Sosok dr. Myta, Dokter Magang Meninggal Usai Tetap Bertugas saat Kondisinya Kritis, Baru Ultah ke-25
jonisetiawan May 04, 2026 02:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Kabar duka menyelimuti dunia kesehatan Indonesia. Seorang dokter muda yang tengah menjalani masa pengabdian, dr. Myta Aprilia Azmy (25), menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan kondisi kesehatan yang terus memburuk.

Kepergiannya bukan hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga memantik perhatian luas terkait beratnya beban kerja yang harus ditanggung oleh dokter magang di Tanah Air.

dr. Myta wafat pada Jumat (1/5/2026) di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, setelah sebelumnya bertugas sebagai dokter internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.

Di balik kepergiannya, tersimpan cerita panjang tentang dedikasi, tekanan kerja, dan kondisi yang kini menjadi sorotan publik.

Baca juga: Dokter Magang Unsri Diduga Meninggal Karena Beban Kerja Berlebihan, Kemenkes Akan Investigasi

Ulang Tahun Terakhir yang Kini Jadi Kenangan

Dokter muda kelahiran 13 April 2001 ini baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-25. Namun, momen yang seharusnya penuh kebahagiaan itu kini berubah menjadi kenangan yang menyayat hati.

Sang ibu, Okta Yusri, sempat membagikan doa tulus yang kini viral dan menyentuh banyak hati.

"Selamat ulang tahun yang ke-25 tahun Kakak Myta semoga panjang umur sehat murah rezeki dan bahagia serta sukses selalu nak. Selalu jadi kebanggaan kami aamiin 13 April 2001"

Unggahan tersebut kini terasa begitu pilu, menjadi doa terakhir yang mengiringi perjalanan hidup dr. Myta sebelum akhirnya berpulang.

Tumpuan Keluarga yang Hampir Menyelesaikan Pengabdian

Di mata keluarga, dr. Myta bukan sekadar anak, tetapi juga harapan. Ia disebut sebagai tumpuan keluarga yang sedang menapaki jalan panjang menuju masa depan.

Perwakilan keluarga, dr. Pebri Mahardika, mengungkapkan bahwa masa internship yang dijalani dr. Myta sebenarnya sudah hampir rampung. Ia dijadwalkan menyelesaikan program tersebut pada Agustus 2026.

“Almarhumah ini menjadi tumpuan keluarga. Sebentar lagi seharusnya menyelesaikan program internship dan menjadi dokter umum sepenuhnya,” ungkapnya dengan nada haru.

Namun takdir berkata lain. Perjalanan yang tinggal selangkah lagi harus terhenti secara mendadak.

Ilustrasi dokter.
Ilustrasi dokter. Dokter magang meninggal, dilaporkan tetap menjalani tugas jaga malam walau sudah mengalami sesak napas dan demam sejak Maret 2026. (Reader's Digest)

Tetap Bertugas Meski Kondisi Tubuh Menurun

Fakta yang terungkap kemudian menambah pilu kisah ini. dr. Myta diduga tetap menjalankan tugas jaga malam meski kondisi kesehatannya telah menurun sejak Maret 2026.

Dalam surat yang dikirimkan oleh Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, disebutkan kondisi yang memprihatinkan tersebut:

“dr. Myta telah melaporkan gejala sakit, namun tetap dijadwalkan jaga malam dalam kondisi sesak napas dan demam tinggi,” tulis IKA FK Unsri dalam surat tersebut.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai sistem kerja dan perlindungan terhadap dokter magang yang tengah menjalani masa pengabdian.

Baca juga: Dokter Magang Unsri Meninggal Diduga karena Kerja Berlebih, Sempat Tetap Jaga Meski Sakit

Beban Kerja Berat yang Diduga Melampaui Batas

Tak hanya soal kondisi sakit, dr. Myta juga diduga menjalani jam kerja yang jauh dari ideal. Alih-alih mengikuti standar 8 jam per hari, ia disebut harus bekerja hingga 12 jam sehari, khususnya saat bertugas di instalasi gawat darurat.

Ketua IKA FK Unsri, dr. Ahmad Junaidi, menjelaskan bahwa sistem kerja yang tidak berjalan optimal turut memperpanjang jam tugas para dokter magang.

”Kalau ada pasien yang belum beres penanganannya, jam kerjanya bakal diperpanjang. Padahal, mestinya penanganan itu bisa dioper ke dokter jaga berikutnya,” kata Ahmad.

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan kerja yang berpotensi menguras fisik dan mental tenaga medis muda.

Kondisi Kritis Sebelum Menghembuskan Napas Terakhir

Kelelahan berkepanjangan yang dialami dr. Myta diduga berdampak langsung pada kondisi kesehatannya. Daya tahan tubuhnya terus menurun hingga akhirnya mencapai titik kritis.

Sebelum dirujuk ke ICU di Palembang, saturasi oksigen dr. Myta dilaporkan turun drastis hingga di bawah 80 persen—sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Ia pun mengembuskan napas terakhir hanya tiga bulan sebelum masa pengabdiannya sebagai dokter internship selesai.

Seruan Evaluasi Sistem untuk Mencegah Tragedi Serupa

Kepergian dr. Myta kini menjadi alarm keras bagi dunia medis Indonesia. IKA FK Unsri mendesak dilakukan audit menyeluruh terhadap fasilitas kesehatan tempat dokter magang bertugas.

Tujuannya jelas: memastikan sistem kerja, supervisi, serta ketersediaan fasilitas benar-benar mendukung keselamatan dan kesehatan para tenaga medis muda.

Kasus ini tidak hanya tentang kehilangan satu sosok dokter berdedikasi, tetapi juga tentang perlunya perubahan agar tidak ada lagi cerita serupa terulang di masa depan.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.