Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) mencatat sebanyak 258.471 lowongan pekerjaan di luar negeri melalui penempatan skema pemerintah kepada pemerintah masih tersedia.
Menteri P2MI Mukhtarudin di Jakarta, Kamis, menyampaikan hal itu merujuk pada data Surat Izin Perekrutan Pekerja Migran Indonesia (SIP2Ml) aktif per 15 April 2026, yang baru terisi 21,12 persen dari total 327.658 lowongan.
"Kita baru bisa mengisi kurang lebih 21 persen, SDM (sumber daya manusia) kita yang siap kurang lebih ada 20 persen. Masa ada kurang lebih 79 persen yang belum terisi karena kita belum siap secara kompetensi?" kata Mukhtarudin.
Berdasarkan data SIP2MI aktif dalam SISKOP2MI (Sistem Informasi dan Komputerisasi Perlindungan Pekerja Migran Indonesia), diketahui bahwa lowongan pekerjaan terbesar terdapat di sektor kesehatan yang mencapai 77.657 lowongan.
Kemudian, lowongan terbesar kedua ada di sektor pekerjaan domestik dengan 60.947 lowongan dan ketiga ada di sektor manufaktur dengan jumlah 61.866 lowongan.
Sementara itu, berdasarkan negara penempatan, Taiwan memilik lowongan terbanyak dengan jumlah 152.319 pekerjaan, Malaysia dengan 32.829 pekerjaan, Hong Kong 20.655 pekerjaan, dan Turki 18.541 pekerjaan.
Selanjutnya, merujuk data yang dihimpun Kementerian P2MI dari perwakilan Indonesia, potensi pekerjaan di luar negeri jauh lebih banyak, yakni mencapai 1.238.038 peluang.
"Ini yang harus kita persiapkan; dari sisi demand sangat tinggi, tapi dari sisi supply kita yang sangat kurang," ucap Mukhtarudin.
Lebih lanjut, Mukhtarudin menyampaikan bahwa Pemerintah telah menyiapkan beragam program jangka pendek, menengah, hingga panjang untuk menyiapkan tenaga kerja terampil sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Dalam konteks jangka pendek, terdapat program quick win bernama SMK Go Global dengan target menempatkan 80.000 peserta di luar negeri pada 2026.
Pada tahun 2029 nanti, Pemerintah menargetkan mampu menempatkan total 500.000 pekerja dengan rincian 300 ribu lulusan SMK dan 200.000 lulusan umum.
Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) tersebut akan ditempatkan untuk jabatan caregiver/careworker, welder, truck driver, hospitality, dan sektor lainnya untuk penempatan di Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, hingga Taiwan.
Kementerian P2MI juga menggandeng sejumlah perguruan tinggi agar terlibat dalam ekosistem membentuk tenaga kerja terampil.
"Perguruan tinggi punya vokasi. Kita akan bersama-bersama dengan perguruan tinggi, dengan kementerian lembaga yang memiliki politeknik, memiliki sekolah untuk banyak sektor, karena permintaan daripada skill worker atau tenaga kerja formal itu sangat tinggi," ujar Mukhtarudin.





