan ide yang bagus," katanya.
"Tetapi jika kita ingin mempertahankan pembalap selama karier yang panjang, kita tidak bisa mengambil risiko setiap hari karena ketika risikonya lebih tinggi, persentase cedera yang mungkin terjadi juga lebih tinggi."
"Hanya itu yang saya pikirkan. Bukan jumlah balapan," ucapnya menegaskan.