Cirebon Mulai Terasa Kering, Dinas Pertanian 'Gaspol' Siagakan Pompa dan Benih Tahan Kemarau
Ravianto May 02, 2026 07:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Ancaman musim kemarau mulai terasa di Kabupaten Cirebon.

Dinas Pertanian (Distan) pun tak tinggal diam.

Berbagai langkah cepat langsung 'digaspol', mulai dari menyiagakan pompa air, mempercepat masa tanam, hingga mendorong petani menggunakan benih padi tahan kekeringan demi mencegah ancaman gagal panen.

Sub Koordinator Produksi Tanaman Pangan Distan Kabupaten Cirebon, Iwan Mulyawan mengatakan, upaya tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi dini agar dampak musim kering tidak mengganggu produktivitas pertanian.

“Langkah tersebut kami lakukan sebagai upaya pencegahan agar kekeringan tidak sampai mengganggu produktivitas pertanian,” ujar Iwan, saat berbincang dengan media, Sabtu (2/5/2026).

Ia menjelaskan, strategi awal yang dilakukan adalah memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Dinas PUTR, BBWS dan PSDAP, terutama dalam hal distribusi serta ketersediaan air.

Baca juga: Purwakarta Siaga Darurat Kemarau Panjang Mei 2026! Daerah Utara Jadi Prioritas, Air Bersih Disiapkan

“Antisipasi pertama kami berkoordinasi dengan dinas terkait seperti Dinas PUTR, BBWS, dan PSDAP terkait distribusi air serta ketersediaan air,” ucapnya.

Menurut Iwan, koordinasi tersebut menjadi kunci penting untuk memastikan suplai air irigasi tetap aman, khususnya di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan saat musim kemarau.

Selain itu, Distan juga menyiapkan berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama pompa air, baik bantuan pemerintah maupun swadaya masyarakat.

Pompa-pompa ini disiagakan agar bisa langsung digunakan ketika debit air mulai menurun.

“Kesiapan pompa menjadi salah satu langkah cepat untuk membantu petani menjaga pasokan air ke lahan sawah ketika debit air mulai menurun,” jelas dia.

Tak hanya mengandalkan sarana, Distan juga mendorong petani untuk mempercepat masa tanam.

Langkah ini dinilai penting agar tanaman padi sudah memasuki fase pertumbuhan kuat sebelum puncak kemarau datang.

“Harapannya ketika musim kemarau datang, tanaman sudah besar dan bisa lebih terselamatkan sehingga risiko gagal panen dapat ditekan,” katanya.

Selain percepatan tanam, petani juga diimbau menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, seperti Situ Bagendit dan padi gogo varietas Inpago 1 hingga Inpago 13.

Di sisi lain, potensi pertanian di Kabupaten Cirebon terbilang besar.

Berdasarkan data ATR/BPN, luas baku sawah mencapai sekitar 50.466 hektare, sementara hasil pendataan Distan mencatat luas lahan pertanian sekitar 49.690 hektare.

Dari total tersebut, sekitar 45 ribu hektare masih aktif digunakan untuk budidaya padi, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk tanaman palawija dan sayuran.

Produktivitas beras pun relatif stabil.

Iwan menyebut, rata-rata produksi beras di Kabupaten Cirebon mencapai 350 ribu hingga 360 ribu ton per tahun.

Bahkan, daerah ini masih mencatat surplus beras sekitar 90 ribu ton per tahun.

“Kalau tahun 2014 atau 2015 surplus kita masih sekitar 110 ribu ton, sekarang berada di angka 90 ribuan ton per tahun,” ujarnya.

Meski demikian, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipasi jika terjadi bencana seperti kekeringan maupun banjir yang berpotensi menyebabkan gagal panen.

Salah satunya melalui bantuan benih dari Cadangan Benih Nasional (CBN) serta pupuk organik cair non-subsidi.

“Ada juga program dukungan lain dari pemerintah, seperti dukungan perbaikan irigasi dan pompanisasi,” ucap Iwan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.