Seosalit Djojoadhiningrat Putra Kartini: Saya Sendiri Tak Mengenal Ibu
Moh. Habib Asyhad April 22, 2026 12:34 PM

Soesalit, putra Kartini, yang ditinggal sang ibu saat usianya baru 4 hari. Kepada Api Kartini dia bilang, dia tak mengenal sang Ibu.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -"Saya sendiri tidak mengenal Ibu, karena baru umur empat hari sudah ditinggalkan." Begitu pengakuan Soesalit Djojoadhiningrat, sebagaimana dikutip dari majalah Api Kartini No.1, Juni 1959.

Soesalit memang tidak sempat melihat wajah sang ibu, Raden Ajeng Kartini, yang meninggal empat hari setelah melahirkan dirinya. Soal penyebab kematiannya, masih menjadi perdebatan hingga sekarang.

Kepada Api Kartini, Soesalit, yang ketika itu tinggal di sebuah rumah sederhana di Kebayoran, juga bercerita tentang sang nenek, Ngasirah, ibu RA Kartini, yang adalah keturunan rakyat jelata. Ayah Kartini, RMAA Sosroningrat, memanglah seorang bangsawan. Dia Bupati Jepara. Tapi Ngasih, ibu Kartini, adalah rakyat jelata. Dia adalah putri Madirono, buruh pabrik gula Mayong -- di beberapa sumber dia juga disebut seorang guru agama.

Meski begitu, banyak dari kita yang lupa bahwa Ngasirah punya peran besar dalam perkembangan pemikiran Kartini. Ngasirah adalah inspirasi Kartini untuk "melawan" tatanan lama.

Soesalit lahir di Rembang pada 13 September 1904. Sementara sang ibu, Kartini, meninggal empat hari kemudian, 17 September 1904. Itulah kenapa Soesalit tak pernah melihat wajah ibunya secara langsung.

Karena ditinggal oleh sang ibu sejak bayi, Soesalit kemudian diasuh oleh sang nenek, Ngasirah. Dia juga pernah diasuh ayahnya, tetapi tidak lama karena RM Adipati Ario Singgih Djojoadhiningrat juga meninggal dunia ketika usia Soesalit 8 tahun.

Sejak itulah, Soesalit menjadi yatim piatu.

Soesalit kemudian dirawat oleh kakak tirinya yang tertua, Abdulkarnen Djojoadiningrat. Dia yang bertanggung jawab penuh terhadap sang adik, termasuk mempersiapkan pendidikan dan pekerjaan untuknya.

Beranjak besar, Soesalit kemudian dimasukkan ke Europa Lagere School (ELS), yang ditujukan bagi orang Belanda dan keturunan bangsawan Jawa. Pada 1919, Soesalit lulus dari ELS dan melanjutkan pendidikannya ke Hogere Burger School (HBS) Semarang.

Pada 1925, dia melanjutkan pendidikan di Recht-hogeschool (RHS), sebuah sekolah tinggi hukum kolonial yang ada di Batavia. Tapi di situ dia cuma setahun karena dia diterima sebagai pegawai pamong praja kolonial.

Berselang beberapa tahun kemudian, Abdulkarnaen, kakak tiri yang mengurus segala kebutuhannya sejak kecil, kemudian menawarkan pekerjaan baru, sebagai polisi rahasia Hindia Belanda di Politieke Inlichtingen Dienst (PID). Apa saja tugasnya, ya tentu saja memata-matai kaum pergerakan nasional juga mengantisipasi spionase asing, termasuk Jepang yang dikhawatirkan masuk ke Hindia Belanda.

Rupanya pekerjaan itu membebani jiwa Soesalit, tapi dia tetap bertahan hingga Belanda kalah dari Jepang pada 1942. Di masa pendudukan Jepang, Soesalit bergabung dengan tentara sukarela, Pembela Tanah Air (PETA).

Pada 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka. Soesalit sebagai mantan PETA kemudian bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berganti nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Selama bergabung di militer, Soesalit aktif dalam tugas mempertahankan kemerdekaan, termasuk menyusun strategi. Dia juga ditunjuk sebagai Panglima Divisi Diponegoro, yakni Panglima Divisi I Diponegoro dan Panglima Divisi III Diponegoro.

Pada September 1948, terjadi peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun yang menyeret namanya. Peristiwa tersebut merupakan pemberontakan oleh kelompok komunis, di mana tentara yang dianggap memiliki kecenderungan kiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur berhasil menguasai Kota Madiun dan sekitarnya.

Soesalit, yang memiliki hubungan dekat dengan beberapa tokoh-tokoh dan laskar-laskar kiri, dituduh terlibat dalam pemberontakan ini. Meski keterlibatannya dalam Peristiwa Madiun tidak pernah dibuktikan dan tidak melalui proses peradilan, dia dijadikan sebagai tahanan rumah.

Meski begitu, Soesalit akhirnya dibebaskan oleh Bung Karno. Dia kemudian dipindahtugaskan sebagai perwira staf Angkatan Darat di Kementerian Pertahanan.

Pada 1950, Soesalit menjadi Kepala Penerbangan Sipil, dan di masa Kabinet Ali Sastroamidjojo I (1953-1955), dia ditunjuk sebagai Penasihat Menteri Pertahanan Iwa Kusumasumantri dengan pangkat kolonel.

Soesalit Djojoadhiningrat meninggal dunia pada 17 Maret 1962 dan jasadnya dimakamkan di kompleks makam RA Kartini di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang. Walau punya peran pada masa revolusi kemerdekaan, Soesalit tidak memiliki tanda bukti veteran.

Saat meninggal dunia, dia meninggal seorang istri bernama Siti Loewijah dan putra bernama Boedi Setyo Soesalit. Boedi Soesalit menikah dengan Sri Bidjatini dan memiliki lima anak yang dinamai Kartini, Kartono, Rukmini, Samimum, dan Rachmat.

Namun, sepeninggal Boedi Soesalit, keturunan Kartini hidup dalam keprihatinan. "Hanya yang pertama yang lumayan, sedangkan Kartono mengojek, demikian pula Samimun juga jadi tukang ojek. Sementara Rukmini telah ditinggal suaminya yang bunuh diri akibat terlilit ekonomi, dan Rachmat yang menderita autis sudah meninggal," ungkap Bupati Jepara Ahmad Marzuki saat memberi sambutan pada Resepsi Peringatan Hari Kartini ke-39 Tahun 2018 di Pendapa Kabupaten Jepara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.