Selain Faktor Ekonomi, Kecanduan Gadget Jadi Penyebab Ribuan Anak Putus Sekolah di Kota Bandung
Kemal Setia Permana April 27, 2026 04:48 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkap penyebab banyak anak putus sekolah meskipun datanya masih perlu diverifikasi ulang karena ada margin error cukup tinggi.

Seperti diketahui, berdasarkan pusat data dan teknologi informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen, pada awalnya jumlah anak putus sekolah di Kota Bandung tersebut tercatat ada 22 ribu, lalu turun menjadi 11 ribu anak.

Namun setelah dilakukan verifikasi ulang, pada data itu ada 1.600 yang bukan warga Kota Bandung.

Dinas Pendidikan Kota Bandung mencatat saat ini ada 7.800 anak putus sekolah, tetapi data ini juga belum final karena masih didata ulang melalui aparat kewilayahan.

"Penyebab anak putus sekolah itu, kemarin banyak yang faktor ekonomi. Jadi si anak itu sama orang tuanya daripada sekolah lebih baik kerja, misalnya jadi tukang parkir, terus dagang di pasar dan sebagainya," ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Asep Saeful Gufron, saat dihubungi, Senin (27/4/2026).

Baca juga: Dedi Mulyadi Jawab Kritik Pegiat Heritage Soal Rencana Penyatuan Gasibu-Gedung Sate

Selain itu, Asep juga mengungkap faktor lain yang telah menyebabkan ribuan anak tersebut harus putus sekolah.

Selain keterbatasan ekonomi orangtua, faktor kecanduan bermain ponsel juga ternyata menjadi salah satu penyebabnya.

"Jadi si anaknya itu, sama sekali tidak mau sekolah karena kecanduan gadget HP. Ini kondisi di lapangan seperti itu. Makanya, kita terus berupaya meyakinkan orang tua supaya anak itu mau sekolah lagi," katanya.

Sementara untuk menjamin pendidikan bagi anak yang putus sekolah di Kota Bandung tersebut, pihaknya memastikan sudah mengadakan berbagai macam program di antaranya, program kesetaraan paket A, B, dan C.

"Selain program kesetaraan, kita terus komunikasikan, kalau misalnya si anaknya dan orang tuanya mendukung masuk ke sekolah formal, kita fasilitasi karena kemarin banyak yang sudah kita fasilitasi juga," ucap Asep.

Dia memastikan, anak putus sekolah yang mengambil program kesetaraan tersebut sudah dilayani karena pola pembelajarannya dilakukan di setiap kecamatan masing-masing, kemudian pihaknya mendatangkan guru tutor.

Baca juga: Pria di Jelekong Baleendah Habisi Suami Baru Mantan Istri,  Tak Terima Menikah Lagi

"Jadi yang jelas, si anak tersebut nanti kalau mau melanjutkan itu sudah ada secara administratif dan dia minimal paham pola pembelajarannya seperti apa," ujarnya.

Sementara bagi siswa yang tidak mampu, pihaknya juga menjamin biaya pendidikan mereka agar mereka bisa tetap bersekolah dan mendapatkan ijazah supaya masa depannya bisa tetap terjamin.

"Ada yang kemarin terancam hampir putus sekolah, kita masukkan ke sekolah free tidak dipungut biaya, itu program Pemerintah Kota Bandung. Minimal si anak tersebut sekolah, itu dapat ijazah. Siapa tahu nanti nanti rubah pemikiran, dia mau kuliah kan sudah ada ijazah," kata Asep. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.