BANGKAPOS.COM--Suasana belajar di SD Negeri 7 Tanjungpandan mendadak berubah menjadi kepanikan pada Senin (4/5/2026) pagi.
Puluhan siswa secara tiba-tiba mengalami keluhan kesehatan serupa, mulai dari sakit perut, mual, muntah, hingga tubuh lemas, diduga setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa ini tidak hanya mengejutkan pihak sekolah, tetapi juga memicu kekhawatiran orang tua dan perhatian serius dari pihak terkait.
Dugaan awal mengarah pada susu kedelai yang menjadi bagian dari menu MBG hari itu.
Kepala sekolah, Asti Ramdaniati, mengungkapkan bahwa kejadian bermula dari laporan seorang siswa kelas IV yang tiba-tiba muntah di lingkungan sekolah.
“Awalnya ada satu siswa yang lari ke saya dan bilang ada temannya muntah. Saya tanya penyebabnya, dia bilang kemungkinan dari air tahu atau susu kedelai yang diminum tadi,” ujar Asti saat ditemui di sekolah.
Namun, dalam hitungan menit, keluhan serupa mulai bermunculan dari berbagai kelas.
“Tidak lama kemudian laporan datang dari kelas lain. Ada yang muntah, pusing, bahkan sampai lemas. Akhirnya kami langsung kumpulkan mereka ke ruang UKS untuk penanganan awal,” jelasnya.
Jumlah siswa yang mengalami gejala terus bertambah. Dari awalnya hanya empat orang, kemudian meningkat menjadi puluhan.
“Awalnya empat orang, lalu setelah dicek ke setiap kelas bertambah jadi 22, dan terakhir mencapai lebih dari 30 siswa,” tambah Asti.
Pihak sekolah bergerak cepat dengan memberikan penanganan awal di ruang UKS. Petugas kesehatan dari puskesmas setempat juga segera datang untuk membantu.
Beberapa siswa yang mengalami gejala ringan diperbolehkan pulang setelah kondisi membaik, sementara yang lebih serius harus dirujuk ke fasilitas kesehatan.
“Ada satu siswa yang kondisinya cukup mengkhawatirkan, terus mengeluh sakit perut dan pusing, jadi langsung kami bawa ke puskesmas. Yang lainnya ditangani di sekolah,” kata Asti.
Tak hanya siswa, dua orang guru juga dilaporkan mengalami gejala serupa.
“Guru juga makan menu yang sama, jadi ikut merasakan sakit perut dan muntah. Ini yang membuat kami semakin khawatir,” ungkapnya.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak SPPG Air Saga langsung mengambil langkah cepat dengan menghentikan distribusi makanan ke sekolah lain.
Perwakilan SPPG, Ikhsan, mengatakan pihaknya tidak ingin mengambil risiko lebih besar.
“Begitu kami dapat laporan dari sekolah, distribusi langsung kami hentikan. Bahkan pengiriman ke sekolah lain seperti SMP juga kami tarik,” ujarnya.
Laporan pertama diterima sekitar pukul 09.45 WIB dari sekolah lain di wilayah yang sama, kemudian disusul laporan dari SDN 7.
“Awalnya hanya beberapa siswa, tapi dalam waktu singkat jumlahnya meningkat. Di SDN 7 lebih dari 30 siswa, sementara di SDN 23 sekitar belasan,” jelas Ikhsan.
Ia menambahkan, dugaan sementara memang mengarah pada susu kedelai, mengingat menu tersebut baru pertama kali diberikan dalam program MBG.
“Ini masih dugaan awal, karena susu kedelai baru pertama kali kita distribusikan. Tapi kita belum bisa memastikan sebelum hasil uji laboratorium keluar,” tegasnya.
Kejadian ini juga memicu kepanikan di kalangan orang tua siswa. Salah satu wali murid, Fitri, mengaku langsung datang ke sekolah setelah mendapat kabar dari sesama orang tua.
“Saya dapat kabar dari teman, katanya banyak anak sakit. Saya langsung ke sekolah dan ternyata anak saya sudah di UKS,” ujarnya.
Ia menyebut anaknya tidak mengalami muntah, namun mengalami diare.
“Anak saya tidak muntah, tapi diare. Setelah ditangani, alhamdulillah mulai membaik,” katanya.
Meski kondisi anaknya kini stabil, Fitri mengaku khawatir dan berharap ada evaluasi terhadap program MBG.
“Programnya bagus, tapi harus benar-benar diperhatikan kualitas makanannya. Kadang juga anak-anak tidak suka, jadi mubazir,” ungkapnya.
Pihak sekolah dan SPPG kini menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.
Sementara itu, distribusi menu serupa dihentikan sementara.
Asti menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami berharap ke depan semua pihak lebih teliti. Ini menyangkut keselamatan anak-anak. Jangan sampai terulang lagi,” tegasnya.
Hal senada disampaikan pihak SPPG yang memastikan akan terus memantau kondisi siswa dan melakukan perbaikan sistem distribusi makanan.
“Kami akan evaluasi total, mulai dari bahan, proses produksi, hingga distribusi. Keselamatan penerima manfaat adalah prioritas utama,” tutup Ikhsan.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa program pemenuhan gizi, meski bertujuan baik, tetap harus diiringi dengan pengawasan ketat dan standar keamanan pangan yang tinggi.
Di balik angka-angka penerima manfaat, ada keselamatan anak-anak yang tidak boleh diabaikan.
(Posbelitung.co/Dede Suhendar)