Seputar Garis Kuning Lebanon, Perimeter Israel yang Mau Dibongkar Hizbullah
Hasiolan Eko P Gultom April 20, 2026 11:35 PM

Seputar Garis Kuning Lebanon, Perimater Israel yang Mau Dibongkar Hizbullah

TRIBUNNEWS.COM - Anggota parlemen senior Hizbullah, Hassan Fadlallah, menyatakan pada Senin (20/4/2026) kalau kelompok tersebut berkomitmen untuk membongkar zona penyangga Garis Kuning yang didirikan oleh Israel di Lebanon selatan. 

Baca juga: Angka yang Bikin Israel Ketar-ketir: 690 Personel IDF Luka-luka dalam Pertempuran dengan Hizbullah

Apa itu Garis Kuning Lebanon?

Garis Kuning adalah perimeter pertahanan strategis yang baru-baru ini ditetapkan oleh militer Israel secara sepihak.

Israel membuat buffer zone ini setelah 'perang 39 hari' dan telah menjadi titik konflik baru dalam sengketa teritorial.

Israel menggambarkan zona tersebut sebagai zona penyangga yang diperlukan untuk mencegah serangan lintas batas.

Sebaliknya, Hizbullah memandangnya sebagai pendudukan ilegal atas kedaulatan Lebanon.

"Kami akan meruntuhkan Garis Kuning ini melalui perlawanan," kata Fadlallah kepada AFP.

"Upaya tentara Israel untuk membangun zona penyangga, dengan dalih garis pertahanan, garis kuning, garis hijau, atau garis merah, semua garis ini akan dihancurkan. Kami tidak akan menerima satupun dari garis-garis itu," katanya.

PEMAKAMAN - Warga menghadiri pemakaman korban tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, 24 November 2025. Serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut menewaskan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Al-Tabtabi, pada 23 November, menurut militer Israel dan kelompok Lebanon tersebut. Serangan ini merupakan pembunuhan tingkat tinggi yang semakin memperkeruh gencatan senjata yang telah berlangsung selama setahun. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam sebuah apartemen di Haret Hreik, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 28 lainnya. (Xinhua/Bilal Jawich)
PEMAKAMAN - Warga menghadiri pemakaman korban tewas dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, 24 November 2025. Serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut menewaskan komandan senior Hizbullah, Haytham Ali Al-Tabtabi, pada 23 November, menurut militer Israel dan kelompok Lebanon tersebut. Serangan ini merupakan pembunuhan tingkat tinggi yang semakin memperkeruh gencatan senjata yang telah berlangsung selama setahun. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan tersebut menghantam sebuah apartemen di Haret Hreik, menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 28 lainnya. (Xinhua/Bilal Jawich) (/Bilal Jawich)

Mau Gencatan Senjata Tapi Enggan Dilucuti

Komentar anggota parlemen tersebut mengisyaratkan potensi kembalinya permusuhan jika pasukan Israel tetap bertahan di zona-zona yang telah ditentukan.

Meskipun Fadlallah mencatat bahwa kelompok tersebut "menginginkan gencatan senjata berlanjut", ia mensyaratkan perdamaian tersebut dengan penarikan total pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Wawancara tersebut juga membahas semakin banyaknya suara yang menyerukan, baik di dalam parlemen Lebanon maupun di antara kekuatan Barat, untuk menerapkan Resolusi PBB 1701, yang mewajibkan pelucutan senjata aktor non-negara.

Fadlallah dengan tegas menolak tuntutan-tuntutan tersebut.

"Tidak seorang pun di Lebanon atau di luar negeri yang mampu melucuti senjata perlawanan," sumpahnya, seraya menyebut persenjataan Hizbullah sebagai pertahanan utama negara itu terhadap agresi Israel.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.