TRIBUN-SULBAR.COM - PT Pertamina Patra Niaga (PPN) terus memperkuat pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Komitmen tersebut dijalankan di Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BERBISIK.
Program BERBISIK merupakan singkatan dari Berdaya, Berkolaborasi Inklusif, Inovasi dan Karya.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan program ini membawa pesan kuat tentang kesetaraan, kemandirian ekonomi, dan inovasi lingkungan.
“Meski namanya terdengar pelan, BERBISIK membawa pesan lantang tentang kesetaraan dan kemandirian,” ujarnya.
Baca juga: SPMB 2026/2027 Gunakan 4 Jalur, Disdikbud Mamuju Tengah Tegaskan Semua Sekolah Wajib Patuhi Aturan
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Operasikan kembali SPBU di Tana Toraja yang Sebelumnya Terbakar
Program ini merupakan pengembangan dari Gagak Winangsih 2024, dengan konsep yang diperluas dari Collaboration Hub menjadi Inclusive Pathway.
Konsep ini menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan jalur pembangunan inklusif dan berkelanjutan.
Program ini menyasar masyarakat di Desa Balongan, Kelurahan Lemahmekar, dan Kelurahan Karangmalang yang berada di sekitar Kilang Balongan.
Program BERBISIK hadir untuk menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Di antaranya keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan bagi penyandang disabilitas, serta persoalan sampah.
Tahapan program dimulai dari pengembangan keterampilan dasar.
Selanjutnya, peserta didampingi hingga tahap profesional, kewirausahaan, hingga advokasi kebijakan.
Program ini menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.
Baik kelompok difabel maupun non-difabel diberi akses terhadap sumber daya dan penguatan kapasitas.
Dari program ini lahir sejumlah subprogram.
Di antaranya Bank Sampah Wiralodra yang mengelola sampah di Desa Balongan.
Bank sampah juga dikembangkan di Lapas Kelas IIB Indramayu dan dikelola warga binaan.
Selain itu, terdapat Kedai Kopi Teman Istimewa yang dikelola penyandang tunarungu.
Kedai ini menjadi ruang inklusi sekaligus sarana peningkatan keterampilan dan kepercayaan diri.
Program BERBISIK memberikan dampak signifikan.
Dari sisi sosial, program ini memberdayakan 155 penyandang difabel, 11 warga kurang mampu, 32 perempuan, serta kelompok rentan lainnya.
Termasuk 55 warga binaan di Lapas Indramayu.
Secara keseluruhan, lebih dari 10 ribu orang merasakan manfaat tidak langsung.
Dari aspek lingkungan, program ini mampu mengolah 1,8 ton sampah organik per tahun.
Upaya tersebut mengurangi emisi karbon hingga 223.228,8 kilogram CO2 ekuivalen per tahun.
Selain itu, sebanyak 240 liter minyak jelantah berhasil diolah setiap tahun.
Dari sisi ekonomi, program ini mencatat omzet ratusan juta rupiah per tahun.
Produk olahan sampah plastik menghasilkan lebih dari Rp270 juta.
Kedai Kopi Teman Istimewa dan workshop kreatif menghasilkan lebih dari Rp220 juta.
Sementara warga binaan memperoleh pendapatan hingga Rp74 juta per tahun.
Program ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Terutama dalam pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, pekerjaan layak, dan penanganan perubahan iklim.
BERBISIK turut mengantarkan Kilang Balongan meraih Proper Emas 2025, yang menjadi capaian kedelapan.
“Inovasi ini mendorong kesetaraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Kami berharap program ini bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain,” tutup Roberth.(*)