SRIPOKU.COM - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf.
Sebelumnya, Arifah mengusulkan agar gerbong khusus perempuan di KRL dipindah ke bagian tengah rangkaian demi keamanan dalam situasi darurat.
Ucapan ini terlontar saat ia mengunjungi korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur yang sedang menjalani perawatan di RSUD Bekasi.
Menurut Arifah, usulan itu ia ucapkan karena merasa gerbong ujung menjadi titik paling rawan.
Baca juga: Menko AHY Tegaskan Beda Pendapat dengan Menteri PPPA, Laki-laki dan Perempuan Jangan Jadi Korban
Pernyataannya itu menuai kontroversi dan kritik dari berbagai pihak.
Terbaru, Arifah mengakui bahwa usulan tersebut kurang tepat.
Ia pun sadar, usulannya menimbulkan ketidaknyamanan bagi publik, terutama karena disampaikan saat proses evakuasi dan suasana duka masih menyelimuti keluarga 16 korban tewas.
"Terkait pernyataan saya pascainsiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu, saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya kepada para korban dan keluarga korban," ujar Arifah dalam keterangannya, Rabu (29/4/2026), mengutip Tribunnews.com.
Menanggapi kritik yang menyebut usulannya mengabaikan keselamatan penumpang pria, Arifah menegaskan bahwa keselamatan seluruh warga adalah prinsip nomor satu tanpa memandang gender.
"Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Saya memahami bahwa dalam situasi duka seperti ini, yang menjadi fokus utama adalah keselamatan, penanganan korban, serta empati kepada seluruh keluarga," tuturnya.
Baca juga: Jumhur Hidayat Sosok Pejuang Buruh Masuk Kabinet Presiden Prabowo, Mungkin Menteri LH atau Menhub
Selain memastikan penanganan 90 korban luka dilakukan secara cepat sesuai arahan Presiden, Kementerian PPPA juga hadir untuk memastikan hak-hak anak yang kehilangan orang tua dalam tragedi ini terlindungi.
Pihak kementerian telah menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan psikologis bagi keluarga yang mengalami trauma mendalam.