Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bagi pasangan Rahudin Hasan (61) dan Siti Koringah (52), bisa menunaikan rukun Islam kelima seperti mimpi. Warga Sleman ini sehari-hari hanya berjualan gudeg.
Bahkan sebelumnya Udin merupakan seorang petugas kebersihan di salah satu sekolah dasar yang gajinya habis dalam dua minggu.
Namun keinginan keduanya untuk bisa ibadah di Tanah Suci sangat kuat. Dan akhirnya mulai menyisihkan pendapatan untuk menabung.
Udin menerangkan gajinya sebagai petugas kebersihan tidak besar. Ia pun akhirnya meminjam modal untuk berjualan gudeg sekitar tahun 2009 silam.
Kala itu, ia berjualan dengan tenda di bawah pohon rambutan. Rupanya gudeg buatannya sangat disukai konsumen sehingga laris.
“Ya kemudian mulai menabung sedikit-sedikit, ya nggak mesti. Karena jualan dapatnya berapa, belanjanya berapa, dikurangi untuk tenaga, untuk sehari-hari, untuk kuliah anak, nah sisanya itu yang kami tabung. Kami nabung dari 2009, mendaftarkan haji tahun 2012,” terangnya saat ditemui di Jalan Tajem-Kadisoka 77, Maguwoharjo, Sleman, Kamis (16/4/2026).
Selain menjual gudeg, ia juga menerima titipan jajan pasar. Hasil penjualan jajan pasar itu juga menjadi tambahan untuk menabung.
Dari jumlah yang tidak menentu itu, keduanya berhasil menabung Rp 25 juta. Keduanya kemudian mencari pinjaman sebesar Rp 25 juta agar bisa mendaftar haji.
Niatnya yang kuat untuk beribadah membuatnya merasa mendapat kemudahan. Hingga akhirnya pun bisa melunasi biaya haji.
Berangkat pada 24 April 2026 mendatang, ayah satu anak itu merasa gugup.
“Rasanya deg-degan, tapi sudah siap. Sebelumnya sudah manasik haji, persiapan fisik juga susah. Kalau sore agak selo (senggang) itu jalan-jalan. Kan jualan ya udah olahraga. Terus belajar juga dari YouTube filosofi-filosofi sai, ya belajar untuk menambah wawasan,” ujarnya.
Kondisi konflik di Timur Tengah pun sempat membuatnya khawatir. Namun, ia meyakini ibadahnya berjalan lancar.
“Kekhawatiran ada, tapi ya kita pasrah saja pada Allah SWT. Niat kita ibadah, Allah yang mengatur,” lanjutnya.
Bisa naik haji tahun ini ternyata menjadi hadiah ulang tahun terindah bagi Siti Koringah. Pada 9 April 2026 lalu, ia merayakan ulang tahun yang ke-52.
“Kami nggak pernah merayakan (ulang tahun), tapi ini (naik haji) jadi kado ulang tahun,” ungkapnya.
Ia pun merasa senang bisa menunaikan ibadah haji, meski awalnya pesimis.
“Kita dulu pernah berpikir apa mungkin bisa ke sana, soalnya biayanya juga mahal. Terus kita itu cuma jualan kayak gini. Ya tidak menyangka, tapi Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan. Karena niatnya ibadah, semuanya diberikan kelancaran. Tes kesehatan juga bagus semua, alhamdulillah,” imbuhnya.
Setiap harinya, ia memanfaatkan waktu singkat untuk istirahat. Mulai 16.30, ia sudah mulai memasak gudeg hingga pukul 23.00. Setelah itu, ia tidur hingga pukul 01.30 dan melakukan persiapan untuk jualan. Pada pukul 04.00 ia sudah berada di tokonya untuk menjual gudeg dan jajan pasar.
“Alhamdulillah semuanya diberikan kemudahan. Kuncinya tu bahagia, kalau pas libur itu saya sama suami muter-muter, jalan-jalan keluar naik motor, ya sampai Kulon Progo. Pokoknya senang-senang saja. Kalau capek ya istirahat, paling ya pijet,” pungkasnya. (maw)