TRIBUNNEWS.COM - Fenomena langit selalu memiliki daya tarik tersendiri, terutama ketika menghadirkan peristiwa alam yang jarang disadari namun menyimpan keindahan luar biasa.
Salah satunya adalah hujan meteor Lyrid, sebuah peristiwa tahunan yang terjadi ketika Bumi melintasi jejak debu kosmik yang ditinggalkan oleh komet purba.
Hujan meteor lyrid sendiri dikenal sebagai salah satu hujan meteor tertua yang pernah diamati manusia, dengan catatan sejarah yang telah ada sejak lebih dari dua milenium lalu, dikutip dari https://www.rmg.co.uk/.
Fenomena ini rutin terjadi setiap tahun pada periode pertengahan hingga akhir April, menjadikannya salah satu agenda langit yang dinantikan para pengamat bintang di seluruh dunia.
Pada tahun 2026, hujan meteor lyrid diperkirakan berlangsung sejak 14 April hingga 30 April, dengan puncak aktivitasnya terjadi pada malam 21 April hingga dini hari 22 April 2026.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini memang tidak berada pada posisi paling ideal karena lebih jelas terlihat di Belahan Bumi Utara.
Namun demikian, bukan berarti tidak dapat disaksikan sama sekali.
Dalam kondisi langit yang cerah dan minim polusi cahaya, beberapa meteor tetap berpeluang terlihat dari wilayah Indonesia, terutama menjelang dini hari.
Hal ini menjadikan lyrid tetap layak dinantikan, tidak hanya sebagai hiburan visual, tetapi juga sebagai momen refleksi akan luasnya alam semesta yang mengelilingi kita.
Baca juga: Catat! Fenomena Astronomi April 2026 dari Bulan Purnama Pink Moon hingga Hujan Meteor Lyrid
Mengutip dari https://amsmeteors.org/, puncak hujan meteor lyrid diperkirakan terjadi pada malam Selasa, 21 April hingga Rabu dini hari, 22 April 2026.
Pada periode ini, jumlah meteor yang terlihat bisa mencapai 10 hingga 15 meteor per jam di lokasi dengan langit yang benar-benar gelap, dikutip dari https://www.space.com/.
Dalam kondisi tertentu yang sangat ideal, misalnya tanpa polusi cahaya dan dengan langit yang sangat jernih, jumlah meteor bahkan dapat meningkat secara signifikan.
Selain itu, lyrid juga dikenal sesekali menghadirkan meteor terang atau “bola api” (fireball) yang melintas cepat dan meninggalkan kesan dramatis di langit.
Menariknya, fase bulan pada saat puncak hanya sekitar 27 persen, sehingga tidak terlalu terang dan relatif tidak mengganggu pengamatan.
Kondisi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi para pengamat langit tahun ini.
Hujan meteor lyrid berasal dari puing-puing komet C/1861 G1 Thatcher, yang dikenal juga sebagai Komet Thatcher, dikutip dari https://www.planetary.org/.
Komet ini pertama kali diamati pada tahun 1861 dan memiliki periode orbit yang sangat panjang, yakni sekitar 422 tahun.
Secara visual, meteor lyrid tampak berasal dari satu titik di langit, yaitu di sekitar konstelasi Lyra, yang juga menjadi asal nama 'lyrid'.
Namun, sebenarnya meteor tidak benar-benar muncul dari satu titik tersebut.
Di dalam konstelasi Lyra terdapat bintang terang Vega, yang sering dijadikan acuan bagi pengamat untuk menemukan arah datangnya meteor.
Baca juga: Saat Bumi Terlihat Utuh dari Luar Angkasa, Intip Perjalanan Artemis II ke Bulan
Meskipun Indonesia berada di Belahan Bumi Selatan, peluang untuk menyaksikan hujan meteor lyrid tetap ada, meskipun terbatas.
Hal ini karena titik pancaran meteor berada cukup rendah di cakrawala jika dilihat dari wilayah selatan.
Namun, beberapa meteor tetap dapat terlihat, terutama:
Jumlah meteor yang terlihat mungkin tidak sebanyak di Belahan Bumi Utara, tetapi pengalaman menyaksikan fenomena ini tetap menarik.
Agar dapat menikmati hujan meteor lyrid secara maksimal, waktu pengamatan sangat penting.
Waktu terbaik adalah:
Tidak diperlukan teleskop atau alat khusus untuk menikmati hujan meteor.
Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu meningkatkan pengalaman:
Kesabaran menjadi kunci, karena meteor tidak selalu muncul secara terus-menerus.
(Tribunnews.com/Farra)