Jejak Siti Ismawati Made Menembus Batas Kampung Kali Susu Nabire demi Putus Penyebaran Malaria
Astini Mega Sari April 25, 2026 03:29 PM


Laporan Wartawan TrIbun-Papua.com, Calvin Louis Erari

TRIBUN-PAPUA.COM, NABIRE - Di bawah terik matahari, seorang wanita bernama Siti Ismawati Made dengan langkah tegap menyusuri lorong-lorong Kampung Kali Susu, Distrik Nabire, Kabupaten Nabire, Papua Tengah.

Bagi warga Kali Susu, Siti bukan sekadar tetangga, melainkan garda terdepan kesehatan yang membawa misi besar untuk warga setempat yaitu, memutus rantai penyebaran malaria.

Bertepatan dengan Hari Malaria Sedunia 2026, kisah Siti menjadi pengingat bahwa pahlawan kesehatan sering kali lahir dari ketulusan warga biasa.

Baca juga: Kendalikan Malaria dan TBC, Pemkab Mimika Targetkan Dua Juta Tes Tahun Ini

Wanita kelahiran Nabire, 23 Maret 1979 itu telah mendedikasikan dirinya sebagai Kader Malaria sejak tahun 2023.

Namun, tahun 2025 menjadi titik balik krusial dalam perjalanan pengabdiannya.

Wanita berdarah Bugis-Pangkep ini terpilih mendapatkan pelatihan intensif yang mengubah statusnya menjadi Kader Perkasa.

Kini, tanggung jawab Siti tidak hanya terbatas pada malaria, tetapi juga mencakup edukasi dan pencegahan TBC serta HIV/AIDS.

Bersama Puskesmas Karang Mulia sebagai pendamping, Siti mengawal delapan RT di Kampung Kali Susu.

Di wilayah ini, ia tidak bekerja sendiri, namun bahu-membahu bersama dua rekan kader lainnya yaitu, satu kader malaria dan satu sesama Kader Perkasa untuk memastikan kesehatan warga terjaga.

"Tugas kami adalah melakukan penyuluhan sekaligus pemeriksaan malaria langsung di lapangan," kata Siti dengan nada penuh semangat kepada Tribun-Papua.com, di Nabire, Sabtu (25/4/2026).

​Perjalanan Siti sebagai kader kesehatan, tidak selalu mulus.

Dia mengenang masa-masa awal bertugas pada 2023, di mana tantangan terbesar bukanlah medan yang sulit, melainkan stigma dan ketidaktahuan masyarakat.

Menurutnya, pada awal bertugas, banyak warga yang menutup pintu dan menolak diperiksa karena takut atau merasa tidak butuh.

Baca juga: Malaria Masih Jadi Raja di Mimika Sejak 2022

Namun, berkat pendekatan yang humanis dan edukasi yang berkelanjutan, kini warga menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka.

Siti menjalankan tugas ini di sela-sela kesibukannya.

Tanpa jam kerja formal, ia memanfaatkan setiap waktu luang untuk turun ke lapangan.

Jika menemukan warga yang menunjukkan gejala atau memiliki bibit malaria, Siti segera memberikan rujukan agar pasien mendapatkan penanganan medis lengkap di Puskesmas.

​Baginya, perjuangan melawan malaria bukan hanya soal mengobati, tapi soal mengubah pola pikir.

Di Hari Malaria Sedunia 2026 ini, Siti menyelipkan harapan besar bagi masyarakat Nabire.

"Saya sangat berharap masyarakat bisa menerapkan apa yang selalu kami edukasi yaitu, menjaga kebersihan lingkungan, rutin membersihkan genangan air, dan tidur menggunakan kelambu adalah kunci utama agar kita terhindar dari ancaman malaria," ujarnya.

Kisah Siti Ismawati Made adalah bukti nyata bahwa dedikasi seorang kader adalah jantung dari kesehatan komunitas.

Di tangan para kader kesehatan seperti Siti, mimpi Papua Tengah yang bebas malaria bukan lagi sekadar angan, melainkan target yang kian dekat untuk dicapai. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.