Rahasia Umur Panjang Mulai Terbongkar Lewat Darah Para Centenarian, Begini Temuannya
GH News April 20, 2026 12:08 PM
Jakarta -

Darah orang-orang yang berumur sangat panjang ternyata menyimpan petunjuk penting soal rahasia panjang umur. Para ilmuwan menemukan bahwa centenarian, yakni mereka yang hidup hingga usia 100 tahun, serta supercentenarian yang mencapai usia 110 tahun atau lebih, memiliki profil darah unik yang berbeda dari kebanyakan orang.

Temuan ini memunculkan harapan bahwa rahasia hidup lebih lama dan sehat bisa dipelajari melalui biomarker dalam darah.

Sejumlah penelitian menunjukkan para centenarian mulai memiliki tanda biologis yang menguntungkan sejak usia sekitar 65 tahun.

Namun, memang belum sepenuhnya dipahami apakah faktor ini dipengaruhi genetik, gaya hidup, atau kombinasi keduanya, biomarker tersebut diduga memiliki efek perlindungan terhadap penuaan dan penyakit.

Awal tahun ini, peneliti di Spanyol melakukan analisis fisiologis dan genetik mendalam terhadap Maria Branyas. Ia merupakan salah satu orang tertua di dunia yang meninggal pada usia 117 tahun.

Hasil Penelitian dari Sampel Darah

Dari sampel darahnya menunjukkan sejumlah penanda sistem imun yang sehat serta kadar kolesterol jahat yang sangat rendah. Para peneliti juga menyebut sel-selnya berperilaku seperti milik orang yang jauh lebih muda.

Menariknya, Branyas memiliki telomer yang sangat pendek. Telomer merupakan ujung kromosom yang berfungsi melindungi materi genetik.

Biasanya, telomer pendek dikaitkan dengan risiko kematian lebih tinggi.

Namun pada kelompok usia sangat lanjut, peneliti menilai telomer bukan lagi indikator utama penuaan. Bahkan, telomer yang sangat pendek diduga bisa memberi keuntungan karena membatasi perkembangan sel kanker.

"Gambaran yang muncul dari penelitian kami, meskipun hanya berasal dari satu individu luar biasa ini, menunjukkan bahwa usia yang sangat lanjut dan kesehatan yang buruk tidak terkait secara intrinsik," tulis tim peneliti yang dipimpin Eloy Santos-Pujol dan Aleix Noguera-Castells.

Penelitian Lainnya

Penelitian lain dari China yang dipublikasikan pada Juli 2025, juga menganalisis profil darah 65 centenarian di satu wilayah. Hasilnya, orang yang hidup hingga 100 tahun memiliki kadar asam lemak, alkohol lemak, dan metabolit penting tertentu yang lebih rendah dibanding kelompok usia lebih muda.

Menurut peneliti, temuan ini berpotensi digunakan di masa depan untuk membuat tes darah semacam 'jam umur panjang' yang dapat memperkirakan harapan hidup seseorang.

"Profil metabolisme plasma para centenarian dan nonagenarian berbeda secara signifikan dari dua populasi yang lebih muda," tulis para peneliti, dikutip dari ScienceAlert.

Selain itu, hasil tersebut juga dapat membantu memahami regulasi metabolisme umur panjang dan mendorong praktik klinis gerontologi di masa depan.

Darah memang menjadi jalur penting yang membawa penanda kesehatan ke seluruh tubuh. Kandungan dalam darah dapat memengaruhi organ tubuh, otak, hingga risiko penyakit dan kematian.

Meski begitu, para ilmuwan menegaskan belum ada satu pun tes darah yang saat ini mampu memprediksi secara akurat berapa lama seseorang akan hidup.

Hal ini karena umur panjang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari genetika, pola hidup, lingkungan, hingga unsur kebetulan.

Meski demikian, penelitian terhadap para superager tetap dianggap menjanjikan. Salah satu manfaat terdekatnya adalah membantu mengidentifikasi orang yang mengalami penuaan lebih cepat dan berisiko meninggal dini.

Studi pada November 2024 yang menganalisis ratusan metabolit dari sekitar 5.000 orang usia 18 hingga 110 tahun, juga menemukan tanda unik yang berkaitan dengan umur panjang ekstrem.

Peneliti menyebut banyak metabolit terkait penuaan berhubungan erat dengan nutrisi, yang berarti pola makan berpotensi menjadi kunci intervensi untuk menua lebih sehat.

Maria Branyas sendiri diketahui menjalani pola makan Mediterania yang kaya yogurt. Peneliti menduga hal ini ikut berperan terhadap umur panjangnya karena mikrobioma ususnya tergolong sangat muda.

Para ahli menilai gen memang penting dalam menentukan usia harapan hidup, tetapi bukan segalanya. Gaya hidup dan lingkungan tetap punya pengaruh besar.

Maka dari itu, penelitian soal orang-orang berusia 100 tahun ke atas diharapkan suatu hari nanti bisa melahirkan terapi atau perubahan gaya hidup yang membantu lebih banyak orang hidup lebih lama dan sehat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.